Bahkan Khalifah Ali Pun Mengusir Abdullah Bin Saba (Rabbi Yahudi Pendiri Syiah)

APA yang Anda ketahui tentang pendiri Syi’ah: Abdullah bin Saba? Seorang Yahudi dari Yaman, Arabia, abad ketujuh, yang menetap di Madinah dan memeluk Islam—yang pada beberapa bagian sejarah, keislamannya sangat dipertanyakan.

Setelah mengkritik buruknya administrasi Kalifah Ustman, ia dibuang dari ibukota. Kemudian ia pergi ke Mesir, di mana ia mendirikan sebuah sekte anti-Usman, untuk mempromosikan kepentingan Ali. Mengetahui ia memperoleh pengaruh yang besar di situ, mengingat Ali adalah keponakan Rasulullah. Padahal, bahkan Ali sendiri pun mengusirnya ke Madain.

Setelah Ali wafat, Abdullah bin Saba terus-menerus menghembuskan isyu kepada orang-orang bahwa Ali tidak mati, tapi masih hidup, dan tidak pernah terbunuh. Ia menghembuskan kabar bahwa sebagian dari sifat Ketuhanan ada dalam diri Ali, dan bahwa setelah waktu tertentu ia akan kembali untuk memerintah bumi dengan adil.

Untuk mengacaukan Islam, Yahudi menyusun rencana untuk menambah dan menghapus hal-hal dari keyakinan Islam yang murni, Abdullah bin Saba memainkan peran penting dalam konspirasi ini, dan selama berabad-abad kita telah menyaksikan manifestasi dari distorsi bid’ah dalam ajaran Syi’ah.

Sejarah juga mencatat bahwa Syi’ah menghina agama Islam, dan menyatakan bahwa mereka adalah musuh nomor satu Muslim. Mereka sepenuhnya bekerja sama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam menghancurkan Iraq dan Afghanistan. Dalam semua sejarah Islam, Syi’ah selalu saja menikam Islam dari belakang.

Lantas, bagaimana dengan wacana Iran yang anti-Israel dan Amerika? Hal itu sudah sejak lama diyakini sebagai sebuah retrorika belaka. Orang-orang Syiah selalu mengagungkan Ali—melampaui terhadap Rasulullah Muhammad saw. Padahal Ali yang disebut sebagai singa Islam, yang berjuang untuk membela kehormatan Islam dan umat Islam, tidak pernah bekerja sama dengan musuh-musuh Islam, apalagi menumpahkan darah dan menjarah kekayaan Muslim. [sa/islampos/alqimmah/jewishencyclopedia]

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

17 thoughts on “Bahkan Khalifah Ali Pun Mengusir Abdullah Bin Saba (Rabbi Yahudi Pendiri Syiah)

  1. Penelitian ulama Ahlusunah dari berbagai negara
    .

    Selain pengujian melalui jalur periwayatan dan sumber periwayatan yang telah kami sebutkan di atas, seorang sarjana Muslim bernama S.H.M Jafri menggunakan metode lain untuk meneliti asal-usul Syi’ah. Beliau menuliskan hasil penelitianya dalam buku berjudul “Origin and Early Development Of Shi’a Islam”. Pengujian yang ia gunakan adalah dengan kajian historiografi dengan melakukan studi komparatif sejarah, yakni membandingkan seluruh penulis sejarah Islam dari generasi paling awal. Ia menuliskan: “keberadaan Abdullah bin Saba tidak ditemukan dalam naskah-naskah sejarah tertua seperti Muhammad bin Ibn Ishaq bin Yasar (wafat tahun 151 H), Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad ( wafat tahun 168 H), Ahmad bin Yahya al Baladzuri (wafat tahun 279 H), Ibn Wadhih al Ya’qubi (wafat tahun 284 H), Abu Bakar ahmad bin Abdullah al Aziz al Jauhari (wafat tahun 298 H), dan Mas’udi (wafat tahun 344 H).
    .

    Sejarah seputar masa krisis kekhalifahan Utsman bin Affan hingga terbunuhnya beliau yang ditulis para sejahrawan tertua tersebut tidak disebut-sebut keterlibatan Abdullah bin Saba. Bahkan nama Abdullah bin Saba’ tidak ditemukan dalam naskah “Ansab al Asyraf” karya Baladzuri, padahal kitab tersebut yang paling detail bercerita tentang krisis pada masa kekhalifahan Utsman. Memang dalam kitab Baladzuri terdapat nama Ibnu Saba’, tetapi dia merujuk pada nama Abdullah bin Wahab al Hamdani atau dikenal dengan sebutan Abd Allah al Wahab al Saba’i pemimpin kelompok Khawarij, bukan merujuk pada Ibn Sawda atau Abdullah bin Saba.
    .

    Berpijak dari hasil penelitian tersebut dapatlah kita sebutkan bahwa eksistensi tentang Abdullah bin Saba baru muncul pada naskah-naskah sejarah setelahnya, dengan kata lain muncul pada masa Ath Thabari yang merujuk pada si pencipta tokohnya yang bernama Syaif Ibnu Umar at Tamimi yang kemudian beredar secara luas dikutip oleh kalangan sejarahwan ahlu Sunnah, termasuk sebagian sejarahwan Shiah yang terjebak dalam cerita fiksi itu.
    .

    Beberapa sejahrawan modern banyak pula yang telah melakukan penelitian tentang Syi’ah (beserta asal- usulnya) dan kesimpulan mereka adalah meragukan keberadaan figur fiktif bernama Abdullah bin Saba tersebut diantaranya adalah :
    .

    [1]. Penelitian yang dilakukan oleh tim yang dibentuk lembaga ahlu sunnah dari Damaskus yang bernama “Al majma’ al ‘Ilmi al ‘Arabi”, telah membentuk tim dibawah pimpinan Profesor Muhammad Kurdi Ali untuk melakukan penelitian tentang Syi’ah. Hasilnya penelitian telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Khtath al Syam”. Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang asal usul Syi’ah yang dilahirkan justru dari lisan Rasulullah SAW, bukan dari Abdullah bin Saba. Dalam buku itu disebutkan pula nama-nama sahabat Syi’ah awal.
    .

    [2]. Ulama dari Indonesia yang meneliti Syi’ah di antaranya adalah Prof Dr H Abu Bakar Atjeh (beliau adalah seorang ahlu sunnah) yang karyanya diterbitkan dengan judul “Syi’ah Rasionalisme dalam Islam” yang dalam bukunya beliau mengutip pendapat Prof. Hamka yang menyebutkan bahwa madzhab Syafi’i yang dianut mayoritas muslim Indonesia lebih dekat dengan madzhab Syi’ah. Dalam bukunya tidak disebutkan peran Abdullah bin Saba’ dalam pendirian Islam, malah beliau menunjukkan bahwa syi’ah dilahirkan oleh Rasulullah S.A.W.
    .

    [3]. Ulama dari Indonesia lainya adalah H Abdullah bin Nuh beliau (seorang ahlu sunnah) , yang banyak melakukan penelitian tentag Syi’ah, dan beliau menyebutkan bahwa penyebar Islam di Indonesia yang pertama adalah orang-orang syi’ah
    .

    [4]. Dr Thoha Husein, ia menyatakan tentang keraguanya akan keberadaan Abdullah bin Saba’ dan menganggapnya tokoh fiktif. Sebagaimaa dituliskan dalam “Al Fitnatul Kubra jilid II”, Thoha Husein meneliti kitab-kitab sejarah awal Shiah dan tidak ditemukan nama Abdullah bin Saba.
    .

    [5]. Asyaikh Universitas Al azar Syaikh Mahmud Syaltut, beliau bahkan mengeluarkan fatwa bolehnya berpegang dengan madzhab syi’ah. Tentu saja mereka semua dikecam habis- habisan oleh para pembenci ahlul bayt. Sebagian bahkan dikafirkan dan dihalalkan darahnya.

  2. Kecurangan- kecurangan dalam pengutipan
    .

    Ditengarai para pembenci ahlul bayt (nawashib) telah melakukan kecurangan- kecurangan terhadap karya-karya sejahrawan awal. Modusnya adalah dengan melakukan perubahan ataupun pemalsuan terhadap redaksional dengan dibelokan dari makna aslinya. Tindakan itu dimaksudkan untuk menunjukan kepada khalayak awam bahwa dalam kitab- kitab sejarah paling awal yang ditulis sejahrawan muslim terdapat figur Abdullah bin Saba’ dan itu membuktikan kepada khalayak ramai, bahwa Abdullah binn Saba’ bukanlah tokoh fiktif. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :
    .

    “Ahmad bin Ya’qub, …, Dia mengutip perkataan Sayyidina Utsman ketika beliau marah kepada sahabat Ammar bin Yasir karena telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad “celakalah Ibnu as- Sauda’ (Abdullah bin Saba’) itu. Sungguh aku benar-benar mengetahuinya.”
    .

    Tindak pemalsuan di atas adalah dengan pemberian makna lain dari redaksi yang sebenarnya, pada tulisan di atas (yang dipalsukan) kata dalam kurung yang tertulis (Abdullah bin Saba’) tidak terdapat dalam kitab Tarikh Ya’qubi, kata tersebut adalah tambahan dari si pengutip. Pihak pengutip sengaja menghilangkan informasi sebelum dan sesudahnya yang menunjukkan bahwa Ibnu Sa’uda yang dimaksud adalah Ammar bin Yassir, mari kami kutipkan secara utuh :
    .

    “ Ketika Ibnu Mas’ud datang ke Madinah dari Kuffah, dan menyerahkan kunci ba’it al mal dengan sikap sedemikian rupa, lalu Utsman bin Affan mengeluarkan perintah agar Ibn Mas’ud dihajar dan dikeluarkan dari masjid. Karena tidak senang dengan perbuatan Utsman, maka Ali membawa Ibn Mas’ud (yang terluka parah) ke rumahnya. Ibnu Mas’ud meninggal dua tahun sebelum Utsman. Dalam Wasiatnya Ibnu Mas’ud minta supaya Ammar mendo’akan dan menshalatkan jenazahnya, dan meminta supaya Usman tidak mensholatkan jenazahnya. Miqdad (sebelum meninggal) juga bersikap demikian…. Utsman bin Affan marah kepada Ammar bin Yassir yang telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad bin Amr, ia berkata kepada Ammar: “Celakalah engkau Ibnu as Sauda, sungguh aku benar-benar mengetahuinya…”. Ammar bin Yassir oleh kaum Qurasy memang digelari “Ibnu Sawda” yang artinya sebagai putra wanita hitam dan “Al Abd” yang artinya si budak”.
    .

    Dengan demikian jelas bahwa si pengutip bermaksud membelokkan arti dari Ibnu Sawda diatas. Sebagaimana telah kami sampaikan diatas melalui penelitian bahwa Abdullah bin Saba’ tidak diketemukan dalam kitab-kitab sejahrawan Islam paling awal.
    .

    Sebetulnya kalau kita jeli melihat kalimat yang dipalsukan tersebut, bahwa sebetulnya yang disebut Ibnu Sa’uda adalah Ammar bin Yasir, perhatikan: di atas diceritakan Khalifah Utsman bin Affan marah kepada Ammar bin Yassir karena telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad padahal Khalifah Utsman tahu, kemarahan khalifah diujudkan dengan mengatakan “celakalah Ibnu as Sauda” tentu saja kemarahan itu ditujukan kepada Ammar karena di situ Khalifah sedang berbicara dengan Ammar.
    .

    Biasanya orang-orang nawashib sangat lihai dalam memotong dan memalsukan informasi. Tapi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat jatuh juga. Dan karena terlalu bersemangat untuk memberikan tuduhan bahwa Syi’ah adalah produk Abdullah bin Saba, akhirnya mereka terperangkap dalam tindak pemalsuannya sendiri.
    .

    Bentuk pembiasan informasi lain adalah terdapatnya nama Ibnu Saba yang tertulis dalam kitab Ansab al Asyraf karya Baladzuri. Dalam kitab tersebut tertulis “…Dan Ibnu Saba memiliki satu naskah dari surat tersebut lalu ia mengubah- ubahnya”. Jika informasi ini dipotong sampai di sini saja maka dampaknya adalah bahwa bukti Abdullah bin Saba’ tertulis di kitab sejarah Islam awal adalah benar. Tetapi kalimat tersebut masih memiliki keterangan, bahwa yang dimaksud al Baladzuri dengan Ibnu Saba’ di situ adalah ‘Abd Allah Ibn Wahab al Saba’i atau dikenal juga dengan Abdullah bin Wahab al Hamdani, seorang pemimpin utama Khawarij dari suku Sabaiyah atau Qathan. Penyematan nama saba’iyah ini disebabkan oleh gesekan antara suku Adnan dan Qathan, sehingga orang-orang Adnani memanggil orang-orang dari suku Qathan dengan sebutan sabaiyah.
    .

    Dengan demikian pemerkosaan pada kedua kitab awal yang dipaksa untuk membuktikan adanya tokoh Abdullah bin Saba sebetulnya adalah tindakan kejahatan. Kedua kitab tersebut memang berbicara secara detail berkenaan krisis di masa khalifah Utsman sehingga beliau wafat, namun tidak diketemukan nama Abdullah bin Saba’ sebagimana yang dituduhkan sebagai pendiri Madzab syi’ah

  3. Seorang pendiri suatu aliran agama pasti namanya selalu dipuja-puji oleh para pengikutnya. Ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin bisa dibantah. Namun keniscayaan ini dilanggar oleh para pembenci aliran Syiah dengan memaksakan pendapat bahwa aliran tersebut didirikan oleh Ibnu Saba, tokoh fiktif yang namanya tidak pernah disebutkan dalam kitab-ki
    tab awal Islam seperti kitab-kitab hadits “Shahih”, “Musnad” maupun “Sunan”. Nama itu bahkan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab awal sejarah Islam seperti “Tarikh”-nya Ibnu Ishak. Adalah hal yang sangat- sangat aneh seseorang yang dianggap telah menciptakan salah satu mazhab Islam terbesar dan pengaruhnya masih terasa sampai sekarang, tidak disebut namanya dalam kitab-kitab awal Islam tersebut di atas.
    .

    Padahal menurut mereka yang percaya keberadaan Ibnu Saba, yang bersangkutan melakukan aktifitas provokasi dan konspirasinya pada jaman khalifah ketiga Usman bin Affan, sementara kitab-kitab tersebut di atas ditulis jauh setelahnya. Umat Shiah telah membantah tuduhan tersebut dan menganggap Ibnu Saba sebagai tokoh fiktif yang tidak pernah ada. Namun tuduhan itu tidak pernah berhenti dilancarkan kepada mereka.
    .

    Seandainya Anda seorang pengikut Kristen dan kemudian seseorang menuduh agama tersebut didirikan oleh Hitler, tentu Anda akan marah. Namun orang itu terus saja melontarkan tuduhan bahwa agama Kristen didirikan oleh Hitler meski telah berulangkali Anda bantah, diantaranya dengan menyebutkan bahwa sebagian besar orang kristen membenci Hitler. Tentu Anda akan menganggap penuduh tersebut sebagai “orang gila”.
    .

    Demikian juga sebenarnya orang- orang yang menuduh Syiah didirikan oleh Ibnu Saba adalah “orang gila” karena terus saja melontarkan tuduhan tersebut meski telah diberi penjelasan segamblang- gamblangnya bahwa orang Syiah tidak pernah menganggap Ibnu Saba sebagai manusia yang benar- benar ada. Bekas- bekas keberadaannya pun tidak pernah ditemukan, termasuk silsilah keluarganya.
    .

    Yang tidak kalah menggelikan adalah anggapan bahwa Ibnu Saba berhasil mengelabuhi sebagian besar sahabat nabi untuk mendukung Ali bin Thalib dan memberontak terhadap khalifah Usman bin Affan. Bagaimana mungkin seorang yahudi mu’alaf (kalau memang benar adanya) mengelabui para sahabat Rosul yang tentunya jauh lebih mengerti tentang Al Qur’an dan Sunnah Rosul. Padahal para sahabat sangat hati-hati dalam bergaul dengan orang-orang yahudi meski mereka telah masuk Islam. Dalam hal ini bahkan bisa dikatakan para sahabat bersikap agak rasialistis terhadap orang-orang yahudi, berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap “kelicikan” mereka.
    .

    Para pembenci Syiah, yang para pelopornya adalah para pembenci ahlul bayt keluarga Rosulullah menuduh bahwa Syi’ah tercipta dari kreasi seorang Yahudi yang memiliki dendam kusumat terhadap Islam, orang tersebut kemudian memeluk Islam guna menghancurkan Islam dari dalam. Orang Yahudi tersebut bernama Abdullah bin Saba’ (Ibnu Saba). Penyebutan Abdullah bin Saba’ sebagai orang Yahudi sebetulnya tidak tepat, sebab namanya dan nama ayahnya jelas menunjukan nama Arab bukan nama-nama Yahudi. Nasab Abdullah bin Saba’ tidak diketahui dan masa lalunya pun gelap pula.
    .

    Cerita Abdulah bin Saba’ ini lebih tepat di sebut dongeng ketimbang cerita kenyataan. Ada beberapa sebab yang menjadi alasan bahwa kisah Abdulah bin saba’ ini disebut sebagai ”mitos”, yang secara sengaja diciptakan untuk melakukan pembunuhan karakter dan pendiskriditan terhadap para pengikut Imam Ali dan Ahlul Ba’it Rasulullah Beberapa. alasan akan menjadi obyek kajian tulisan ini. Kejanggalan dari cerita Abdullah bin Saba’ ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal
    .

    [1] Bagi manusia yang berakal sehat tanpa dikotori kepicikan berfikir, tak mungkin menganggapnya kisah Abdullah bin Saba’ dapat dipercaya, bagaimana mungkin seorang Yahudi yang baru masuk Islam memiliki keterampilan politik yang luar biasa dan dengan kemampuanya mempengaruhi pribadi-pribadi kaum muslim yang mulia seperti Abu Dzar al Ghifari, Muhammad bin Abu Bakar (putra khalifah pertama Abu Bakar dan adik kandung Ummul Mukminin Aisyah), Ammar bin Yasir (salah satu sahabat yang telah dijanjikan surga oleh Rosulullah), Sha’sha’ah bin Shauhan, Muhammad bin Abu Hudzaifah, Abdurahman bin Udais, Malik Asytar, untuk melakukan agitasi dan propaganda pemberontakan pada khalifah Usman bin Affan dan para sahabat yang mulia ini mengekor begitu saja.
    .

    [ 2 ] Adalah hal yang mustahil orang yang baru saja masuk Islam, apalagi dari kalangan Yahudi, kemudian menjalankan dan mengorganisasikan pemberontakan tanpa para sahabat bertindak keras mencegahnya.
    .

    [3 ] Adalah hal yang aneh Seorang yahudi yang baru masuk Islam bisa memulai menghancurkan agama islam tanpa seorang muslim pun peduli.

  4. Dari mana sumber cerita Abdullah bin Saba’?
    .

    Seorang sarjana muslim bernama As Sayyid Murthadha al Askari, telah melakukan penelitian terhadap kisah Abdullah bin Saba dan hasil penelitiannya dibukukan dengan judul “Abdullah bin Saba’ wa Asathir Ukhra (Abdullah bin Saba’ dan Dongeng- Dongeng Lain)” serta buku yang diberi judul ”Khamsun wa Mi’ah Shahabi Mukhthalaq” (Seratus Lima Puluh Sahabat Fiktif). Menurut al Askari, sumber utama terciptanya kisah Abdullah bin Saba’ adalah seseorang yang bernama Sayf Ibn Umar at Tamimi (meninggal 170 H). Say ibn Umar at Tamimi telah menciptakan tokoh fiktif bernama Abdullah bin Saba’ dalam bukunya “Al Jamal wa mashiri Ali wa Aisyah” dan “Al Futuh al Kabir wa ar Riddah”. Dari buku tersebut lalu menyebarlah cerita tentang Abdullah bin Saba’ ke penulis- penulis Islam sesudahnya. Penyebaran kisah Abdullah bin Saba’ sedemikian massif, sehingga buku-buku sejarah Islam banyak yang diwarnai oleh cerita palsu tentang Abdullah bin Saba itu.
    .

    Bagaimana Dongeng Abdullah bin Saba’ dapat beredar luas ?
    .

    Peredaran dongeng Abdullah bin Saba’ tersebar melalui penulis sejarah seperti Thabari (wafat 310 H), Ibn ’Asakir (wafat 571 H), Ibn Abi Bakr (wafat 741 H) dan adz Dzahabi (wafat 748). Dari merekalah kemudian dongeng Abdullah bin Saba’ tersebar ke generasi- generasi sesudahnya. Kecuali Thabari yang mengambil cerita Ibnu Saba dari Syaif Ibn Umar at Tamimi, penulis lainnya mengutip dari Thabari. Mereka semuanya hidup jauh setelah para penulis kitab-kitab awal “Shahih”, “Musnad”, “Sunan” dan “Tarikh”.
    .

    Para penulis sejarah kontemporer pada akhirnya banyak yang mengutip cerita- cerita Abdullah bin Saba’ melalui penulis di atas, sekedar menyebutkan sebagian buku yang terkenal yang menuliskan Abdullah bin Saba’ dan syiah diantaranya adalah sebagai berikut :
    .

    [1]. Muhammad Rasyid Ridha, dalam bukuya As Sunnah wa Asy Syi’ah, ia mengatakan: ”Tasyayyu terhadap khalifah ke empat Ali bin Abi Thalib adalah pangkal perpecahan umat Muhammad dalam agama dan politik mereka. Pencetus dasar- dasarnya adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, ia menganjurkan kepada yang berlebih-lebihan (ghuluw) tehadap Ali dengan tujuan memecah belah umat ini serta merusak agama dan urusan dunia”. Rasyid Ridha mengambil rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari Ath Thabari.
    .

    [2]. Ahmad Amin dalam buku “Fajar Islam dan Dhuha Islam” menuliskan: ”Akidah Syi’ah tentang wasiat dan Raja’ah diambil dari Ibnu Saba’ adapun konsep Mahdi al Muntazhar diambil dari ajaran Yahudi melalui Ibnu Saba’. Abu Dzar al Ghifari mengambil pemikiran tentang sosialisme dari Ibnu Saba’, dan Ibnu saba’ mengambilnya dari ajaran Mazdakiyah yang tersebar di masa kekuasaan bani Umayyah. Dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Syiah adalah benteng bagi semua orang yang ingin menghancurkan agama Islam”. Tetapi kemudian Ahmad Amin meralat pendapatnya setelah ia bertemu dengan Ayatullah Muhammad Husain Kasyif al Ghitha. Ia kemudian menyatakan permintaan maaf kepada kaum Muslim Syiah. Ahmad Amin menyebutkan ia mengambil sumber rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari Ath Thabari.
    .

    [3]. Dr Hasan Ibrahim Hasan dalam bukunya “Tarikh al islam as Siyasi”. Ia menuliskan dalam bukunya sebagai berikut: ” Abdullah bin Saba mempengaruhi seorang sahabat besar ahli hadis Abu Dzar al Ghifari untuk melakukan pemberontakan menentang Utsman dan Muawiyyah.” Ia menyebutkann sumber cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
    .

    [4]. Syekh Abu Zuhrah dalam ”Tarikh al Madzahib al islamiyah” menuliskan dalam bukunya: ”Abdullah bin Saba mengatakan bahwa ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki wasi, dan Ali adalah wasi Muhammad. Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali penutup para washi.” Ia mengutip cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
    .

    [5]. Farid Wajdi dalam bukunya “Dairah Ma’arif al Qarn’Isyrn” juga menulis cerita tentang Abdullah bin saba’ yang diambil dari sumber yang sama yakni Ath Thabari.
    .

    [6]. Ahmad ’Athiyatullah dalam bukunya ”Al Qamus al islami” menuliskan: “Ibnu Saba’ adalah pimpinan sekte as saba’iyah dari kalangan Syi’ah. Ia dikenal dengan nama Ibnu as Sawda”. Ia pun mengambil sumber cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
    .

    Sedangkan kutipan- kutipan cerita Abdullah bin Saba’ yang beredar di Indonesia dalam bentuk artikel di majalah ataupun buku-buku relatif banyak, terutama buku-buku yang diterbitkan oleh kelompok-kelompok “nawashib” yang membenci Ahlul Ba’it, seperti buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” yang diterbitkan oleh LPPI, “Tikaman Syi’ah”, “Gen Syi’ah” dan lain sebagainya. Dari sekian artikel kami hanya akan menyebut dua saja, karena kedua artikel inilah yang akan di bahas dalam tulisan ini, sekaligus meluruskan kisah Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam buku-buku lain.

  5. Kebohongan yang dijadikan rujukan
    .

    [1]. Artikel berjudul : “Abdullah Bin Saba’ Tokoh Fiktif?” ditulis oleh Majalah al Muslimun – majalah Hukum dan Pengetahuan Islam, Bangil No 217 Sya’ban/ Ramadhan 1408 April 1988.
    .

    [2]. Artikel berjudul : “Abdullah Bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif” Karya Dr Sa’diy Hasyimi yang dimuat di Majalah Suara Masjid.
    .

    Telah kami sebutkan di atas secara singkat bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif hasil rekayasa dari orang yang bernama Syaif Ibnu Umar at Tamimi. ia meninggal pada masa khalifah Harun al Rasyid. Ia dikenal sebagai orang yang membenci ahlul ba’it (nawashib). Seperti telah kami sebutkan di atas, ia menulis dua buah buku yang di dalamnya terdapat tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’: “al Jamal wa mashiri Ali wa Aisyah” dan “Al Futuh al Kabir wa ar Riddah”. Murthadha Al Askari menyebutkan dalam bukunya “Syaif at Tamimi telah memalsukan riwayat Nabi SAW dengan menciptakan sahabat- sahabat yang tidak pernah ada dalam sejarah. Nama-nama tersebut adalah nama fiktif yang tidak pernah ada orangnya” Murthada al Askari menyebutkan ada 150 sahabat fiktif karangan Tamimi, di antaranya bernama Sa’r, Al Hazhhaz, Uth, Hamdhan dan lain sebagainya termasuk Abdullah bin Saba.
    .

    Kitab “Tarikh al Umm wa al Muluk” karya Ibnu Jarir Ath Thabari adalah sumber tertua kisah Abdullah bin Saba’. Ath Thabari hanya bersandar pada perawi tunggal, Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Sedangkan jalur yang menyambungkannya kepada Syaif hanya dua yaitu :
    .

    [1]. Ubaidullah bin Sa’id az Zuhri dari pamanya yang bernama Ya’qub bin Ibrahim dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Kisah Abdullah bin Saba’ ia nukil dari jalur ini secara lisan.
    .

    [2]. As Surri (Abu Ubaidah) bin Yahya dari Syu’aib bin Ibrahim dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Kisah Abdullah bin Saba’ ia nukil melalui kitab “Al Futuh wa Ar riddah” dan kitab “al Jamal wa Masir ‘Aisyah” karya syaif ibnu Umar at Tamimi, dan terkadang ia mengutip secara lisan.
    .

    As Surri bin Yahya yang dimaksud dalam jalur periwayatan di atas bukanlah Ats Surri bin Yahya, seotang perawi yang terkenal tsiqah. Sebab masa hidup Ats Surri bin Yahya yang tsiqah itu lebih awal dari ath Thabari. Ia wafat tahun 167 H, sementara Ath Thabari baru lahir tahun 224 H. Selisih antara wafat As Surri dan kelahiran ath Thabari adalah 57 tahun. Penelusuran para ulama menyebutkan bahwa, tidak ada seorang perawi yang bernama As Surri bin Yahya selain dia. Oleh karenanya, ada yang mengasumsikan bahwa as Surri yang menjadi perantara periwayatan ath Thabari adalah salah satu dari dua perawi yang keduanya adalah pembohong dan cacat di mata ulama :
    .

    [1]. As Surri bin Ismail al Hamdani al Kufi.
    .

    [2]. As Surri bin ’Ashim al Hamdani (seorang imigran yang tinggal di kota Bghdad) wafat tahun 258 H dan ath Thabari hidup sezaman denganya selama tiga puluh tahun lebih.
    .

    Mayoritas ulama ahlu Sunnah sendiri memandang kredibilitas Syaif Ibnu Umar at Tamimi sebagai tidak bernilai. Diantara komentar para ulama tentang at Tamimi adalah sebagi berikut”
    .

    [1]. Yahya bin Muin (wafat 233 H): “Riwayatnya lemah dan tidak berguna, uang sesen lebih berharga daripada dirinya”.
    .

    [2]. Abu Daud (wafat 316 H): ”Syaif bukan seorang yang dapat dipercaya. Ia adalah seorang pembohong (al Kadzdzab), ia tidak berarti sedikitpun, beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak”.
    .

    [3]. Ibn Hibban (wafat 354 H): ”Sayf meriwayatkan hadis- hadis palsu dan menisbahkan pada perawi–perawi yang sahih. Ia dianggap sebagai seorang pembid’ah dan pembohong serta pemalsu hadits”.
    .

    [4]. Ibn Abd Barr (wafat 462 H): ”beliau menulis tentang al Qa’qa, di mana Syaif berbohong”.
    .

    [5]. Al Daruquthni (wafat 385 H): ”Riwayat yang disampaikan Syaif lemah”.
    .

    [6]. Firuzabadi (wafat 817 H) : ”Riwayat yang Syaif sampaikan lemah”.
    .

    [7]. Ibn al Sakan (wafat 353 H): ”Riwayat syaif lemah”.
    .

    [8]. Ibn Adi (wafat 365 H): ”Ia lemah, sebagian hadisnya mashut akan tetapi sebagian besar darinya tidak terdukung riwayat yang ia sampaikan lemah dan tidak digunakan”.
    .

    [9]. Al Suyuthi (wafat 900 H): ”Hadis yang disampaikannya lemah”.
    .

    [10]. Ibnu Hajar al Asqalani (wafat 852): ”Dalam hadis banyak perawi lemah dan yang paling lemah di antara mereka adalah Sayf”.
    .

    [11]. Ibn Abi Hatam (wafat 327 H): ”Para ulama telah mengabaikan riwayat yang disampaikan Syaif”.
    .

    [12]. Safi al Din (wafat 923 H): ”Riwayat yang disampaikan Sayf dianggap lemah (dhaif)”.
    .

    [13]. Al Hakim (wafat 450 H): ”Sayf adalah seorang ahli bid’ah riwayatnya diabaikan”.
    .

    [14]. Al Nas’i (wafat 303 H): ”Riwayat yang disampaikan Syaif lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan karena tidak dapat dipercaya dan tidak berdasar”.
    .

    [15]. Abu Hatam (277 H) : ”Hadis yang diriwayatkan Sayf harus ditolak”.
    .

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ adalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Syaif ibnu Umar at Tamimi. Sebagaimana dinyatakan oleh Dr Ahmad al Wa’ili: ”Para peneliti menyebutkan bahwa ath Thabari menukil 701 riwayat sejarah yang meliputi berbagai peristiwa yang mewarnai masa kekhalifahan ketiga khalifah pertama. Kesemuanya ia nukil dari jalur As Surri si pembohong, dari Syu’aib yang misterius keperibadianya dan dari Syaif yang ditolak oleh para ulama”.

  6. Fatwa Gila dan Lucu Ulama Wahabi

    Air Laut Laki-Laki, Perempuan berzina dengan air laut harus dirajam
    DR. Aliar Rabi’i berfatwa:

    “من اكبر الكبائر نزول المراة البحر حتى لو كانت محجبة لان البحر ذكر وبدخول الماء مكان حشمتها تكون قد زنت ويقع عليها الحد”

    “Termasuk dari dosa-dosa besar, perempuan turun ke laut, sekalipun berhijab.Karena laut itu laki-laki. Bila air laut masuk ke ‘anu’nya maka dia berzina dan jatuh hadd kepadanya”

    Minum Khomer dan berzina di Bahrain halal
    Dalam twiternya Syeikh Jazim As-Saidi mengeluarkan fatwa:

    اؤكد على ما ذكرته مسبقا…القليل من الدعارة والخمر في البحرين لتغطية العجز الاقتصادي مجاز شرعا. وولي الامر يرى ما لا يراه الآخرون

    “Aku tegaskan perkataanku sebelumnya bahwa MELACURKAN DIRI dan KHOMR di Bahrain asal tidak terlalu sering untuk menutupi KELEMAHAN EKONOMI itu boleh secara syari’at. Waliyyul amr (yg membahas ini) mempunyai pertimbangan yang lebih baik daripada orang kebanyakan”.
    Sumber: (http://abuolifa.wordpress.com/)

  7. Kamis, 08 November 2012 16:01

    raja Arab Saudi, Abdullah, memperkenankan Prediden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang bermadzhab Syiah untuk menunaikan ibadah hajinya ketanah suci Mekkah dan Madinah.

    Bahkan raja Abdullah juga mengundang beliau (Ahmadinejad) untuk menghadiri KTT darurat Islam di Mekkah pada tanggal 14-15 Agustus 2012 yang salah satu agendanya adalah memperkuat persatuan Islam itu sendiri.

    Apakah sekiranya, raja Abdullah selaku Khadamul Haramain tidak mengetahui bila syiah itu sesat dan keluar dari Islam sebagaimana klaim orang-orang yang menganggap syiah itu adalah kafir? Fakta bila raja Abdullah sendiri masih menganggap Syiah bagian dari madzhab didalam Islam yang perlu dirangkul untuk memperkuat barisan Islam.

    Sumber : http://www.antaranews.com/berita/325843/raja-abdullah-undang-ahmadinejad-ke-ktt-mekkah

    Sumber : http://indonesian.irib.ir/timur-tengah/-/asset_publisher/d4Na/content/ktt-darurat-oki-di-mekkah-dimulai

    Sumber : http://www.arabnews.com/saudi-arabia/new-momentum-muslim-unity

    Islam adalah agama ilmu, artinya orang yang beriman itu harus dengan ilmu bukan iman yang membabi buta. Berhenti menjadi provokator dalam sebuah diskusi dengan selalu berpraduga buruk pada orang lain. Diri kita sendiri bukan insan yang sempurna.

  8. mau syiah mau sunni.yang pasti g kayak ente ente yang korban kebodohan tokoh fiktif abdulah bin saba…percuma aja ente sunni.kalo bloon…ane juga udah pelajari semua sumber tntang abdullah bin saba berasal dari saif bin umar.tokoh yang didaifkan dan lemah riwayatnya oleh para ulama…bloon aja kalomau percaya ucapannya

  9. Wahai ummat islam, inilah bukti bahayanya org2 syi’ah laknatullah. Berbohong adalah ibadah bagi mereka. Lihatlah komentar2 mereka. Abdullah bin Saba yg tokoh nyata difiktifkan oleh mereka. Syiah dipelihara zionis yahudi agar dpt merusak islam dari dalam. Waspadalah wahai ummat islam…

  10. Berikut ini salinan artikel dari situs voa-islam :

    Mengapa Syi’ah Berusaha Menghilangkan Figur Abdullah bin Saba’?

    JAKARTA (voa-islam.com) – LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) yang dipimpin H. Amin Jamaludin menyusun sebuah buku berjudul “Mengapa Kita Menolak Syi’ah.” Buku ini berisi tentang kumpulan makalah yang menyoroti kesesatan Syi’ah yang disampaikan di Aula Masjid Istiqlal tahun 1997, di antara para tokoh Islam yang menyampaikan makalah tersebut adalah Drs. K.H. Moh. Dawam Anwar, K.H. Irfan Zidniy, M.A, K.H. Thohir Al Kaff, Drs. Nabhan Husein, K.H. Abdul Latief Muchtar, M.A, DR. M. Hidayat Nur Wahid dan Syu’bah Asa.

    Buku yang diberi pengantar oleh K.H. Hasan Basri sebagai ketua umum MUI pada waktu itu merupakan sebuah bukti bahwa kesesatan Syi’ah telah menjadi perhatian para cendekiawan muslim sejak lama. Selain ketua umum MUI, tokoh-tokoh dari berbagai ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, DDII dan yang lainnya ikut memberikan pengantar dalam buku tersebut.

    Buku ini seharusnya menjadi salah satu rujukan bagi kaum muslimin dan para ulama yang memiliki peran penting di tengah umat Islam, agar kita tak berselisih lagi mengenai kesesatan Syi’ah dan membendung agresifitas penyebarannya di berbagai daerah.

    Salah satu tulisan atau makalah menarik yang disajikan dalam buku tersebut adalah makalah berjudul “Siapa Abdullah bin Saba’” yang menjelaskan sosok Abdullah bin Saba’ sekaligus mengungkap mengapa Syi’ah berusaha menghapus figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah. Berikut ini adalah kutipan lengkapnya.

    Ada sebuah buku yang berjudul “Abdullah bin Saba’ Benih Perpecahan Ummat” yang ditulis oleh M. Hashem dan diterbitkan oleh YAPI, Bandar Lampung.

    Buku tersebut telah beredar dan laku keras, pada dasarnya sesungguhnyalah isi buku tersebut merupakan saduran dari buku yang berjudul “Abdullah bin Saba’” yang ditulis oleh Murtadha Al Askari, seorang imam Syi’ah yang bermukim di Irak.

    Siapakah Abdullah bin Saba’?

    Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi berasal dari Shan’a, Yaman yang datang ke Madinah kemudian berpura-pura setia kepada Islam pada masa Khilafah Utsman bin Affan R.A. padahal dialah yang sesungguhnya mempelopori kudeta berdarah dan melakukan pembunuhan kepada khalifah Utsman bin Affan, dialah juga pencetus aliran Syi’ah yang kemudian mengkultuskan Ali bin Abi Thalib R.A.

    Di antara isu-isu yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah belah Umat Islam pada saat itu antara lain:

    1. Bahwa Ali bin Abi Thalib R.A telah menerima wasiat sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (An Naubakhti , firaq As Syi’ah, hal. 44)

    2. Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan R.A. adalah orang-orang zhalim, karena telah merampas hak khilafah Ali R.A. setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam saat itu yang membai’at ketiga khilafah tersebut dinyatakan kafir. (An Naubakhti, op cit, hal. 44)

    3. Bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pencipta semua mahluk dan pemberi rezeki. (Ibnu Badran, Tahdzib al Tarikh al Dimasyq, Juz VII, hal. 430)

    4. Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat, sebagaimana kepercayaan akan kembalinya Nabi Isa A.S. (Ibnu Badran, op cit, juz VIII, hal. 428)

    5. Bahwa Ali R.A. tidak mati, melainkan tetap hidup di angkasa. Petir adalah suaranya ketika marah dan kilat adalah cemetinya. (Abd. Al Thahir Ibnu Muhammad Al Baghdadi, Al Firaq Baina Al Firaq, hal. 234)

    6. Bahwa ruh Al Quds bereinkarnasi ke dalam diri para Imam Syi’ah . (Al Bad’u wa Al Tarikh, juz V, hal. 129, th 1996)

    7. Dan lain-lain

    Dapat ditambahkan pula bahwa Abu Muhammad al Hasan Ibnu Musa An Naubakhti , seorang ulama Syi’ah yang terkemuka , di dalam bukunya “Firaq As Syi’ah” hal. 41-42 mengatakan bahwa Ali R.A. pernah hendak membunuh Abdullah bin Saba’ karena fitnah dan kebohongan yang disebarkan, yakni menganggap Ali sebagai tuhan dan mengaku dirinya sebagai Nabi, akan tetapi tidak jadi karena tidak ada yang setuju. Lalu sebagai gantinya Abdullah bin Saba’ dibuang ke Mada’in, ibu kota Iran di masa itu.

    Apa Persoalannya?

    M. Hashem di dalam bukunya tersebut mencoba untuk menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah, alasannya:

    1. Seluruh berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam buku-buku sejarah baik oleh Ibnu Katsir, Ibnu Atsi, Ahmad Amin, Nicholson, Wehausen maupun yang lainnya, mengutip dari buku sejarah tulisan Ath Thabari.

    2. Sedangkan Ath Thabari memperoleh berita tentang Abdullah bin Saba’ melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi.

    3. Padahal Saif bin Umar At Tamimi dikenal sebagai perawi yang lemah, suka berdusta dan tidak bisa dipercaya. Demikian menurut ahli- ahli hadits seperti Ibnu Hajar, Ibnu Hibban, Al Hakim, nasa’i dan lain- lain.

    Oleh karena itu kata M. Hasem berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam buku sejarah dengan mengambil sumber buku Ath Thabari tak dapat dipercaya, karena dalam setiap jalur riwayat (sanad) yang diambil oleh Ath Thabari terdapat Saif bin Umar At Tamimi. Begitu kata M. Hashem (lihat skema hal. 81). Hanya dengan alasan itu saja M. Hashem menyimpulkan bahwa yang disebut Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada.

    Buku tersebut ternyata ada juga pengaruhnya di kalangan intelektual (yang tidak berpendirian) seperti mendiang Nurcholis Majid (Tempo, 19 Desember 1987, hal. 102) atau yang serupa dengannya dan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan tentang sejarah Islam.

    Sebenarnya yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif, sudah agak lama juga muncul. Pendapat tersebut dipelopori oleh orientalis dan dikembangkan oleh Murtadah Al Askari, seorang tokoh Syi’ah pertengahan abad XX yang berasal dari Iraq.

    Kemudian diikuti oleh; Dr. Kamal Asy-Syibi, Dr. Ali Al-Wardi (keduanya murid orientalis dari Iraq). Dr. Thaha Husein, Dr. Muhammad Kamil Husein, Thalib Al Husein, Al Rifa’i (murid-murid orientalis dari mesir), Muhammad Jawad Al mughniyah, Dr. Abdullah Fayyah (murid-murid orientalis dari Libanon).

    Bagaimana Sebenarnya?

    Saif bin Umar At Tamimi memang dinyatakan lemah dan tidak dapat dipercaya oleh ulama hadits, tapi dalam masalah yang ada hubungannya dengan hukum Syari’ah, bukan dalam bidang sejarah.

    Berita tentang adanya Abdullah bin Saba’ tidak hanya melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi saja. Malah Abu Amr Muhammad ibnu Umar Al izz Al Kasyi (imam hadits dari kalangan Syi’ah sendiri) meriwayatkan Abdullah bin Saba’ melalui 7 jalur, tanpa melalui Saif bin Umar At tamimi yang dianggap lemah itu. Yaitu dari:

    1. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi Al Qummy dari Sa’ad ibnu Abdullah ibnu Abi Khalaf, dari Abdurrahman ibnu Sinan, dari Abdu Ja’far A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).

    2. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa, dari Abu Umair, dari Hisyam Ibnu Salim dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).

    3. Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa dari Ali ibnu Mahzibad, dari Fudhallah ibnu Ayyud Al Azdi, dari Aban ibnu Utsman dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).

    4. Dari Ya’qub ibnu Yazid, dari Ibnu Abi Umair dan Ahmad ibnu Muhammad ibnu Isa dari Ayahnya dan Husein Ibnu Sa’id, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam ibnu Salim, dari Abu Hamzah Ats Tsumali, dari Ali ibnu Husein. (Rijal Al Kasyi, hal. 108).

    5. Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad ibnu Khalid Ath Thayalisi, dari Abdurrahman ibnu Abi Najras, dari Ibnu Sinan, dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 108).

    6. Dari Muhammad ibnu Al Hasan, dari Muhammad Al Hasan Ash Shafadi, dari Muhammad ibnu Isa, dari Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan ibnu Rasyid, dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah A.S. (Al Shaduq, Ila Al Syara’i’I, cetakan ke II, hal. 344).

    7. Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad Isa ibnu Ubaid Al Yaqthumi, dari Al Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan Ibnu Rasyid, dari Abi Bashir dan Muhammad ibnu Muslim, dari Abi Abdillah A.S. (Ash Shaduq, Al Khisal, cetakan tahun 1389 H, hal. 628).

    Demikian dari kalangan Syi’ah sendiri.

    Adapun dari kalangan Sunni, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam bukunya “lisan al mizan” (jilid III, hal. 289-290, cetakan I, tahun 1330 H) meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba’ melalui enam jalur yang juga tanpa melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi. Yaitu:

    1. Dari Amr ibnu Marzuq, dari Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Zaid ibnu Wahab, dari Ali bin Abi Thalib R.A.

    2. Dari Abu Ya’la Al Muslihi, dari Abu Kuraib, dari Muhammad ibnu Al Hasan Al Aswad, dari Harun ibnu Shahih, dari Al Harits ibnu Abdirrahman, dari Abu Al Jallas, dari Ali bin Abi Thalib. R.A.

    3. Dari Abu Ishaq al Fazari ibnu Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Abu Zara’i’i dari Yazid ibnu Wahab.

    4. Dari Al Isyari dan Al Alka’i dari Ibrahim, dari Ali. R.A.

    5. Dari Muhammad ibnu ‘Utsman Abi Syaiban, dari Muhammad ibnu Al Ala’i, dari Abu Bakar Ayyash, dari Mujalid, dari Asy Sya’bi.

    6. Dari Abu Nu’aim, dari Ummu Musa (Yusuf Al Kandahlawai, hayatus shahabah).

    Berdasarkan 13 riwayat yang tidak melalui Saif bin Umar At Tamimi ini (baik dari ulama Syi’ah maupun ulama Sunni), maka alasan mereka yang hendak menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah tidak dapat dipertahankan.

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mereka terlalu ceroboh dalam melakukan penelitian dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, ataukah memang mereka mempunyai maksud-maksud tertentu.

    Apa Maksud Mereka?

    Apa sebenarnya maksud yang terkandung pada diri mereka dalam menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah, dapatlah kita analisa.

    1. Golongan Syi’ah berkeyakinan bahwa Syi’ah telah muncul semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kenyataan sejarah tidak dapat kita pungkiri bahwa Abdullah bin Saba’-lah pelopornya. Oleh karena itu dengan menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ mereka berharap bisa diterima sebagai salah satu mazhab dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan Yahudi.

    2. Mendukung gerakan tasykik untuk membingungkan umat Islam dengan cara memutar balikkan fakta sejarah, sehingga umat dialihkan dari apa yang seharusnya mereka kerjakan dan lupa akan kelicikan musuh-musuh Islam.

    3. Menjauhkan umat Islam dari ulama dan pemimpinnya, serta menghilangkan kepercayaan kepada generasi pertama yaitu generasi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya merupakan contoh dan panutan.

    4. Menempatkan tokoh-tokoh Syi’ah dan apa yang disebut “pembaru” lainnya, setaraf dengan ulama salaf terdahulu.

    Lebih dari itu apa pun yang mereka tuju, yang jelas pemikiran seperti itu telah dipelopori oleh kaum orientalis. Apakah mereka memang bagian dari kaki tangan orientalis, ataukah mereka korban tipu daya orientalis? Boleh jadi mereka adalah generasi baru Abdullah bin Saba’. Mari kita buktikan. (Ahmed Widad)

  11. Wake up kaum muslim, sadarilah bahwa syi’ah menggerogoti akidah islam dari dalam, mereka ini musuh dalam selimut bagi umat islam yg hakikatnya dipelihara oleh zionis yahudi demi tujuan mereka. Jangan biarkan syi’ah tumbuh subur di negeri ini. Untuk penganut syi’ah, bertobatlah sebelum maut menjemput, kembalilah pada ajaran islam yg benar.

  12. bagai mana mungkin menaif kan abdullah bin saba sedang ajaran syiah mirib ajaran yahudi yg mengenal imam” bahkan sama jumlahnya 12,,
    lucu aja baca penjelsan mereaka,mereka menolak saba mati” tapi menerima ajaran imam_imam ala yahudi..
    aneeeh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s