Para Sahabat Nabi Muhammad SAW Keutamaan, Derajat dan Kedudukannya

I. Definisi Sahabat

Sahabat adalah orang yang bertemu Rasulullah, beriman kepadanya dan wafat di atas iman, dia dinamakan shahib karena jika dia bertemu Rasulullah dalam keadaan beriman kepadanya maka dia telah berikrar mengikutinya. Ini salah satu keistimewaan persahabatan dengan Rasulullah. Adapun selain Rasulullah maka seseorang belum dianggap sahabat sebelum bergaul dengannya dalam waktu yang panjang yang karenanya dia berhak disebut sahabat.

II. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Sahabat

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keselamatan hati mereka dan lidah mereka terhadap sahabat Rasulullah. Keselamatan hati dari kebencian, kemarahan dan iri hati dan keselamatan lidah mereka dari segala ucapan yang tidak layak dengan kedudukan mereka.

Hati Ahlus Sunnah wal Jamaah bersih dari semua itu, ia penuh dengan kecintaan, penghormatan, penghargaan kepada sahabat Nabi sesuai dengan kedudukan mereka. Ahlus Sunnah mencintai sahabat Nabi dan mengunggulkannya di atas seluruh manusia karena mencintai mereka termasuk mencintai Rasulullah dan mencintai Rasulullah termasuk mencintai Allah.

Lidah mereka bersih dari hinaan, celaan, laknat, pemberian gelar fasik, kafir dan lain-lain yang dilontarkan oleh ahli bid’ah , mereka adalah Udul (Udul jama’ dari Adil . ( Menurut bahasa Adl yaitu : “Adalah” atau ‘Adl lawan dari Jaur yang artinya kejahatan. Rojulun ‘Adl maksudnya : Seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu diridhai dan diberi kesaksiannya. (Lihat Kamus Muktarus- Shihah hal. 417 cet. Darul Fikr). Menurut Istilah ahli : Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru’ah”. [Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar hal. 29 cet. Maktabat Thayibah tahun 1404H]

Jika hati mereka bersih dari semua itu berarti mereka sarat dengan pujian, doa ridha dan rahmat kepada mereka serta istighfar dan lain-lain.

Hal itu karena perkara-perkara berikut:

Pertama Mereka adalah generasi terbaik di seluruh umat sebagaimana secara jelas dinyatakan oleh Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)”. [Hadits mutawatir, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya]

Kedua Mereka adalah perantara antara Rasulullah dengan umat, dari merekalah umat menerima syariat.

Ketiga Jasa penaklukan yang besar lagi luas melalui tangan mereka. Dengan wasilah mereka lah negeri-negeri dapat merasakan hidayah iman dan islam.

Keempat Mereka menebarkan kemuliaan di kalangan umat, Kejujuran, nasihat, akhlak dan adab yang tidak ada di selainnya. Hal ini tidak diketahui oleh orang yang membaca tentang mereka dari balik tembok, bahkan hal ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang hidup dalam sejarah mereka dan mengenal keutamaan-keutamaan, jasa-jasa, pengorbanan-pengorbanan dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

III. Di antara Dalil-dalil yang Menetapkan Keutamaan Sahabat

Firman Allah Taala, “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaanNya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-  Hasyr: 8). Ayat ini tentang orang-orang Muhajirin.

Firman Allah Taala, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum ( kedatangan ) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” [QS. Al-Hasyr: 9]Ayat ini tentang orang-orang Anshar.

Nabi saw bersabda, “Jangan mencela sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud maka ia tetap tidak menandingi satu mud bahkan setengahnya yang diinfakkan oleh salah seorang dari mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Rasulullah berbicara kepada Khalid bin al-Walid ketika terjadi peselisihan antara dirinya dengan Abdur Rahman bin Auf tentang Bani Judzaimah, maka Nabi bersabda kepada Khalid, “Jangan mencela sahabatku.” Dan yang harus diperhatikan adalah keumuman lafazh.

Tanpa ragu Abdur Rahman bin Auf dan orang-orang yang seangkatan dengannya lebih afdhal daripada Khalid bin al-Walid dari segi masuk Islam yang lebih dahulu daripada dia oleh karena itu Nabi bersabda, “Jangan mencela sahabatku.” Sabdanya ini tertuju kepada Khalid dan orang-orang sepertinya.

Apabila ada seseorang berinfak emas seperti Uhud, maka nilainya tidak menandingi satu mud atau setengahnya yang diinfakkan oleh sahabat, padahal infaknya sama, pemberinya sama dan yang diberi sama, sama-sama manusia akan tetapi manusia tidaklah sama, para sahabat itu memiliki keutamaan, kelebihan, keikhlasan dan ketaatan yang tidak dimiliki oleh selain mereka, keikhlasan mereka besar, ketaatan mereka kuat, maka mereka mengungguli siapa pun dari selain mereka dalam perkara infak.

Larangan dalam hadits di atas menunjukkan pengharaman. Tidak halal bagi siapa pun mencela sahabat secara umum tidak pula mencela satu dari mereka secara khusus. Jika ada yang mencela mereka secara umum maka dia kafir bahkan tidak ada keraguan pada kekufuran orang yang meragukan kekufurannya. Jika ada yang mencela secara khusus maka pendorongnya diteliti terlebih dahulu karena bisa jadi dia mencela karena alasan bentuk tubuh atau prilaku akhlak atau agama, masing-masing memiliki hukumnya.

IV. Ahlus Sunnah Mengakui dan Menerima Keutamaan dan Kedudukan Sahabat

Keutamaan adalah apa yang dengannya seseorang mengungguli orang lain dan ia dianggap sebagai kebanggaan baginya. Kedudukan adalah derajat, para sahabat memiliki derajat dan kedudukan tinggi. Keutamaan dan kedudukan yang ada bagi sahabat Nabi diterima oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sebagai contoh Ahlus Sunnah menerima banyaknya shalat atau sedekah atau puasa atau haji atau jihad atau keutamaan-keutamaan lain dari mereka. Ahlus Sunnah menerima – contohnya – keutamaan Abu Bakar yang hadir kepada Nabi dengan seluruh hartanya pada saat Nabi mendorong sahabat bersedekah. Ini adalah keutamaan.

Ahlus Sunnah menerima keterangan yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa Abu Bakarlah seorang yang menemani Rasulullah dalam hijrah di gua. Mereka menerima sabda Nabi tentang Abu Bakar, “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya terhadapku dalam harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Begitu pula keterangan-keterangan tentang keutamaan Umar, Usman dan Ali dan sahabat-sahabat yang lain. Semua itu diterima oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Begitu pula dengan derajat, Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima keterangan tentang derajat mereka. Derajat tertinggi umat ini diraih oleh khulafa’ rasyidin, yang tertinggi dari mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali.

V. Antara Sahabat Sebelum dan Sesudah al-Fath

Ahlus Sunnah mengunggulkan sahabat yang berinfak dan berperang sebelum Fath, yakni perjanjian damai Hudaibiyah atas sahabat yang berinfak dan berperang sesudahnya.

Dalilnya adalah firman Allah, “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allahlah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” [QS. Al-Hadid: 10]

Orang-orang yang berinfak dan berperang sebelum perdamaian Hudaibiyah lebih afdhal daripada orang-orang yang berinfak dan berperang setelahnya. Perdamaian Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun enam hijriyah. Orang-orang yang masuk Islam berinfak dan berperang sebelum itu adalah lebih baik daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudahnya.

VI. Antara Muhajirin dan Anshar

Ahlus Sunnah wal Jamaah mendahulukan Muhajirin di atas Anshar karena yang pertama menggabungkan antara hijrah dan nusroh (mendukung) sementara yang kedua hanya nusroh saja.

Muhajirin meninggalkan keluarga dan harta mereka serta tanah kelahiran mereka, mereka pindah ke bumi yang asing, semua itu adalah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya demi menolong Allah dan Rasul-Nya.

Anshar, Nabi saw mendatangi mereka di negeri mereka, mereka menolong Nabi SAW, tanpa ragu mereka melindungi Nabi SAW seperti mereka melindungi istri dan anak-anak mereka.

Dalil didahulukannya Muhajirin adalah firman Allah, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” [QS. At-Taubah: 100]. Ayat ini menyebut Muhajirin sebelum Anshar.

Firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar.” [QS. At-Taubah: 117]. Ayat ini mendahulukan Muhajirin.

VII. Derajat Ahli Badar

Derajat ahli Badar adalah derajat sahabat tertinggi. Badar adalah tempat yang dikenal terjadi padanya perang yang masyhur yang terjadi di Ramadhan tahun dua hijriyah, harinya diberi nama oleh Allah dengan Yaumul Furqan.

Penyebabnya adalah Nabi mendengar Abu Sufyan kembali dari Syam ke Makkah dengan rombongan dagangnya maka Nabi mengajak sahabat-sahabat untuk menghadang kafilah dagang tersebut. Ajakan Nabi ini disambut oleh tiga ratus ditambah belasan orang dengan tujuh puluh ekor unta dan dua ekor kuda. Mereka berangkat dari Madinah dengan maksud menghadang kafilah dagang akan tetapi Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka dengan hikmah-Nya.

Ketika hal itu didengar oleh Abu Sufyan, bahwa Nabi berangkat untuk menghadang kafilah dagangnya, maka Abu Sufyan mengambil jalan menyusuri pantai dan mengirimkan utusan kepada penduduk Makkah memohon bantuan, maka penduduk Makkah bersiap-siap, tidak ketinggalan para pembesar, pemimpin dan orang-orang terhormat, mereka berangkat dalam keadaan seperti yang dijelaskan oleh Allah, “Dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.” [QS. Al-Anfal: 47]

Di tengah perjalanan mereka mendapatkan berita baru dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagangnya telah selamat maka mereka pun berniat untuk kembali ke Makkah hanya saja Abu Jahal berkata,“Demi Allah kita tidak pulang sebelum tiba di Badar, di sana kita singgah, menyembelih unta, minum khamr, mendengar suara penyanyi. Lalu orang-orang Arab mendengar apa yang kita lakukan dan mereka akan selalu merasa takut kepada kita.”

Ucapan yang menunjukkan keangkuhan, kesombongan dan kepercayaan diri yang tinggi, akan tetapi – alhamdulillah – perkaranya terjadi sebaliknya dari apa yang dikatakannya, orang- orang Arab mendengar kekalahan mereka yang sangat menyakitkan. Akibatnya harga mereka merosot tajam di mata orang-orang Arab.

Terjadilah perang antara dua kubu, –alhamdulillah– kekalahan berpihak kepada orang-orang musyrik dan kemenangan berpihak kepada orang-orang Mukmin. Mereka membunuh tujuh puluh orang musyrik dan menawan tujuh puluh dari mereka, di antara yang terbunuh tersebut ada dua puluh empat orang dari pembesar dan tokoh Makkah. Mereka diseret dan dilemparkan ke sumur busuk lagi buruk di Badar.

Sahabat-sahabat yang hadir dan ikut dalam perang ini  memiliki kedudukan khusus di sisi Allah setelah kemenangan tersebut, Allah melihat mereka dan berfirman (dalam hadist qudsi) “Lakukan apa yang kalian mau lakukan karena Aku telah mengampuni kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni untuk mereka karena kebaikan besar yang Allah berikan melalui tangan mereka. Hadits ini menunjukkan bahwa dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni. Ia mengandung berita gembira bahwa mereka tidak mati di atas kekufuran karena mereka diampuni, ini menuntut satu dari dua perkara: Bahwa mereka tidak mungkin kafir setelah itu atau kalaupun salah satu dari mereka ditakdirkan kafir maka dia akan diberi taufik untuk taubat dan kembali kepada Islam. Apapun, ini adalah berita gembira besar bagi mereka dan kita tidak mengetahui seorang pun yang kafir setelah itu.

VIII. Keutamaan Baiat Ridhwan

Allah Taala berfirman tentang sahabat yang membaiat dalam Baiat Ridhwan, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Fath: 18-19]

Allah mensifati mereka dengan iman, ini adalah rekomendasi dari Allah bahwa sahabat yang membaiat di bawah pohon adalah Mukmin yang diridhai dan Nabi sendiri telah bersabda, “Tidak masuk Neraka seseorang yang membaiat di bawah pohon.” Diriwayatkan oleh Bukhari.

Keridhaan ditetapkan oleh al-Qur’an dan keselamatan dari Neraka ditetapkan oleh Sunnah. Inilah keutamaan para sahabat yang hadir di Baiat Ridwan tersebut. Penyebab baiat ini adalah Nabi pergi ke Makkah hendak umrah, Beliau membawa hadyu dan diiringi sahabat-sahabatnya yang berjumlah seribu empat ratus orang, mereka hanya ingin umrah. Ketika mereka tiba di Hudaibiyah sebuah tempat dekat Makkah, (sekarang daerah itu berada di jalan menuju Jeddah, sebagian daerahnya masuk ke dalam daerah Haram) orang-orang Makkah menghalang-halangi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya karena mereka merasa sebagai tuan rumah dan pelindung Ka’bah, Terjadilah antara mereka dengan Nabi negosiasi.

Allah Ta’ala berfirman, “Kenapa Allah tidak mengadzab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-Anfal: 34]

Di peristiwa ini Allah menunjukkan kepada Nabi-Nya sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menjadi hikmah bahwa akan lebih baik jika Rasulullah dan para sahabat mengalah karena ia mengandung kebaikan dan kemaslahatan, tanda tersebut adalah berhentinya unta Rasulullah, ia menolak untuk berjalan sampai mereka berkata, “Qaswa’ (nama unta yang dinaiki oleh Rasulullah ) menolak untuk berjalan.” Nabi membelanya, “Demi Allah, Qaswa’ tidak menolak berjalan, itu bukan tabiatnya akan tetapi ia dihentikan oleh yang menghentikan gajah.” Kemudian Nabi bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka tidak memintaku suatu syarat di mana dengannya mereka mengagungkan batasan-batasan Allah, niscaya aku akan berikan kepada mereka.” Diriwayatkan oleh Bukhari.

Terjadilah proses negosiasi, Rasulullah mengirim Usman bin Affan untuk bernegosiasi, karena dia memiliki kerabat di Makkah yang melindunginya. Nabi mengutusnya ke Makkah untuk mengajak mereka masuk Islam dan menyampaikan bahwa Nabi hanya datang untuk umrah dan mengunjungi Ka’bah dan mengagungkan Allah Ta’ala. kemudian muncul isu bahwa Usman dibunuh. Hal itu membuat kaum muslimin bersedih, maka Rasulullah mengundang para sahabat untuk berbaiat. Rasulullah membaiat mereka untuk siap berperang melawan penduduk Makkah yang telah membunuh utusan Rasulullah (karena memang utusan itu tidak boleh dibunuh), maka sahabat membaiat Rasulullah untuk berperang dan tidak berlari dari kematian.

IX. Kesaksian Surga Bagi Para Sahabat

Kepastian Surga ada dua macam : Berkait dengan sifat dan berkait dengan pribadi.

Pertama adalah kesaksian kepada setiap Mukmin bahwa dia di Surga, setiap orang yang bertakwa di Surga tanpa menentukan pribadi tertentu. Ini adalah kesaksian umum yang wajib kita lakukan karena Allah telah menyatakan demikian, firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka Surga-Surga yang penuh kenikmatan, kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar.” [QS. Luqman: 8-9]

Kedua kesaksian yang berkait dengan pribadi tertentu. Seperti kita bersaksi bahwa fulan di Surga atau jumlah tertentu di Surga maka ini adalah kesaksian khusus, kita bersaksi bagi siapa pun di mana Rasulullah bersaksi untuknya baik itu untuk satu orang atau untuk orang-orang tertentu.

Contohnya adalah sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk Surga, mereka dijuluki demikian karena Nabi menyebutkan nama-nama mereka dalam satu hadits. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Said bin Zaid, Saad bin Abu Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidullah, az-Zubair bin al-Awwam, Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah.

Mereka itulah orang-orang yang diberi berita gembira oleh Rasulullah dalam satu hadits, Beliau bersabda, “Abu Bakar di Surga, Umar di Surga …” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at- Tirmidzi dan Ahmad. Oleh karena itu mereka dikenal dengan sepuluh orang yang dijamin Surga, kita wajib bersaksi bahwa mereka di Surga berdasarkan kesaksian Nabi.

Di antara sahabat yang dijamin surga adalah Tsabit bin Qais adalah khatib (Sekretaris) Nabi, dia bersuara lantang, ketika ayat ini turun, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” [QS. Al-Hujurat: 2]. Tsabit bin Qais sangat gelisah dan ketakutan.Kemudian dia menghindar dan bersembunyi, sampai Rasulullah mengutus sahabat untuk mencari tahu tentang alasannya bersembunyi. Tsabit berkata, “Allah telah menurunkan ayat, -Dia membaca ayat di atas- Aku adalah orang yang mengangkat suara di atas suara Nabi, amalku terhapus, aku termasuk penghuni Neraka.” Laki-laki tersebut kembali kepada Nabi dan menyampaikan apa yang dikatakan Tsabit. Maka Nabi bersabda, “Kembalilah kepadanya, katakan kepadanya, ‘Kamu bukan termasuk penghuni Neraka akan tetapi kamu di Surga.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Termasuk sahabat yang dijamin surga adalah Ummahatul Mukminin karena mereka dalam derajat Rasulullah, di antara mereka adalah Bilal, Abdullah bin Salam, Ukasyah bin Mihshan dan Saad bin Muadz.

X. Sahabat Terbaik

Dia adalah Abu Bakar ash-Shiddiq berdasarkan apa yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya dari Ibnu Umar berkata, “Kami memilih orang-orang di zaman Nabi, maka kami memilih Abu Bakar kemudian Umar bin al-Khattab kemudian Usman bin Affan.”

Dalam Shahih al-Bukhari bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah berkata, “Aku berkata kepada bapakku, ‘Siapa yang terbaik setelah Rasulullah?’ Dia menjawab, ‘Abu Bakar’. Aku bertanya,‘Lalu siapa?’ Dia menjawab, ‘Kemudian Umar’. Aku takut dia berkata kemudian Usman maka aku berkata, ‘Kemudian engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”

Jika pada masa khalifah Ali berkata begitu, sebaik-baik umat setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar maka tidak ada hujjah bagi orang-orang Rafidhah yang mendahulukan Ali di atas keduanya, Sahabat (Ali bin Abi Thalib) yang mereka dahulukan di atas Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khattab justru mendahulukan keduanya.

Imam Malik berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang ragu dalam mendahulukan keduanya.” Asy-Syafi’i berkata, “Para sahabat dan tabiin tidak berbeda pendapat dalam mendahulukan Abu Bakar dan Umar.”

Abu Bakar sebagai sahabat terbaik merupakan ijma’ umat, barangsiapa menyimpang dari ijma’ ini maka dia telah mengikuti jalan selain jalan orang-orang Mukmin.

Jadi tidak ada perbedaan di antara Ahlus Sunnah bahwa orang pertama umat ini setelah Nabi saw adalah Abu Bakar, orang kedua adalah Umar, lalu siapa orang ketiga dan keempatnya?

Sebelum Ahlus Sunnah bersepakat bahwa Usman bin Affan berada di nomor tiga dan Ali bin Abi Thalib di nomor empat, mereka terlebih dulu berbeda pendapat menjadi empat pendapat.Pendapat yang masyhur Abu Bakar ash-Shidiq kemudian Umar bin Khattab kemudianUsman bin Affan kemudian Ali bin Abi ThalibPendapat kedua: kemudian kemudian kemudian diam. Pendapat ketiga : kemudian kemudian kemudian Usman. Pendapat keempat : kemudian kemudian tidak berpendapat mana yang lebih afdhal atau ?

Pendapat pertama merupakan pendapat akhir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka berkata : Umat terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali sesuai urutan mereka dalam memegang khilafah. Inilah yang benar.

Perbandingan antara Usman dengan Ali bukan termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah di mana penyelisihnya dinyatakan sesat. Siapa yang berkata, “Ali lebih utama daripada Usman.” Maka Ahlus Sunnah tidak mengatakan dia sesat, karena sebelumnya ada sebagian dari Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.

XI. Masalah Khilafah

Khalifah umat setelah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Usman,  kemudian Ali. Barangsiapa berkata : Khilafah hanyalah hak Ali seorang tanpa ketiganya maka dia adalah orang sesat. Barangsiapa berkata, Khilafah untuk Ali setelah Abu Bakar dan Umar.” Maka dia keliru karena ia menyelisihi ijma’ sahabat.

Ini adalah kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam perkara khilafah. Kita wajib meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar ash-Shidiq kemudian Umar bin Khattab kemudian Usman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib. Hak mereka dalam khilafah sesuai dengan urutan mereka agar kita jangan berkata, “Ada kezhaliman dalam khilafah.” Sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Rafidhah.

XII. Ahli Bait

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mencintai keluarga Rasulullah karena dua alasan : Iman dan hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW, Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membenci ahli bait.

Hanya saja Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak sependapat dengan Rafidhah yang berkata, “Siapapun yang mencintai Abu Bakar dan Umar berarti membenci Ali.” Jadi menurut mereka tidak mungkin mencintai Ali tanpa membenci Abu Bakar dan Umar. Seolah-olah Abu Bakar dan Umar adalah musuh Ali padahal riwayat-riwayat yang mutawatir menetapkan pujian Ali kepada keduanya diatas mimbarnya.

Termasuk Ahli bait adalah istri-istri Nabi saw, Allah Taala berfirman : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzab: 33]. Ayat ini mencakup istri-istri Rasulullah SAW, berdasarkan korelasinya dengan ayat-ayat sebelumnya.

Termasuk kerabat Rasulullah adalah Fatimah, Ali, al-Hasan, al-Husain, al-Abbas dan anak-anaknya serta lain-lainnya.

Namun kecintaan kepada Ahli Bait Nabi saw ini hanya sebatas kepada yang beriman dari mereka, kita tidak mencintai mereka meskipun dia adalah kerabat Rasulullah SAW, jika yang bersangkutan adalah orang kafir seperti Abu Lahab. Kita tidak boleh mencintainya dalam kondisi apapun justru kita wajib membencinya karena kekufurannya dan sikap buruknya kepada Rasulullah SAW. Sama halnya dengan Abu Thalib, kita wajib membencinya karena kekufurannya akan tetapi kita mengakui perlindungan dan bantuannya yang diberikan kepada Rasulullah SAW.

Sikap Ahlus Sunnah yang mencintai kerabat Nabi saw ini sesuai dengan pesan Beliau kepada umatnya. Yaitu sebuah pesan di hari delapan belas Dzulhijjah. Danau ini dinisbatkan kepada seorang laki-laki bernama Khum, ia berada di jalan Makkah dan Madinah dekat dengan Juhfah. Rasulullah singgah padanya pada saat pulang haji Wada’. Nabi berkhutbah dan bersabda, “Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada ahli baitku.” Diriwayatkan oleh Muslim.

XIII. Ahlus Sunnah dan Istri Nabi SAW

Ahlus Sunnah menghormati Ummahatul Mukminin. Ini adalah sifat bagi istri-istri Rasulullah. Istri-istri Rasulullah adalah ibu kita dalam penghormatan, penghargaan dan kedudukan. Firman Allah Ta’ala : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” [QS. Al- Ahzab: 6]

Kita loyal kepada mereka dengan mendukung dan membela mereka serta meyakini bahwa mereka adalah istri-istri terbaik penduduk bumi karena mereka adalah istri-istri Rasulullah SAW.

Di antara istri-istri Nabi saw adalah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menikahinya ketika Beliau berusia dua puluh lima tahun sementara Khadijah binti Khuwailid empat puluh tahun. Dia adalah wanita cerdas. Nabi SAW banyak mengambil manfaat darinya karena dia adalah wanita pintar dan cerdik. Selama Khadijah binti Khuwailid hidup Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain.

Khadijah adalah ibu dari mayoritas keturunan Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW mempunyai keturunan yang bukan dari Khadijah yaitu Ibrahim dari Maria al- Qibthiyah.

Keturunan Rasulullah SAW, dari Khadijah ada enam orang, dua laki-laki dan empat wanita. Yang laki-laki adalah : al-Qasim dan Abdullah yang dikenal dengan ath- Thayib dan ath-Thahir. Putri-putrinya adalah: Zaenab, Ummu Kultsum, Fatimah dan Ruqayah. Putra terbesar adalah al-Qasim dan putri terbesar adalah Zaenab.

Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW, karena ketika Rasulullah SAW, pulang dari gua Hira dan menyampaikan apa yang didapatkan di sana, dia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Aku beriman kepadamu.” Lalu Khadijah membawa Rasulullah SAW, kepada Waraqah bin Naufal dan menceritakan berita Rasulullah SAW, kepadanya. Waraqah berkata kepadanya, “Ini adalah namus yang turun kepada Musa.”. Namus adalah pemilik rahasia. Waraqah pun beriman kepada Rasulullah SAW.

Oleh karena itu wanita pertama yang beriman adalah Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah pendukung setia Rasulullah SAW. Siapa pun yang membaca sirah Nabi maka dia pasti mengakui bahwa dukungan Khadijah kepada Nabi tidak diungguli oleh seorang pun dari istri-istri Nabi lainnya. Khadijah memiliki kedudukan yang tinggi di hati Rasulullah SAW. Sampai-sampai Rasulullah SAW, tetap mengingatnya setelah dia wafat, Beliau mengirim hadiah kepada teman-teman Khadijah dan bersabda, “Dia itu begini begini, aku memiliki anak darinya.” Rasulullah SAW, memujinya. Ini menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah SAW.

Di antara istri-istri adalah Aisyah bin Abu Bakar, dia adalah ash-Siddiqah karena imannya yang sempurna kepada Rasulullah SAW, dan karena kejujurannya dalam bergaul dengan Rasulullah SAW, serta kesabarannya dalam menghadapi tekanan berat karena kisah dusta yang ditujukan kepadanya, ketika Allah menurunkan kesaksian kebebasannya atas kisah dusta tersebut, dia berkata, “Sesungguhnya aku tidak memuji kecuali kepada Allah.” Keutamaan Aisyah di atas para wanita adalah seperti keutamaan tsarid di atas makanan lainnya. Ini adalah sabda Rasulullah SAW, yang menetapkan keunggulan Aisyah. Aisyah mempunyai keutamaan yang tidak digapai oleh wanita mana pun. Siapa yang lebih utama antara Khadijah dengan Aisyah?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian berkata, Khadijah lebih afdhal karena dia memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki Aisyah. Yang lain berkata, Aisyah lebih afdhal berdasarkan hadits di atas, dia memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Khadijah. Sebagian ulama membuat perincian, masing-masing memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Di awal dakwah Nabi Khadijah memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Aisyah dan tersaingi olehnya akan tetapi setelah itu dan setelah Rasulullah SAW, wafat Aisyah berjasa besar dalam menyebarkan Sunnah dan ilmu serta hidayah kepada umat yang tidak dimiliki oleh Khadijah.

Pendapat yang ketiga ini bagus, karena masing-masing memang mempunyai keistimewaan yang tidak dipunyai oleh yang lain, maka kita katakan, di awal dakwah Islam Khadijah berjasa besar, namun di akhir kehidupan Nabi saw dan sesudahnya, giliran jasa besar itu milik Aisyah. Apapun itu Ahlus Sunnah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah SAW, termasuk penghuni surga.

XIV. Berhati-hati Terhadap Rafidhah dan Nashibah

Ahlus Sunnah berlepas diri dari dua kelompok ini. Rafidhah adalah kelompok yang bersikap berlebih-lebihan pada Ali bin Abu Thalib dan ahlul bait. Mereka disebut Rafidhah karena mereka rafadhu (menolak) pendapat Ali bin al- Husain bin Ali bin Abu Thalib ketika mereka bertanya kepadanya tentang Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Khattab, maka Ali bin al-Husain memuji keduanya dan berkata, “Mereka berdua adalah pendukung kakekku.”

Adapun Nashibah maka mereka adalah orang-orang nashabu (menegakkan) permusuhan kepada ahlul bait, menghina dan mencaci maki. Mereka ini adalah lawan Rafidhah.

Rafidhah menyerang sahabat dengan hati dan lisan. Hati mereka membenci dan memusuhi sahabat kecuali orang-orang yang menjadi perantara mereka untuk meraih ambisi mereka dan mereka pun bersikap berlebih-lebihan pada orang-orang tersebut (para Ahlul Bait).

Lisan mereka melaknat dan mencaci sahabat. mereka berkata : Para sahabat adalah orang-orang zhalim. Mereka berkata : Mereka murtad setelah Nabi kecuali sedikit dari mereka, dan masih banyak lagi kata-kata buruk mereka terhadap para sahabat.

Adapun Nawashib maka mereka menghadapi bid’ah dengan bid’ah, ketika mereka melihat Rafidhah bersikap berlebih-lebihan terhadap ahli bait maka mereka berkata, “Kalau begitu kita memusuhi dan mencela ahli bait.” Hal itu sebagai reaksi terhadap Rafidhah yang berlebih-lebihan dalam mencintai dan memuji ahli bait. Sikap pertengahan selalu menjadi yang terbaik, merespon bid’ah dengan bid’ah hanya menguatkan bid’ah itu sendiri, yang benar adalah menghadapi bid’ah dengan sunnah.

XV. Ahlus Sunnah dan Perselisihan di antara Sahabat

Setelah Usman terbunuh terjadi di antara para sahabat fitnah besar sampai terjadi peperangan. Fitnah itu benar-benar terjadi – tanpa ragu – karena takwil dan ijtihad, masing-masing pihak mengira benar.

Namun keyakinan mereka bahwa mereka benar tidak berarti bahwa mereka memang benar. Akan tetapi kalau mereka salah, kita mengetahui bahwa mereka tidak melakukan hal ini kecuali berdasarkan kepada ijtihad dari ilmu mereka, yang mana ilmu mereka sudah sampai kepada derajat Mujtahid. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jika seorang hakim menetapkan hukum lalu dia berijtihad dan benar maka dia memperoleh dua pahala. Jika dia menetapkan hukum lalu berijtihad dan salah maka dia memperoleh satu pahala.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Adapun sikap Ahlus Sunnah kepada pelaku maka mereka menahan diri dari apa yang diperselisihkan oleh para sahabat. Ada beberapa riwayat tentang keburukan sahabat-sahabat yang terlibat dalam fitnah, namun banyak antaranya yang merupakan dusta murni.

Ini banyak sekali ditemukan dalam riwayat Nawashib tentang ahli bait dan riwayat Rafidhah tentang selain ahli bait. Ada kemungkinan riwayat tersebut memiliki asal usul hanya saja ia telah ditambah atau dikurangi atau dibelokkan dari aslinya. Kedua bagian ini wajib ditolak.

Ada riwayat shahih, namun mereka harus dimaklumi pada yang shahih darinya karena bisa jadi mereka adalah orang-orang yang berijtihad lalu benar atau orang-orang yang berijtihad lalu salah.

Para sahabat sama dengan manusia yang lain hanya saja mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain yaitu kebaikankebaikan dan keutamaan-keutamaan yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun sesudahnya, mereka menolong Nabi, berjihad dengan harta dan jiwa, mengorbankan leher mereka untuk menjunjung kalimat Allah, ini menyebabkan ampunan untuk apa yang mereka lakukan meskipun ia termasuk dosa besar selama tidak sampai pada tingkat kekufuran.

Salah satunya adalah kisah Hathib bin Abu Balta’ah ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk memberi kabar tentang keberangkatan Rasulullah SAW ke Makkah, tetapi dia belum menyampaikannya sampai Allah memberitahu Rasulullah SAW, tentang itu, maka Umar meminta izin kepada Rasulullah SAW, untuk memancungnya, Rasulullah SAW, bersabda, “Dia berperan serta dalam perang Badar. Seperti yang kita ketahui Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi tentang Ahli Badar ‘Lakukanlah apa yang kalian suka karena Aku telah mengampuni kalian’.” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

Ibnu Taimiyah berkata, “Kalaupun salah seorang dari mereka melakukan dosa maka yang bersangkutan telah bertaubat darinya, atau mereka melakukan kebaikan-kebaikan maka kebaikan itu menghapus dosanya, atau dosa tersebut diampuni oleh Allah berkat kebaikan-kebaikan masa lalu, atau mereka mendapatkan syafaat Rasulullah SAW di mana mereka adalah orang-orang yang paling berhak atasnya, atau dosa tersebut terhapus karena ujian dunia yang menimpa mereka.”

Ibnu Taimiyah juga berkata, “Kadar yang diingkari dari perbuatan para sahabat sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan dan keutamaan mereka.”

Apabila kamu melihat dengan bashirah serta sikap obyektif pada kebaikan mereka dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka niscaya kamu meyakini bahwa mereka adalah orang-orang terbaik setelah Rasulullah SAW, mereka lebih baik daripada Hawariyin sahabat Nabi Isa, mereka lebih baik daripada orang-orang terpilih dari sahabat Nabi Musa dan lebih baik daripada orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh, Hud Nabi dan lain-lain.

Tidak ada seorang pun dari pengikut para Nabi yang lebih baik daripada sahabat. Perkara ini adalah perkara yang maklum lagi jelas berdasarkan firman Allah Ta’ala “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” [QS. Ali Imran: 110]

Orang-orang terbaik dari kita adalah sahabat, karena orang terbaik adalah Rasulullah SAW, maka sahabatnya adalah sahabat terbaik.

Ini menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, lain urusannya menurut Rafidhah, kalau menurut mereka para sahabat adalah orang-orang terburuk kecuali beberapa orang yang mereka kecualikan.

KESIMPULAN :

Ahlus Sunnah ridha dengan seluruh sahabat dan wajib mengikuti jejak mereka, mereka itu semuanya ‘uduul’ (jama’ dari Adil lawan dari Dhalim) dan tidak berkomentar tentang mereka selain yang baik-baik.

Mencintai mereka itu hukumnya wajib dan membenci mereka itu merupakan kemunafikan.

Ahlus Sunnah juga menahan diri terhadap apa-apa yang mereka pertikaikan di antara mereka, yang dalam hal itu mereka melakukan ijtihad dan mereka adalah sebaik-baik generasi. Allah ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisâ : 115]

“Orang-orang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orangorang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah : 100]

– dari Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin –

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

3 thoughts on “Para Sahabat Nabi Muhammad SAW Keutamaan, Derajat dan Kedudukannya

    • Bagaimana mungkin islam bisa membahayakan keamanan negara?? Coba masbro ingat ingat lagi jasa pera pendiri negara ini, siapakah mereka?panglima sudirman,thomas matulessy,hasyim ashari,bung tomo,teuku umar,sultan hasanudin,imam bonjol,dipenogoro,dll….mereka berjuang dengan tidak lupa mengkumandangkan takbir,allahuakbar..allahuakbar.

      Pernah dengar yang berjuang sambil meneriakan helleluya,atau om shanti om atau yg lainnya???

      Maafkalau ada komentar yg kurang berkenan..

  1. “subhanallah… ya allah ajar kan aku bagai mana cara mencintai mu,mencintai rasulullah saw utusan mu dan para sahabat nya…

    #islamituindah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s