Wahai Penghina Mujahidin, Memangnya Kalian Siapa?!!

soldiers of allah

Pada beberapa hari ini, kami mendengar ungkapan-ungkapan aneh dan pemikiran-pemikiran mengherankan yang keluar dari orang-orang yang muncul dalam banyak saluran televisi. Mereka bicara tentang urusan-urusan umat ini dengan ungkapan-ungkapan yang tidak jelas, namun mereka mengira suatu hal yang sangat jelas.

Pada hari ini, tidak ada kesibukan yang lebih menyibukkan manusia kecuali berkomentar tentang Ahli Jihad (mujahidin); celaan, membuat keraguan, pengaburan, penghinaan, penelantaran, dan menyebarkan berita dusta.

Banyak komentar dan perkataan yang memakai baju istilah ‘kritik konstruktif (membangun)’, ‘nasihat seorang saudara’, dan ungkapan-ungkapan lainnya. Sekilas, terlihat penuh kasih sayang, namun di dalamnya menyimpan kejahatan, keburukan, dan makar (tipu daya), ataupun pembodohan.

Sangat mengherankan! Seseorang yang tidak ikut berjihad, bagaimana ia bisa mengkritik para mujahidin dengan ungkapan, “Kalian telah berbuat salah, kalian telah berbuat ini, kalian telah meninggalkan itu, kalian … kalian …!” Siapa engkau ini, sehingga berani berbicara kepada para mujahidin, “Kalian ….”?!!

Mereka mengatakan, “Menurut kami, ini tidak boleh ….” Siapa kalian ini, sehingga kalian berani mengatakan, “Menurut kami ….”?!!

Bagi para mujahidin, tidak ada yang lebih mereka utamakan kecuali urusan jihad! Para mujahidin, mereka mereduksi seluruh ajaran agama dalam jihad, bukan dengan dakwah, ilmu, membangun yayasan, terlebih lagi negara … Semua perhatian mereka tertuju kepada jihad. Para mujahidin membunuh orang-orang tidak berdosa?! Para mujahidin tidak paham realitas?! Para mujahidin menggunakan kekerasan?!

Sungguh, seorang manusia pasti akan merasa malu untuk menjawab mereka hanya dengan kata-kata, sementara potongan tubuh orang-orang kafir berterbangan di depan kedua matanya, lewat adegan peperangan yang ditayangkan dalam siaran televisi. Bukankah gambar lebih mengena daripada kata-kata? Seandainya kami tidak mengetahui ada orang-orang yang tidak berdosa—yang dengan kepolosan dan kesederhanaannya—membenarkan perkataan mereka—orang-orang dungu tersebut, niscaya, kami tidak akan memberatkan diri untuk berpayah-payah menjelaskan semua ini. Akan tetapi,

Jika tidak ada kecuali lisan-lisan yang tersusun

Tidak ada yang bisa diperbuat dalam kondisi darurat

kecuali melakukannya

Mari kita berjalan bersama mereka—para kritikus tersebut, selangkah demi selangkah. Akan kami jelaskan komentar-komentar tidak layak mereka yang hanya bisa menipu orang-orang dungu!

Mereka berkata: Para mujahidin tidak bisa membangun yayasan, terlebih lagi negara!

Siapa yang bilang kepada kalian, bahwa para mujahidin pergi berjihad untuk membangun berbagai yayasan? Mereka pergi untuk memotong dan memenggal leher orang-orang kafir, serta merobek-robek tubuh mereka. Tidaklah sekali-kali mereka pergi untuk membangun yayasan-yayasan, sekolah-sekolah, ataupun kegiatan-kegiatan intelektual. Mereka adalah ahli perang dan bertempur… Apakah kalian tahu apa itu perang? Sungguh tak kusangka, salah seorang dari kalian tak pernah sekali pun menembak seekor tikus; lalu bagaimana akan menembakkan meriam ke arah orang-orang kafir?

Kemudian, apakah kalian lupa, ‘Imarah Islamiyyah (Pemerintah Islam) -yang telah dibangun mujahidin- telah berbuat sesuatu yang ‘mustahil’ dalam waktu hanya beberapa tahun? Di antaranya: menciptakan keamanan bagi darah manusia, kehormatan, dan harta benda mereka. Ladang narkoba (ophium) dimusnahkan, patung-patung dihancurkan, dan hanya Allah semata yang (boleh) diibadahi. Itu semua dilakukan di tengah keterbatasan personil, pengkhianatan teman, dan gempuran musuh. Negara mana yang lebih baik darinya di zaman ini? Ataukah harus dengan adanya riba yang dijalankan dengan terang-terangan, perzinaan, minum-minuman keras, media-media berselera rendah, lembaga-lembaga negara yang tidak produktif, penerapan undang-undang milik orang kafir, dan berbagai tindak korupsi? Apakah dengan itu semua sebuah negara bisa berdiri? -Dan apakah ratusan yayasan yang telah kalian bangun sanggup melakukan hal yang sama seperti mujahidin?-

Mereka berkata: Para mujahidin tidak paham politik!

Politik macam manakah yang lebih baik daripada memenggal dan memotong leher-leher orang-orang kafir, menangkap mereka, mengintai mereka, dan menawan pengikut-pengikut mereka bersama mereka? Ataukah, politik semacam ini tidak pantas diterapkan di zaman ini? Sebagaimana tidak pantasnya memusuhi orang-orang kafir, hijrah dari negara mereka, menawan wanita-wanita, keturunan, dan membunuh kaum laki-laki mereka?! Juga tidak pantaskah jika ada muslimah yang berhijab di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, serta tidak mau bercampur-baur dengan kaum laki-laki?! Dan juga tidak pantaskah jenggot panjang dan pakaian pendek bagi penampilan seorang muslim moderat?!

Mereka berkata: Para mujahidin menggunakan kekerasan (al-‘unf)!

Seakan-akan, komentar ini keluar dari seorang gadis pingitan yang berada dalam tempat pingitannya, yang kulitnya putih bersih tidak pernah terkena matahari, dan pipinya belum pernah ternodai—walau hanya oleh angin sepoi-sepoi. Menurut kalian, apakah yang harus dilakukan para mujahidin? Apakah kekerasan merupakan aib bagi mujahidin?! Allah berfirman dalam kitab-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitarmu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu; dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” [QS. At-Taubah: 123]

Ar-Raghib berkata dalam kitab Mufradat Alfazhil Qur’an: (الغلظة: الخشونة) al-ghilzhah: kekerasan. Apakah ada perbedaan arti, antara kata al-‘unf, al-ghilzhah, dan al-khusyunah, wahai banci? Jika Allah menggelari orang-orang yang keras itu sebagai orang-orang yang bertaqwa, lantas, gelar apa yang pantas bagi orang-orang yang bersikap lunak dan menghinakan diri di hadapan orang-orang kafir dan munafik dalam kitab Allah? Apakah hukum orang yang beriman kepada perkataan, “Aku tidak beriman dengan kekerasan (al-‘unf)”?

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” [QS. Al-Baqarah: 85]

Seolah-olah, aku melihat kalian ketika didatangi seorang tentara Amerika yang hendak memperkosa kehormatan istrinya. Dia melempari tentara Amerika itu dengan potongan-potongan kertas, sambil berkata, “Ini sebuah aib, wahai tentara Amerika … Ini sebuah aib, wahai tuan, ini sebuah kekerasan!” Padahal, ketika Allah SWT memberi wasiat kepada Nabi-Nya, Dia berfirman:

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. At-Tahrim: 9]

Apakah kalian membenarkannya? Sedangkan Nabi SAW, yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, dengan membawa kedamaian, keselamatan, keamanan, dan rasa cinta bagi kehidupan seluruh manusia, Rabbnya berfirman kepadanya dengan firman begitu rupa. Inilah pemahaman para mujahidin, dan inilah sumber referensi mereka. Mereka tidak memahami selain perkataan semacam ini. Seandainya kalian tinggal bersama mereka selama seribu tahun, dan kalian katakan kepada mereka, “Jangan kalian gunakan kekerasan,” niscaya mereka tidak akan menerima, kecuali Jibril turun dengan membawa mushaf yang baru. Dan benar, Jibril telah turun di Kuwait; dan pasukan Amerika membagikannya kepada orang-orang terkemuka Kuwait, yaitu para banci dan kerabatnya ….

Mereka berkata: Para mujahidin tidak memahami realitas!

Dulu, cap ‘tidak memahami realitas’ ini dilontarkan oleh orang-orang yang berafiliasi pada ‘Jama’ah Ikhwanul Muslimin’, terutama ditujukan kepada orang-orang yang berafiliasi pada ‘Jama’ah Salafiyah’. Namun, ketika lawannya semakin jelas, cap itu mulai kurang efektif sebagaimana mestinya. Hingga ketika para mujahidin muncul ke permukaan, semua pihak melontarkan cap itu kepada para mujahidin. Seakan-akan, cap itu adalah tumpukan beban yang membuncah dalam benak mereka, yang tidak mampu mereka tumpahkan sampai mereka menimpakannya pada orang lain. Subhanallah! Kalian … kalian yang hidup nyaman di rumah bersama keluarga, bersama anak-anak, dan ada di pangkuan istri-istri kalian, kalian merasa lebih paham daripada orang yang mengalaminya langsung?! Sungguh, realita pada hari ini ada di ‘medan-medan perang’, maka, di mana posisi kalian dari realita ini? Apakah hanya mendengar berita bisa disamakan dengan menyaksikan langsung kejadian itu? Para mujahidin telah menunjukkan kepada kalian kenyataan, akan tetapi, kenyataan itu malah diputar-balikkan, dimanipulasi, dan dipelintir; sehingga terdengar menjemukan dan membuat lesu. Para mujahidin sudah sibuk dengan kenyataan lain.

Mereka berkata: Para mujahidin membunuh orang-orang yang tidak berdosa!

mujahidin-bukan-terorisDefinisikan kepada kami, siapakah orang-orang tidak berdosa—yang kalian maksud—itu? Kemudian, datangkan bukti kalian jika para mujahidin telah membunuh orang-orang yang tidak berdosa …! Jika yang kalian maksud ‘orang-orang tak berdosa’ itu adalah para wali orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta para pengawal institusi-institusi mereka; maka, semoga Allah membinasakan ‘orang-orang tak berdosa’ kalian itu, dan semoga para mujahidin tidak menyisakan mereka seorang pun.

Adapun terhadap orang-orang tak berdosa yang sebenarnya, kami katakan, “Bukankah para mujahidin pergi meninggalkan harta benda, keluarga, dan negeri mereka untuk membela orang-orang yang tidak berdosa?”. Bisa saja bagi mereka untuk meletakkan tangan mereka (berbai’at) di atas tangan orang-orang yang kalian taruh tangan kalian di atas tangannya (penguasa murtad), supaya mereka bisa menjadi seperti kalian. Menjadi para pemegang jabatan, kekuasaan, dan menjadi orang-orang yang suka tampil di berbagai siaran televisi. Akan tetapi, mereka lebih memilih kejantanan daripada kehinaan. Mereka lebih memilih pergi berjihad untuk membela kehormatan kaum muslimin.

Kemudian, mari kita pergunakan akal kita sesaat saja. Kami katakan, “Bukankah kita dalam keadaan perang? Bukankah musuh tak henti-hentinya membuat makar kepada kita? Bukankah sangat mungkin terjadi bila ternyata, musuhlah sebenarnya yang membunuh orang-orang tidak berdosa itu? Namun, beberapa fihak melemparkan tuduhan kepada para mujahidin yang setia, untuk menimbulkan perselisihan antar sesama saudara. Akibatnya, sesama kaum muslimin akan saling berbantah-bantahan, sehingga menjadi gentarlah mereka dan hilang kekuatannya. Sudah beberapa kali para mujahidin berhasil menangkap orang-orang Inggris dan Amerika, serta agen-agen mereka yang hendak melakukan peledakan tempat-tempat umum dan juga hendak membunuh para penduduk kota. Tehniknya sama dengan yang mereka tuduhkan kepada para mujahidin. Bahkan, beberapa kali pula pemerintah berhasil menangkap orang-orang Inggris yang hendak melakukan peledakan, dan menuduhnya sebagai mujahidin. Namun, mereka segera dibebaskan, karena mereka bukan mujahidin, tetapi orang-orang Inggris yang terperdaya.

Kapan mereka akan paham dan sadar, bahwa kita sedang dalam keadaan perang? Dalam perang, ada yang dinamakan tipu muslihat, makar, kelicikan, pemecah-belahan, perobekan, dan penghambur-hamburan energi. Kapan kita belajar dari Al-Qur’an, sunah Nabi dan sirah (biografi) beliau—semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada beliau, serta sirah para sahabat—ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

Adapun, orang yang terbunuh tanpa sengaja karena kesalahan yang dilakukan pihak mujahidin, maka sesungguhnya, kesalahan semacam ini juga ada dalam pertempuran-pertempuran yang dilakukan oleh manusia paling utama, paling berakal, dan paling benar pendapatnya. Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Pada hari terjadinya perang Uhud, orang-orang musyrik mengalami kekalahan.” Iblis—semoga Allah melaknatinya—berteriak, “Wahai hamba-hamba Allah, barisan belakang…!!” Maka, barisan depan kembali mundur, mereka saling pukul dengan barisan belakang. Hudzaifah melihat hal itu, tiba-tiba dia teringat bapaknya, Al-Yaman. Maka dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, bapakku … bapakku!!” Aisyah berkata, “Demi Allah, mereka tidak bisa menghalangi dari membunuhnya sampai mereka membunuhnya.” Hudzaifah berkata, “Semoga Allah mengampuni kalian.” Lihatlah mereka, para sahabat membunuh ayah pemilik rahasia Rasulullah SAW secara salah, mereka berkumpul mengepungnya kemudian membunuhnya. Padahal, mereka berperang masih menggunakan pedang dan tombak; maka bagaimana keadaannya—menurut kalian—jika perangnya menggunakan bom dan rudal -seperti yang digunakan mujahidin pada hari ini?-

Juru bicara mereka berkata: Para mujahidin tidak memiliki ilmu syar’i!

Apa yang telah engkau perbuat dengan ilmu syar’imu, wahai orang yang sukses? Belumkah engkau membaca di universitasmu, firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah!’ Kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [QS. At-Taubah: 38-39]

Engkau diancam dengan azab yang sangat pedih. Allah telah menggantikanmu, ‘Wahai pemilik ijazah S-2’, dengan orang-orang yang tidak memiliki ijazah; agar Allah memberi kepadanya rezeki berupa kesyahidan, dan membiarkanmu berada di bawah ancaman-Nya … Syahadah (kesyahidan) tidaklah seperti syahadah (ijazah).

Belumkah engkau membaca, ‘wahai pemilik ijazah’, firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al-Ankabut: 69]

As-Sa’di Rahimahullah berkata: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, mereka adalah orang-orang yang hijrah di jalan Allah, berjihad melawan musuh-musuh mereka, dan mencurahkan segala upaya mereka dalam mengikuti keridhaan-Nya. “Benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami”, yaitu jalan-jalan yang menyampaikan mereka kepada Kami, itu disebabkan karena mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. “Dan sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” dengan pertolongan, kemenangan, dan hidayah (petunjuk). Ini menunjukkan, manusia yang paling pantas untuk selaras dengan kebenaran adalah Ahli Jihad (mujahidin). Selesai perkataan beliau Rahimahullah.

Ibnul Jauzi berkata dalam Zaadul Masir, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,” yaitu: mereka memerangi musuh-musuh Kami karena Kami. “Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami,” yaitu: niscaya kami berikan taufiq untuk menepati jalan yang lurus. Ada yang berpendapat: niscaya akan kami tambah petunjuk kepada mereka. “Dan sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” dengan pembelaan dan pertolongan. Ibnu Abbas berkata, “Maksud ‘beserta orang-orang yang berbuat baik’ yaitu orang-orang yang bertauhid.” Yang lain berkata, “Maksudnya adalah para mujahidin.” Ibnul Mubarak berkata, “Siapa yang mengalami masalah yang sulit, bertanyalah kepada Ahli Tsughur, karena Allah berfirman, ‘(لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا) benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.’.” Selesailah perkataan beliau Rahimahullah.

Apakah engkau, ‘Wahai pemilik ijazah’, yang lebih baik jalannya ataukah orang-orang yang telah dijamin Allah dalam kitab-Nya, akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus?

Mereka berkata: Yang dipentingkan para mujahidin hanya urusan jihad, seolah-olah mereka mereduksi agama secara keseluruhan dalam jihad!

Apakah yang akan kita katakan kepada orang yang kadar akalnya hanya sampai segini? Berarti, kita harus memperlakukannya sesuai dengan kadar akalnya. Wahai manusia, tentang apa para ulama berbicara dalam bulan Ramadhan? Mengenai apa para ulama berbicara dalam musim haji? Dan, tentang apa para ulama berbicara dalam pengumpulan sedekah? Setiap pembicaraan, harus sesuai dengan kondisinya .…

Zaman ini adalah zaman jihad. Menurut kalian, di manakah para mujahidin boleh menceburkan diri? Mereka adalah para mujahidin, dan sekaranglah waktu jihad mereka. Apakah kalian menginginkan agar mereka berbicara mengenai arah kiblat di planet Saturnus? Apakah kalian menginginkan seorang insinyur pertanian supaya melakukan operasi bedah? Apakah kalian menginginkan seorang tukang pipa supaya membuat sebuah pesawat? Mereka semua memang para ahli dalam bidangnya masing-masing.

Namun, seorang ahli dalam suatu bidang yang tidak berbicara dalam bidangnya, maka dia akan menceburkan dirinya dalam sesuatu yang tidak diketahuinya. Sebagaimana yang kalian lakukan ketika kalian berbicara mengenai urusan jihad. Pusatkanlah perhatian kalian untuk membangun yayasan-yayasan, membuat situs-situs internet, mengajari orang-orang tentang rahasia kehidupan suami-istri; Akan tetapi, serahkan urusan jihad kepada ahlinya!

Mereka berkata: Para mujahidin banyak memiliki kesalahan!

Masya Allah! Sungguh mengherankan analisa, infomasi, serta pengetahuan yang luas seperti ini! Apakah ada seseorang yang mengatakan bahwa para mujahidin adalah para malaikat? Bukankah setiap manusia (bani Adam), pasti pernah berbuat kesalahan? Kami bertanya, “Berapa kesalahan yang telah diperbuat oleh para mujahidin?” Kemudian kami katakan kepada kalian: Cukuplah seseorang dianggap cerdas apabila dia menghitung aib-aibnya sendiri.

Kemudian, wahai orang-orang yang sengsara, bagaimana cara kalian menghitung kesalahan-kesalahan para mujahidin dalam jihad mereka? Sedangkan kalian makan, minum, berdiri, duduk, dan tidur. Kalian tenggelam dalam lautan maksiat kalian, yaitu ketidak-berangkatan dan ketidak-ikutan kalian dalam jihad! Sungguh, setiap langkah kaki, berdiri, duduk, tertawa, menangis, tidur, makan, minum, dan seluruh urusan mujahid dalam jihad mereka, dianggap sebagai kebaikan yang banyak dalam lautan kebaikan. Tidakkah kesalahan mereka tenggelam dalam lautan kebaikan mereka, sebagaimana kebaikan kalian tenggelam dalam lautan ketidak-berangkatan dan sikap berpangku tangan kalian dari jihad? Ataukah kelak pada hari kiamat, Allah tidak akan menghisab kalian atas ketidak-berangkatan yang kalian sengaja dan sikap berpangku tangan kalian dari jihad, dan Allah hanya menghisab para mujahidin dalam ijtihad-ijtihad mereka?

Mereka berkata: Para mujahidin mengkafirkan kaum muslimin!

Bukankah pergi berjihadnya para mujahidin adalah untuk membela kaum muslimin? Lalu, bagaimana bisa—kalian katakan, para mujahidin mengkafirkan orang—yang karena merekalah—para mujahidin itu menyabung nyawa demi memperjuangkan pembebasan mereka dan eksistensi agama mereka?! Apakah orang berakal akan membenarkan hal ini? Ataukah yang kalian maksud dengan ‘kaum muslimin’ itu adalah kerabatnya orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang kafir? Sungguh, para mujahidin tidak mengkafirkan mereka, akan tetapi, Allah-lah yang mengkafirkan mereka dalam kitab-Nya. Allah Subhana wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [QS. Al-Maidah: 51]

Para mujahidin berkata, “Mereka bukan termasuk bagian dari kita, tapi bagian dari mereka (orang kafir).” Jika mereka ini yang kalian maksud, maka kami memohon kepada Allah agar seluruh kaum muslimin menjadi ‘takfiriyyun,’ dan mengkafirkan orang-orang yang dikafirkan oleh Allah tersebut … Jika para mujahidin mengkafirkan kaum muslimin, lalu untuk apa mereka berperang? Dan untuk membela siapa mereka menyabung nyawa? Apakah mereka pertaruhkan hidup mereka dalam bahaya, hanya untuk membela orang-orang kafir?

Mereka berkata: Para mujahidin mengkafirkan para penguasa!

Apakah yang kalian maksud dengan penguasa disini, adalah mereka-mereka yang mengumumkan keberpihakan mereka di bawah panji Amerika dalam perang salibnya terhadap Islam? Apakah yang kalian maksud dengan penguasa disini, adalah mereka-mereka yang menerapkan hukum yang bersumber dari undang-undang Prancis, Amerika, dan Inggris dalam permasalahan darah, harta benda, dan kehormatan kaum muslimin? Apakah yang kalian maksud dengan penguasa disini, adalah mereka-mereka yang membantu Amerika dengan harta benda, tanah, penjagaan, udara, minyak bumi, bahan pangan, obat, dan berbagai informasi, agar Amerika bisa menghemat waktu dan tenaga; sehingga Amerika bisa leluasa membunuhi kaum muslimin tanpa ada halangan yang berarti? Apakah yang kalian maksud dengan penguasa disini adalah mereka-mereka yang membunuhi para mujahidin, menawan, dan menyerahkan mereka kepada Amerika? Jika yang kalian maksud penguasa disini adalah mereka-mereka ini, maka, kami bersaksi kepada Allah bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Dan orang yang tidak mengkafirkan mereka, maka dia termasuk orang yang paling bodoh dengan realitas dan aqidah kaum muslimin.

Bagaimana mereka tidak kafir, padahal dalam diri mereka telah terkumpul syarat-syarat pemvonisan kafir tanpa ada penghalangnya?! Mereka juga telah mengumumkan kekafiran mereka setiap pagi dan sore, di depan penglihatan dan pendengaran semua manusia. Seandainya mereka memiliki telinga, niscaya mereka akan mendengar kekafiran penguasa mereka. Seandainya mereka memiliki mata, niscaya mereka akan melihat kekafiran penguasa mereka. Seandainya mereka memiliki akal, niscaya akan mengetahui kekafiran penguasa mereka. Seandainya mereka memiliki lisan, niscaya akan mengumumkan kekafiran penguasa mereka. Akan tetapi,

“Mereka tuli, bisu, dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” [QS. Al-Baqarah: 171]

Mereka berkata: Para mujahidin berpendapat wajibnya memberontak kepada para penguasa!

“Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [QS. Asy-Syu’ara: 227]

Mereka berkata: Para mujahidin membunuhi Rakyat!

Kami katakan: di mana kedudukan rakyat dalam agama kita? Bukankah Nabi SAW bunuh-membunuh sesama rakyat Mekah dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq? Bahkan, mereka juga membunuh sesama rakyat Madinah yang menyerahkan loyalitas mereka kepada orang-orang kafir, yakni mereka dipimpin oleh Abu ‘Amir Al-Fasiq1! Ataukah membunuh anak-anak paman Nabi SAW dan membunuh saudara-saudara para sahabat halal hukumnya, sedangkan membunuh sesama rakyat kita adalah haram? Di mana pembedaan antara rakyat dan yang bukan dalam Al-Qur’an? Yang dijadikan pedoman dalam agama kita adalah agama itu sendiri, siapa yang muslim, maka dia terhormat; ada pun selainnya, maka tidak ada kehormatan baginya … Syari’at membagi manusia ke dalam tiga golongan:

Muslim, dia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita.
Kafir mu’ahad (ada perjanjian/tidak memerangi), termasuk di dalamnya kafir dzimmi (tunduk di bawah naungan hukum Islam), muamman (mendapat jaminan keamanan), dan muhadan (ada perjanjian gencatan senjata).
Kafir harbiy (memerangi), harta dan darahnya halal. Di mana saja kita menjumpai mereka, kita boleh membunuhnya: dari yang terdekat, kemudian seterusnya.
Inilah pembagiannya menurut kami, di dalamnya, kami tidak mendapatkan pembagian berdasarkan warga negara atau bukan. Jika Jibril Amerika Serikat turun kepada kalian dengan membawa ayat ‘kewarga-negaraan’, maka kalian tidak boleh menyembunyikan ilmu yang ada pada kalian.

Mereka berkata: Para mujahidin berperang bukan di negara mereka!

Ucapan ini berarti juga kalian tujukan kepada Nabi SAW yang tidak berperang di Mekah, tetapi malah di Madinah. Ucapan ini berarti juga kalian tujukan kepada para sahabat yang keluar dari Hijaz untuk berperang di Syam, Iraq, Khurasan, negara-negara di balik sungai, Mesir, Maroko, Cina, Turki, dan Sudan! Ada ucapan yang sangat lucu dan menggelikan yang selalu kami dengar dari sebagian mereka. Mereka menyebut ‘para mujahidin Arab’. Mungkin, maksud mereka menyebut begitu adalah untuk membedakan antar mujahidin di Iraq, maka mereka katakan, “Ini mujahid Iraq, dan itu mujahid Arab ….”

Sebenarnya, setiap telingaku mendengar ucapan ini, aku tak dapat menahan tawa. Apakah warga negara Iraq adalah warga negara India? Bukankah warga negara Iraq termasuk orang Arab? Mungkin, ucapan seperti itu akan memiliki makna—jika diucapkan—di Afghanistan, Checnya, Kashmir, Bosnia, Kosovo, Philipina, Cina, Burma, dan negara asing lainnya. Ada pun di Iraq, bagaimana ucapan itu akan memiliki makna? Ya, kecuali jika penduduk Iraq berasal dari kepulauan antah berantah. Pada hari-hari ini, semua hal menjadi boleh .…

Mereka berkata: Para mujahidin melakukan peledakan di negara mereka!

Kami tidak mampu untuk memahami akal kalian. Menurut kalian, di manakah tempat yang dibolehkan untuk berjihad bagi para mujahidin? Jika mereka berperang di negara mereka, kalian katakan, “Kok mereka berperang di negara mereka”; dan jika mereka berperang bukan di negara mereka, kalian katakan, “Kok mereka berperang bukan di negara mereka!” . Kalian buka front peperangan di atas bulan, sehingga para mujahidin bisa berperang di atasnya!

Kita sederhanakan pemikiran dengan sesederhana mungkin, supaya mereka dapat memahaminya dengan mudah. Aku harap, kalian mau sedikit membuka akal kalian, supaya kalian mengetahui hakikat sulit yang tak mampu dipahami akal kalian. Itu adalah hakikat orang-orang yang semacam kalian, yakni dari kalangan para pemikir besar dan para cerdik-pandai dan berpengalaman namun jarang memperhatikannya. Perhatikan ungkapan berikut, karena ia akan bisa menjelaskan tempat perang secara seksama, apakah kalian sudah siap? Perang itu … Perhatikan! Aku akan ungkapkan suatu ungkapan, jangan sampai terlewat, karena sangat sulit dipahami, bisa jadi kecerdasan orang yang bijaksana akan berkhianat pada dirinya sendiri, sehingga tidak bisa memahami. Perhatikan perkataanku … Aku katakan, “Perang itu terjadi di tempat adanya musuh.” Saya memohon kepada Allah, supaya kalian bisa memahami … Wahai Dzat yang memberi pemahaman kepada Sulaiman, pahamkanlah mereka ini….

Mereka berkata: Para mujahidin menyeret diri mereka ke dalam perang yang tidak sepadan!

Dulu, kalian melontarkan ucapan ini di Afghanistan, namun para mujahidin berhasil menang mengalahkan Uni Sovyet; padahal saat itu, Sovyet merupakan negara yang memiliki pasukan militer terkuat di dunia. Mereka berganti menjadi Rusia … Dulu, kalian melontarkan ucapan ini di Somalia, namun para mujahidin berhasil menang mengalahkan Amerika; padahal waktu itu, Amerika adalah negara yang memiliki pasukan militer terkuat di dunia … Dulu, kalian melontarkan ucapan ini di Bosnia, namun para mujahidin berhasil menang mengalahkan Serbia dan Kroasia yang mendapat dukungan dari negara-negara Eropa, Rusia, Yahudi, sampai Amerika ikut campur menyelamatkan sisa-sisa orang-orang Nasrani dari terkaman para mujahidin … Dulu, kalian juga melontarkan ucapan ini di Iraq, namun sekarang, lihatlah! Para mujahidin berhasil meraih kemenangan demi kemenangan. Padahal, seluruh kekuatan kekafiran telah berkumpul menyerang mereka, dalam episode perang salib yang berkumpul di dalamnya seluruh negara-negara Nasrani dan seluruh pemerintah Arab, bahkan sampai pemerintah Budha dan Hindu ….

Kami mengakui, para mujahidin itu teramat sederhana. Mereka beriman dengan firman Allah Subhana wa ta’ala:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Baqarah: 249]

Mereka meyakini ayat ini dengan segala kandungan makna kesederhanaan iman … Mereka yakin, kemenangan hanya bisa diraih dengan izin Allah, kekalahan juga karena izin Allah, dan kemenangan tidak akan datang kecuali dari sisi Allah. Menurut mereka, syarat kemenangan itu harus menolong agama Allah, dengan cara keluar dan berangkat untuk berjihad di jalan Allah. Demikianlah para mujahidin. Mungkin, kesederhanaan berpikir mereka ini terlihat sebagai sebuah kepolosan, terbatasnya bekal ilmu dan pemahaman politik, serta terbatasnya bekal dalam dua institusi; institusi strategis dan institusi organisasi. Akan tetapi, kesederhanaan berpikir ini tidaklah menjadikan mereka tercela. Karena, mereka tidak belajar di universitas kalian, tidak mendapatkan ijazah seperti kalian, tidak membengkokkan lutut mereka untuk melihat dan memperhatikan media, berbagai konsep, dan yang mulia mufti kalian. Yang mereka ketahui, bahwa Allah telah berfirman:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS. Muhammad: 7]

Para mujahidin berkata, “Kami beriman kepada Allah, menolong agama-Nya, dan bertawakal kepada-Nya, supaya Dia memenangkan kita atas musuh-musuh kita.”. Coba bayangkan, dengan kesederhanaan dan kepolosan seperti ini, ternyata mereka mampu menghancurkan Uni Sovyet, menggoncangkan tahta Amerika, dan meruntuhkan singgasana Eropa.

Kami mengetahui, di antara kalian ada para pemikir, para politikus, para analis, para pemilik ijazah magister, dan para pengamat. Akan tetapi, kami tidak mampu membelokkan para mujahidin dari pendapat mereka. Apa yang bisa kami perbuat bersama mujahidin yang sederhana dan polos ini? Kami tidak mampu dan kami katakan kepada para mujahidin, “Kalian harus membaca kitab-kitab para pemikir dan para pengamat, tinggalkan kitab Allah, sunah Nabi-Nya, dan sejarah hidup beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Akan tetapi, mereka tidak memahami perkataan ini dan tidak rela kecuali dengan Al-Qur’an dan Sunah. Kami memohon kepada Allah agar memberi hidayah (petunjuk) kepada mereka ….

Dia berkata: Siapa yang membawa senjata, maka hujjah (alasannya) lemah!

Apakah yang akan kita katakan kepada orang semacam ini? Seseorang berdoa agar disegerakan zaman ruwaibidhah (orang-orang bodoh yang berbicara persoalan besar-penerj.), sampai orang-orang dungu tersebut tidak berbicara. Wahai orang gila, Nabi SAW membawa senjata, juga Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, sahabat yang ikut bai’at ridhwan, sahabat yang ikut perang Badar, Uhud, Khandaq, dan mayoritas sahabat Rasulullah SAW semuanya membawa senjata. Allah memerintahkan untuk membawa senjata dalam kitab-Nya, apakah setiap mereka hujjahnya juga lemah?

Mereka berkata: Para mujahidin tidak rela dikritik yang membangun dan dinasehati!

Ini benar, kami tidak menyelisihi kalian dalam masalah ini. Akan tetapi, kalian harus mengetahui sebabnya … Sebabnya, para mujahidin menyukai mendengar kritikan secara langsung, yaitu berhadap-hadapan. Tidak menyukai nasihat melalui udara. Jika kalian menginginkan agar mereka mendengarkan kalian, pergilah ke front-front, duduklah bersama para mujahidin, buatlah forum-forum nasihat dan petunjuk! Aku jamin, mereka akan mendengarkan kalian jika kalian melakukan itu. Mereka akan mendahulukan kalian daripada selain kalian. Hanya pergi ke sana, di sisi mereka, dan katakan segala apa yang ingin kalian katakan ….

Orang alim nan cerdik dan pandai dari kalangan mereka berkata, “Para mujahidin adalah orang-orang yang tertipu, belum matang, dan mereka tidak belajar ilmu sebagaimana diwajibkan bagi anak-anak kecil mereka!”

Kami katakan kepada mereka: Jika para ulama dikumpulkan kelak pada hari kiamat, siapa yang akan mendahului mereka sejarak lemparan batu? Berapa umur orang yang mendahului sejarak lemparan batu itu ketika meninggal? Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu ketika meninggal umurnya baru 38 tahun—menurut riwayat yang masyhur. Hal itu disebutkan Ibnu Katsir dalam menjelaskan biografinya dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, bukankah Mu’adz bin Jabal orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram dari umat ini di zaman Nabi SAW? Ketika Nabi SAW wafat, umur Mu’adz baru 30 tahun. Dia menjadi orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram dari umat ini, dan dia akan mendahului ulama umat ini pada hari kiamat nanti, padahal umurnya belum genap 30 tahun. Jadi, ilmu tidak bisa diukur dengan umur, tetapi dengan pemahaman dan amal perbuatan. Berapa banyak syaikh ternama yang suka menikah, namun shalat dan bacaan Al-Fatihahnya tidak bagus? Berapa banyak anak kecil hafal Al-Qur’an dan kuat hafalannya, hafal teks-teks sunah, memahami maknanya, dan mampu mengamalkannya? Dulu, para pembesar Quraisy tidak beriman kepada sesuatu yang datang kepada mereka, yaitu kebenaran paling agung yang pernah dikenal manusia, da’i paling agung di muka bumi dengan hujjah paling agung, dan kitab paling agung yang diturunkan Allah. Sedangkan para pemuda mereka telah beriman, mayoritas umur para pemuda tersebut 20-an dan 30-an ketika mereka beriman. Sebagian mereka ada yang beriman, sedangkan umurnya kurang dari 20 tahun, bahkan ada yang kurang dari 10 tahun!

Mereka berkata: Aqidah para mujahidin tidak bersih!

Perkataan ini diucapkan oleh orang-orang yang menggelari diri mereka dengan ‘Salafiyyun.’ Sudah kami katakan kepada orang-orang bodoh dari kalangan mereka, aqidah para mujahidin adalah kitab Allah dan sunah Nabi-Nya SAW. Akan tetapi, mereka menolak, kecuali jika para mujahidin mau membaca Kitabut Tauhid, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, dan Al-Qawa’id Al-Arba’. Apakah yang akan kita katakan kepada mereka? Bukankah yang menukilkan kitab-kitab tersebut kepada manusia adalah para mujahidin Al-Ikhwan (para pengikut Imam Muhammad bin Abdul Wahhab)? Seandainya bukan karena jihad mereka, niscaya kalian pada hari ini masih suka thawaf di sekeliling pepohonan, dan mengusap-usap bebatuan sebagaimana keadaan nenek moyang kalian … Dengan jihadlah kitab-kitab tersebut bisa sampai kepada kalian, dan tidak ada sesuatu yang tersisa kecuali dengan jihad … Yang lebih aneh lagi, mereka mengatakan, “Bahwa diri mereka adalah ‘Salafiyyun’, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab bukan termasuk salaf, tetapi termasuk khalaf, dan hampir termasuk orang-orang terkini.” Apakah mereka tidak mau menyebut dengan nama ‘muslimin’, sebagaimana nama yang diberikan kepada kita oleh Nabi Ibrahim AS? Ataukahkah itu hanya penyelisihan dan membuat kelompok saja?

Mereka mengatakan: Para mujahidin adalah khawarij!

Kami katakan kepada mereka, “Definisikan kepada kami siapa sebenarnya khawarij itu? Dan sebutkan kepada kami, bagaimana aqidah mereka? Kemudian kita bandingkan (komparasikan) antara aqidah mereka dan aqidah para mujahidin … Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari Islam, sebagaimana anak panah keluar dari busurnya. Sedangkan sifat ini sangat sesuai dengan orang yang melakukan pembatal-pembatal keislaman. Seperti: memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, menerapkan selain syari’at Allah, dan merasa senang dengan kemenangan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin ….

Mereka mengatakan: Kami lebih baik daripada para mujahidin!

Saya katakan, “Kalian telah berdusta!” Demi Dzat yang menurunkan Al-Qur’an, bukankah Allah SWT berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari sisi-Nya, keridhaan-Nya, dan surga-Nya, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di surga itu selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [QS. At-Taubah: 19-22]

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Saya berada di depan mimbar Rasulullah SAW. Seorang sahabat berkata, ‘Aku tidak peduli tidak mengamalkan suatu amalan setelah berislam, yang penting aku bisa memberi minum orang yang haji.’ Yang lain berkata, ‘Aku tidak perduli tidak mengamalkan suatu amalan setelah berislam, yang penting aku bisa meramaikan Masjidil Haram.’ Yang lain lagi berkata, ‘Jihad di jalan Allah lebih baik dari apa yang kalian katakan,’ maka Umar membentaknya, dia berkata, ‘Janganlah kalian mengeraskan suara kalian di hadapan mimbar Rasulullah SAW pada hari Jum’at! Akan tetapi, jika saya shalat Jum’at, saya masuk masjid, lalu saya meminta fatwa kepada Rasulullah SAW dalam masalah yang sedang kalian perselisihkan. Maka diturunkanlah ayat ini.’.”

As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Ketika sebagian kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin dengan sebagian orang-orang musyrik berselisih pendapat dalam hal mereka lebih mengutamakan memakmurkan Masjidil Haram, dengan cara membangun, shalat, ibadah di dalamnya, dan memberi minum orang haji atas iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya, Allah SWT menjelaskan perbedaan antara keduanya. Maka Dia berfirman, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji,” yaitu memberi mereka minuman dengan air zam-zam—sebagaimana sudah makhlum jika nama ini dimutlakkan. Maksud, “dan mengurus Masjidil haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah,” maka, jihad dan iman kepada Allah lebih utama daripada memberi minuman orang haji dan mengurus Masjidil Haram, dengan derajat keutamaan yang jauh sekali. Karena iman merupakan pokok agama, dengannya semua amal akan diterima dan dengannya pula semua perilaku menjadi suci.

Adapun jihad fi sabilillah, ia adalah puncak ajaran agama. Dengannya negeri Islam akan terjaga—dan bahkan bertambah luas wilayahnya, serta dengannya pula kebenaran ditolong dan kebatilan ditumpas … Kemudian, Dia menerangkan keutamaannya. Dia berfirman, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda,” dengan berinfak untuk kepentingan jihad dan mempersiapkan orang-orang yang mau berjihad. “Dan diri mereka,” dengan diri mereka berangkat berjihad. “Adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan,” yaitu tidak meraih kemenangan yang didambakan dan tidak selamat dari yang dikhawatirkan, kecuali orang-orang yang memiliki sifat-sifat mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka.

Dalam kitab Tafsir Maalimut Tanzil karya An-Nawawi Al-Jawi2, ada perkataan lembut dalam menafsirkan ayat ini, dengan bunyi, “Ketika Allah memberi sifat orang-orang beriman dengan tiga sifat; iman, hijrah, serta jihad dengan diri dan harta benda, Dia memberi imbalan atas semua itu berupa kabar gembira dengan tiga hal; dimulai dengan rahmat, yang itu merupakan keselamatan dari api neraka sebagai imbalan atas keimanannya; kedua: mendapatkan keridhaan, yang itu merupakan ujung semua perbuatan baik sebagai imbalan dirinya telah meninggalkan tanah airnya; dan ketiga: mendapatkan surga, yang itu merupakan manfaat agung sebagai imbalan jihadnya, yang di dalamnya ada pengorbanan diri dan harta benda. Mereka dikhususkan mendapatkan pahala yang sangat besar karena keimanan mereka yang sangat agung.” Demikian perkataannya.

Tersebut keterangan dalam hadits Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ada salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, amalan apa yang bisa menyamai pahala jihad?’ Beliau menjawab, ‘Kalian tidak akan mampu.’ Para sahabat mengulangi pertanyaannya dua atau tiga kali, semuanya dijawab beliau, ‘Kalian tidak akan mampu.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Perumpamaan seorang mujahid fi sabilillah seperti perumpamaan orang yang selalu berpuasa, bangun malam shalat tahajud dengan selalu membaca ayat-ayat Allah tanpa pernah berhenti dari shalat dan puasanya sampai sang mujahid fi sabilillah tersebut kembali (ini lafal Muslim)’.” Dalam riwayat Bukhari, “Ada seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bisa menyamai pahala jihad.’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak menemukannya.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Apakah engkau mampu, jika seorang mujahid berangkat berjihad sedang engkau masuk masjidmu, engkau berdiri shalat tanpa berhenti dan engkau berpuasa tanpa berbuka?’ Orang itu menjawab, ‘Siapa yang mampu melakukannya?’.” Maka, kami memberi ‘kabar gembira’ kepada sahabat ini. Pada hari ini, ada sekelompok orang yang—mengaku—sanggup melakukannya, bahkan lebih banyak dari itu; karena itulah, mereka memandang dirinya lebih utama dari para mujahidin dan merasa lebih besar pahalanya dari mereka.

liwaul-haq1

Selanjutnya ….

Apakah makna semua perkataan kami ini, bahwa para mujahidin kebal kritik?

Jawabnya, “Ya, mereka memang kebal kritik, jika kritik itu datang dari orang-orang yang diancam Allah dengan azab yang pedih, yakni dari kalangan orang-orang yang dicap sebagai khawalif (orang-orang yang tidak berangkat jihad). Adapun jika kritik itu datang dari para pemuka jihad, maka tidaklah mereka kebal kritik ….”

Kemudian, kami berhak bertanya: mengapa para penguasa harus dinasihati secara sembunyi-sembunyi? Dan kenapa harus ditulis berjilid-jilid buku berisi larangan menasihati mereka secara terang-terangan? Walaupun mereka terang-terangan mengumumkan loyalitas mereka kepada orang-orang kafir, menerapkan hukum selain syari’at Allah, menyebar-luaskan berbagai perbuatan keji, dan memakan harta manusia dengan cara batil; adapun para mujahidin, mereka ‘hanya’ mendapat kritikan, bukan nasihat. Itupun dilakukan secara terbuka dan terang-terangan di hadapan manusia!

Betapa sering kami mendengar ‘daging ulama itu beracun’. Lalu sekarang, apakah daging para mujahidin seperti ‘kue’ atau malah ia lebih beracun daripada daging ulama? Apakah kalian mengira—seandainya bukan karena jihad ini, para ulama itu bisa muncul di layar saluran-saluran televisi? Demi Allah, seandainya bukan karena Ahli Jihad, niscaya—pada hari ini—tidak terdengar seorang pun ulama dan penguasa mencampakkan mereka ke tempat-tempat sampah. Sejarah kontemporer sebagai saksi terbaik, kapan akan masuk akal orang yang menyangka telah menghormati para ulama, padahal dia berdiri berada di barisan pasukan salibis dan turut memerangi para mujahidin dengan lisannya? Sebagian orang yang mengaku berilmu, memotong lengannya tanpa terasa.

Siapa yang hendak bicara kepada para mujahidin, hendaklah ia berbicara dengan adab yang baik; nasihatilah mereka, dan berdiskusilah bersama mereka dengan adab yang baik. Ada pun kritikan—baik membangun maupun tidak, terlebih lagi bantahan, maka pasti ditolak … Siapa yang tidak memiliki adab yang baik, maka hendaklah ia mengekang lisannya, tetaplah tinggal di rumahnya, dan jangan berbicara mengenai urusan kaum muslimin … Jika engkau hendak mengenal mereka, lihatlah keadaan mereka ketika berbicara dengan para penguasa murtad dan pembantu-pembantu mereka. Lihatlah kerendahan hati mereka, sopan santun, dan pilihan kata mereka yang teliti, kemudian lihatlah keadaan mereka dengan para wali Allah dari kalangan para mujahidin. Siapa yang merasa aman dari hukuman, maka dia akan berbuat dengan adab yang buruk.

Para mujahidin adalah manusia biasa, kadang salah … dan kadang juga benar! Akan tetapi di hari ini, merekalah para pemuka manusia. Mereka maju membela umat ini dengan berperang melawan orang-orang kafir, menjaga wilayah dengan taruhan nyawa di medan-medan laga, melindungi kehormatan lelaki dan para wanita, menumpahkan darah di medan-medan peperangan, meninggalkan kampung halaman, dan berpisah dengan kawan-kawan untuk menyambut seruan Dzat Yang Maha Esa lagi Mahakuasa. Siapa yang tidak mengetahui hak dan keutamaan mereka atas dirinya, maka dialah manusia tercela yang tidak wajib berbuat baik kepadanya ….

Ya Allah, kami persaksikan di hadapan Engkau kecintaan kami kepada mujahidin, dan kecintaan kami kepada orang yang mencintai mereka. Ya Allah, kami berlepas diri kepada-Mu dari musuh para mujahidin dan orang yang loyal kepada mereka … Ya Allah, tolonglah mujahidin di setiap tempat, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu, dan janganlah Engkau serahkan mereka kepada diri mereka sendiri, walau hanya sekejap mata … Ya Allah, sucikan hati para mujahidin, satukan barisan mereka, kokohkan telapak kaki mereka, tepatkan tembakan mereka, berkahilah kehidupan mereka, dan terimalah para syuhada’ mereka, duhai Dzat yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih … Ya Allah, jagalah mereka dari tipu daya para pelaku tipu daya dan lindungilah mereka dari makar para pembuat makar, serta kejahatan para pelaku kejahatan ….

Wallahu a’lam … shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya ….

Ditulis oleh

Syaikh Husein Mahmud

10 Jumadal Ula 1428 H

** Footnote:

1. Dia adalah mantan kepala suku ‘Aus pada zaman jahiliyyah. Ketika Islam datang, dia menampakkan permusuhan secara terang-terangan kepada Rasulullah SAW, lalu keluar dari Madinah dan pergi bergabung dengan suku Quraisy di Mekah. Selanjutnya, dia ikut serta memerangi Rasulullah SAW. (Zaadul Ma’ad: 3/172. Maktabah Syamilah)
2. Ulama yang menulis kitab-kitab berakidah Asy’ariyah. Lebih dikenal dengan nama Imam Nawawi Al-Bantani.

[Sumber]

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s