(Tanpa) Tikaman Pembubar Miss World

BANNER-YUSUF-MAULANA

KEJADIAN hampir 40 tahun lalu itu berulang. Subjeknya masih sama: umat Islam. Peringkat masih pertama di negeri ini: umat mayoritas. Wibawa suara tidak kunjung berubah: diabaikan penguasa.

Kalender masih ada pada angka 1974. Pemerintahan Soeharto bergeming dengan suara-suara umat Islam. Suara-suara pemuda turun ke jalan memprotes pergelaran Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Jakarta. Sayang, Soeharto kala itu kadung akrab dengan kalangan Nasrani. Jangankan suara pemuda, suara para tokoh seperti M.Natsir, H.M. Rasjidi, dan banyak eksponen ulama karismatik umat pun diabaikan. Didiamkan seolah tidak pernah ada pengaruh besar jasa mereka bagi negeri ini.

Mengapa perhelatan DGD ditolak? Meski statistik tidak sampai sepuluh persen, sebuah keberanian umat Nasrani di Indonesia melangsungkan acara di negara berpenduduk mayoritas Muslim. Dengan dukungan jejaringnya di lingkaran Soeharto, misalnya T.B. Simatupang (kala itu juga salah satu ketua DGD), mereka percaya diri melangkah. Rencana nyaris sempurna dan didukung Soeharto.

Besarnya dukungan Soeharto tidak main-main. Wacana kerukunan antaragama yang digaungkannya menjadi senjata untuk memperbolehkan acara DGD di Ibu Kota. Jenderal-jenderal militer loyalisnya, yang umumnya Islamofobia, mengondusifkan penghempasan aspirasi umat Islam. Persiapan terus berjalan, bila sesuai rencana, setahun berikutnya, yakni 1975, Sidang Raya DGD dibuka.

Meski suara-suara umat Islam diabaikan begitu saja oleh penguasa, amat menarik terjadi di sana. Semua komponen umat bisa bersatu. Bersyukur, kala itu Gus Dur atau Cak Nur, yang pada dekade berikutnya fasih sebagai juru bicara kelompok minoritas, belumlah menjadi sosok ‘besar’ dan terpandang. Suara umat satu, bisa berjamaah untuk mengkritik langkah Soeharto.

Ikhtiar umat nyaris kandas, dan tinggal berhitung bulan pelaksanaan Sidang Raya DGD hadir. Sebuah tamparan kala itu, meski hari ini banyak anak negeri di sini memandangnya sebagai bukti toleransi. Boleh jadi, mereka yang alami era 1970-an itu terlalu fanatik, dan kita sekarang terbilang toleran. Tapi jangan bangga. Bisa jadi kemungkinan kedua yang berlaku di hadapan Allah, mereka yang hadir pada era 1970-an lebih mengerti sendi agama sehingga cemburu membela Islam begitu tinggi; adapun kita saat ini, sudah kadung termakan dengan buaian hidup toleransi, pluralisme, kemajemukan, dan omongan yang sering kali tidak sinkron dengan jiwa agama sendiri.

Rasjidi, intelektual sekaligus ulama terpandang dekade itu, harus angkat suara dan pena. Ditulisnya Sidang Raya DGD di Jakarta 1975 – Artinya Bagi Dunia Islam melalui penerbitan Dewan Dakwah Islamiyah. Tulisan Rasjidi tegas: Sidang Raya DGD tidak lebih agenda pemurtadan umat Muslim di Indonesia. Bahkan, disebutnya, paralel dengan kolonialisme.

Sebelum itu, Natsir yang merupakan tokoh disegani di dunia Islam, lebih dulu menuliskan topik serupa. Melalui salah satu muridnya yang menghimpun topik relasi Islam dan umat Nasrani di sini, lahirlah Islam dan Kristen di Indonesia (1969). Napasnya masih sama: waspada dengan cara-cara pemurtadan.

Seiring jatuhnya Orde Lama dan hadirnya Orde Baru, proyek pemurtadan marak. Tokoh-tokoh umat seperti Natsir dan Rasjidi terpanggil untuk berjuang tidak semata di pentas politik. Sidang Raya DGD di Jakarta bukan sebuah acara biasa; bukan semata penarik devisa—kalau meminjam istilah klise birokrat kita hari ini.

Meski kekuatan Islam-politik saat itu sudah kadung dihabisi, cemburu pada api Islam belumlah pudar. Bukan hanya ada di dada Natsir atau Rasjidi, tapi juga rakyat biasa. Hasyim Yahya, salah satunya. Jengah dengan tulinya penguasa Orde Baru terhadap masukan dan aspirasi umat Islam (padahal, Umat Islamlah yang menopangnya untuk naik sebagai presiden, setelah lebih dulu getol menghadap kekuatan komunis), Hasyim Yahya tidak mau bergeming di Surabaya, kota mukimnya selaku pengusaha.

Hasyim tahu bagaimana hasil yang diperbuat saudara-saudaranya yang mendemo penguasa. Nihil. Tapi panggilan Qur`an begitu menancap di dada. Terlebih anutan umat semacam Rasjidi membakar militansi umat untuk mencintai agama dan negerinya dari kaki tangan penjajah. Hasyim pun punya rencana.

Tikaman Pengubah

Juli 1974, berangkatlah Hasyim ke Ibu Kota. Bersama beberapa saudara seiman yang tidak sampai sehitungan jemari tangan kanan. Didatanginya penginapan (hotel) tempat salah seorang pemuka DGD di Jalan Arif Rachman Hakim. Naluri Hasyim berjalan. Maklum saja, dia terbiasa berhitung untung-rugi. Dia menyamar hingga berhasil memasuki ruang penginapan. Tiada senjata apalagi bom. Dia bukan kaki tangan aparat pemerintah semacam Densus 88 sekarang. Dia juga bukan komprador lembaga negara yang kerap bikin kisruh agar isu terorisme undang kucuran dolar dari luar sana.

Hasyim yang kala itu masih muda dapati seorang aparat berjaga. Sumber resmi di kemudian hari sebutkan aparat itu seorang Muslim juga. Masa itu, ukuran agama tidak relevan. Militer ‘hijau’ masih amat asing adanya. Yang bejibun, loyalis para jenderal anti-Islam seperti Ali Moertopo dan L.B. Moerdani. Aparat militer penjaga itu, versi resmi kepolisian, dibunuh Hasyim dan kawan-kawannya, sebelum akhirnya nyawa Eric Constable pun meregang di tempat yang sama.

Siapa Eric? Dia bukan sosok biasa; dia pendeta Gereja Anglikan asal Australia. Kabar dari Jakarta itu mengagetkan. Pihak penyelenggara, terutama dari DGD, memandang kematian Constable merupakan sinyal membahayakan kegiatan mereka. Putusan pun dibuat. Sidang Raya ke-5 DGD pun akhirnya dipindahkan ke Nairobi, Kenya.

Bukan peralatan canggih. Bukan pula aksi bermodalkan bom. Terlampau jauh semua itu. Cukup dengan sebilah pisau menghempaskan nyawa tokoh yang bersiap ‘menyelamatkan gembala tersesat‘ di Indonesia. Tidak perlu rapat repot; tidak butuh mobilisasi. Keberanian bersahaja demi memenuhi panggilan hati. “Saya hanya melaksanakan perintah Quran,” kata Hasyim. Putusannya bulat meski itu perbuatannya Hasyim haru dibui. Menariknya, aparat kepolisian kala itu menyebut Hasyim sosok ‘tekena penyakit syaraf’. Sebuah tudingan yang jelas tidak akan diakui Hasyim. Hasyim boleh saja dituduh ‘merampok’ dan ‘syaraf’, tapi ini tidak lebih permainan aparat agar kasus sensitif tersebut tidak mengguncang ihwal kerukunan yang dicanangkan Soeharto.

Hari ini, nyaris empat dekade kemudian, perhelatan yang juga undang kemarahan umat Islam hadir. Memang, berbeda di masa Hasyim Yahya, ajang kontes kecantikan sejagat hadirkan pro-kontra. Manusia Indonesia, Muslim mengaku ‘ulama’dan cendekiawan sekalipun, tidak sedikit yang bersuara mendukung. Demi promosi pariwisata, demi devisa, demi dolar, demi nama harum bangsa, demi dan demi yang lainnya yang salah satunya: ini bukan negeri padang pasir. Tidak tahu, lantaran apa mengaitkan padang pasir dengan para penentang kontes kecantikan.

Demo demi demo menolak kontes buka aurat itu, hanya lahirkan kebisuan penguasa. Suara-suara tokoh memang masih ada, sayangnya kadang dibantah saudaranya sendiri yang memilih berbeda. Tiada lagi kekompakan di antara para alim ulama seperti di masa Hasyim Yahya. Bila dahulu yang kompak seirama saja buntu hasilnya (sebelum pisau Hasyim Yahya bicara), apalagi sekarang yang banyak umat kadang merasa tahu dan melecehkan alim yang menolak kontes kecantikan tersebut. Ada yang namanya islami, tapi berkicau di Twitter begini, “Metallica boleh tampil di Jakarta, kenapa Miss World tidak? Aku dukung KESETARAAN.” Masih banyak suara serupa, termasuk tokoh yang telanjur dicap ‘islami’. Karena centang perenang begini, bisa diprediksi bagaimana reaksi penguasa, termasuk juga pemegang modal—nama yang menjadi promotor acara—terhadap ketidakkompakan dalam urusan yang menurut penyinis suara anti-kontes itu sebagai “remeh-temeh”.

Hasyim Yahya sendiri pernah berujar, seperti dilansir di sebuah situs islamis, bahwa ajang kontes itu tidak lain adalah “proyek deislamisasi”. Tidak ada yang berubah dari kemilitansian lelaki yang kini sering dipanggil ustad.

Saya menduga, Hasyim Yahya sejatinya tahu kondisi kesamaan congeknya telinga penguasa di era mudanya dan masa tuanya. Dulu dia berlaku sunyi, tanpa gaduh dengan sebilah pisau mampu hentikan ajang internasional. Kini, dia terbuka, dan saya yakin pengalaman mengajarkan untuk arif. Terlampau banyak rekayasa yang menjerat para saudara seimannya dengan tudingan tanpa dosa saat ini. Cara serupa di masa lalu untuk gagalkan acara di Bali, sama artinya menyiapkan saudara Muslim yang lain untuk dihinakan.

Memang itulah lagak penguasa; berdiam dengan maksiat selagi potensial (katanya) hadirkan devisa. Saat yang sama, ada aparat di bagian tukang jual isu terorisme, berharap ada radikalisme di kalangan pemuda Muslim. Dikait-kaitkan dengan soal penolakan Miss World lantas berujung penggerebekan dan pembunuhan. Beruntung, Hasyim Yahya lahir hanya di era L.B. Moerdani, bukan di era Densus 88 dan ulama penjual ayat suci.

Bila penguasa tidak suka dengan kekerasan, semestinya potensi yang mengundang kekerasan sudah harus dienyahkan. Bukan terus dipelihara dengan atas nama Pancasila atau bahasa tidak membumi lainnya. Sebilah pisau, atau apa pun cara mengekspresikan ketidakpuasan, semua ini hanya reaksi. Boleh saja kita tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh seperti ini. Hanya saja, memandang mereka sebagai penyebab utama kekerasan, rasanya nalar dan suara hati ini mau ditaruh di mana. Maka,ajang ataupun acara yang jelas-jelas bertentangan dengan esensi negeri berketuhanan dan berkemanusiaan ini harusnya dikembalikan dengan semangat awal membangun negeri. Lihatlah bagaimana amanat di Pembukaan UUD kita? Kita merdeka karena rahmat Tuhan, lantas inikah cara kita mensyukurinya dengan mengatasnamakan perbedaan sikap atas ajang Miss World di Indonesia adalah rahmat?

[Sumber]

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

One thought on “(Tanpa) Tikaman Pembubar Miss World

  1. kalau umat islam mengadakan pertemuan antar petinggi agama atau tokoh agama di jakarta lalu dibunuh sama halnya pendeta dari australia berdasarkan cerita diatas bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s