Membangun Akal Raksasa dengan Kecerdasan Qur’ani

Oleh: Shalih Hasyim

DALAM episode sejarah kehidupannya, sekalipun Muhammad dipersiapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala selama empat puluh tahun lamanya untuk menjadi komunikator-Nya, terbukti belum cukup. Segudang pengalaman, meliputi pengalaman spiritual, psikologi, diplomasi, pekerja sosial, militer, parenting, pemimpin, figur publik, tidak memadai sebagai modal untuk dijadikan problem solving dalam menterapi patologi sosial yang menjangkiti bangsanya pada stadium akut.

وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” [QS. Adh Dhuha (93) : 7]

Bingung yang dimaksud adalah kebingungan – kehilangan arah/rute –  untuk memperoleh kebenaran mutlak (al-Haqiqah al-Muthlaqah) yang tidak bisa dicapai oleh akal pikiran, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai jalan untuk memimpin ummat (masyarakat jahiliyah yang terjangkiti penyakit moral – minum-minuman keras, membunuh, mencuri, main judi, makan riba, main perempuan) menuju kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Itulah sebabnya, beliau senang berkhalwat (menyendiri) selama tiga tahun untuk mengadakan perenungan yang luar biasa (untuk mencari solusi mengatasi kerumitan masyarakat jahiliyah)  di Gua Hira.

Dan ketika struktur kepribadiannya sudah matang menurut penilaian-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala berkenan menurunkan kepadanya wahyu Al-Qur’an. Yang berisi perintah dan larangan yang terasa berat dipikul secara pisik dan jiwa. Ternyata, keunggulan isi Al-Qur’an  baru fungsional sebagai petunjuk jika didukung kehebatan pelakunya. Konsep yang agung memerlukan pelaksana yang sepadan dengan kemuliaannya.

“Kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” [QS. Al Hasyr (59) : 21]

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi Jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran Itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [QS. Ar Ra’du (13) : 31]

Ahli tafsir mengatakan ”Al-Quran la yunthiq walakin yunthiquhur rijal” (Al-Qur’an tidak dapat berbicara (hanya berupa tulisan yang kering), tetapi yang mengucapkannya dengan lantang adalah manusia).

Jadi, Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan yang diturunkan Allah untuk Muhammad dan seluruh umat manusia. Bukan diturunkan untuk orang yang telah meninggal dunia. Sebagai pemandu tata kelola dan tata laksana kehidupan (manhajul hayah) agar memperoleh kebahagiaan dan keselamatan di dua tempat (sa’adatud daraini – di dunia dan akhirat).

Hanya saja yang perlu menjadi titik tekan (stressing) disini Allah tidak membatasi wahyu yang terakhir sebagai petunjuk peribadatan (hablun minallah) ansich. Atau hanya mengandung ayat-ayat hukum, sejarah, etika, atau dimensi keilmuan yang lain. Jika Al-Qur’an hanya kita pandang sebagai ilmu, kekayaan intelektual, maka apa bedanya dengan ilmu yang lain ?. Tetapi memuat rumusan yang jitu untuk sukses dalam menjalin komunikasi dengan Allah Subhanahu Wata’ala, sesama manusia dan makhluk lainnya serta terhadap alam semesta.

Ketika wahyu yang pertama kali diturunkan, yakni surah al-Alaq (96)  ayat 1-5, Al-Qur’an justru meletakkan prinsip/landasan berpikir dan bertindak yang amat penting bagi manusia, yaitu ilmu pengetahuan. Membaca adalah langkah awal menuju ditemukannya berbagai ilmu pengetahuan, dan itulah perintah pertama (sebelum perintah yang lain) yang diturunkan Tuhan melalui wahyu yang pertama turun.

Dengan perintah membaca yang diulangi dua kali mengajarkan, sesungguhnya sekalipun obyek bacaan hanya itu-itu saja akan melahirkan inspirasi, tafsir, ide, cara pandang  baru dari yang sudah ada. Dan itulah diantara keunggulan wahyu Allah SWT. Berbagai penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan akan terjadi jika proses membaca dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

Syeikh Muhammad Abduh mengatakan, “berbeda dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, Al-Qur’an bagaikan gadis (belum disentuh oleh campur tangan tangan jahil manusia), jika dibaca secara terus-menerus akan melahirkan makna-makna baru dari sebelumnya.”

Dengan ayat pertama itu sekaligus mengandung petunjuk bagaimana seharusnya manusia itu membaca. Dalam melakukan aktifitas membaca melazimkan adanya proses spiritual (riyadhah dan mujahadah – olah batin – )  terlebih dahulu. Yakni bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dalam membaca obyek bacaan apa saja, hendaknya berpijak pada tuntunan, bimbingan dan arahan Allah Subhanahu Wata’ala (taujih ilahi), bukan berdasarkan pikiran manusia belaka. Karena firman Tuhan yang maha mutlak kebenarannya (al-Haqiqah al-Muthlaqah) memiliki cara sendiri, bagaimana seharusnya ia dipahami. Dengan cara demikian akan melahirkan ilmuan yang didahului oleh kesadaran ilahiyah dalam dirinya. Tanpa bimbingan-Nya.

Nabi Ibrahim, sekalipun manusia pilihan Allah SWT, terbukti tidak bisa menemukan Tuhannya, tanpa arahan dan bimbingan dari-Nya.

Masih dalam wahyu pertama turun itu, Al-Qur’an telah memberi isyarat obyek bacaan yang amat penting. Yaitu penciptaan manusia dari segumpal darah (min ‘alaq). Bagaimana kejelasan eksistensi manusia lebih lanjut, manusia dipersilahkan oleh Tuhan untuk membacanya (mengadakan penelitian) lebih jauh sehingga menemukan ilmu pengetahuan tentang embriologi. Manusia diarahkan untuk melihat ke atas (langit), ke tengah (diri sendiri) dan ke bawah (bumi dan seisinya serta tempat kembali manusia). Melihat ke tiga arah tersebut mengantarkan manusia menjadi fisikawan, embriologi dan ahli geologi.

Demikianlah sekedar sebuah contoh untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an petunjuk kehidupan manusia yang perlu terus digali  kandungan maknanya, baik secara tekstual dan kontekstual.

Jika terus digali dan dielaborasi kandungan maknanya dan tidak dibatasi atau berhenti pada masalah-masalah ushul – prinsip-prinsip yang tidak berubah saja –  (aqidah, ibadah dan akhlak), tetapi pula masalah furu’ (tidak prinsip), Al-Qur’an potensial membuat umat Islam menjadi cerdas dalam memahami, memilah-milah, mengurai (ahlul halli wal ‘aqdi) dan menyikapi berbagai persoalan dalam kehidupan ini.

Imam Nawawi mengatakan,”Al-Quran Hammalatul Makna” (Al-Qur’an mengandung kedalaman makna yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman).

Jika kemampuan itu dimiliki, itulah yang dinamakan sebagai kecerdasan Qur’ani atau Qur’anic Quotient. Kecerdasan qurani identik dengan kecerdasan tingkat tinggi – supra rasional, kemampuan untuk memahami dan menyikapi sesuatu hal (keadaan/masalah) dengan cara pandang Al-Qur’an. Pendengaran, penglihatan, hati dan instrumen lain yang dikaruniakan oleh Allah SWT mengalami disfungsi jika disconnect terhadap kalimatullah (ayat-ayat qur’aniyah) dan khalqullah (ayat-ayat kauniyah).

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَلاَ يِنقُضُونَ الْمِيثَاقَ

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الحِسَابِ

وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,. dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[tali silaturrahim], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” [QS. Ar-Ra’du (13) : 19-23]

Umat Islam akan dapat hidup at home – sejahtera lahir dan batin – makan kenyang, pakaian lengkap, tidur nyenyak, hunian yang layak. Mereka hidup benar-benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dalam menghadapi pasang-surut (naik-turun kehidupan) dan dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, bila memiliki dan mendayagunakan kecerdasan qur’ani. Jadi, kecerdasan qur’ani adalah alat yang efektif dan efisien dalam menghadapi fluktuasi dan dinamika zaman dan persoalan yang menyertainya. Sesuatu yang ironis, kenyataan membuktikan dan menunjukkan bahwa dewasa ini umat Islam sendiri masih sangat awam dan mayoritas jauh dari Al-Qur’an.

Realitas yang timpang tersebut, umat islam sudah waktunya digalakkan terus untuk memperbaiki dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dibimbing untuk dekat dengannya, membaca dan memahami kandungannya. Dengan cara itulah Al-Qur’an berhasil merekonstruksi pola pikir, hati dan perilaku umat Islam yang pertama (as-Sabiqun al-Awwalun). Itulah dasar bagi dibangunnya kecerdasan qur’ani itu.

Ayat-ayat tanziliyah dan ayat-ayat kauniyah

Bertolak dari pemikiran diatas betapa pentingnya dibangun dan ditumbuh kembangkan kecerdasan qurani itu. Kecerdasan qur’ani harus dimulai sejak dini (ketika panca indranya dan indra lainnya belum terkontaminasi oleh residu lingkungan sosialnya), terus berkelanjutan dan terprogram.

Mungkinkah kita memperoleh kecerdasan qur’ani tanpa mentadabburi kandungannya, sebagaimana yang diisyaratkan firman Allah Subhanahu Wata’ala di awal tulisan ini?  Potensi penglihatan, pendengaran, hati, yang tidak diberdayakan untuk berinteraksi dengan ayat-ayat tanziliyah dan ayat-ayat kauniyah yang digelar di setiap ufuk, akan mengalami disfungsi. Yakni, tuli dalam mendengarkan kebenaran wahyu, bisu dalam mengucapkan kebenaran wahyu dan buta dalam melihat kebenaran wahyu.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” [QS. Al-Araf (7) : 179]

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan [hatinya mengingkarinya], Padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli [tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran] yang tidak mengerti apa-apapun.” [QS. Al-Anfal (8) : 21-22]

Kecerdasan qur’ani melebihi/mengungguli/mengatasi kecerdasan yang pada umumnya dimiliki manusia, yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Jika kecerdasan spektakuler ini dimiliki oleh seseorang, maka akan  mencerdaskan pikirannya, menghaluskan hati dan perasaannya dan menggerakkan fisiknya untuk berjihad di jalan-Nya.

Dengan konsisten (istiqamah)  dan komitmen (iltizam) terhadap nilai-nilai yang diserap dari Al-Qur’an akan melahirkan kehidupan individu yang sejahtera lahir dan batin (hayatan thayyibah), keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, masyarakat yang penuh berkah – tumbuh dan berkembang dalam kebaikan (qaryah mubarakah), negeri yang aman (baladan amina), beberapa negeri yang makmur diliputi ampunan Tuhan Yang Maha Pengampun (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Wallahu a’lam bish-shawab.

[Sumber]

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

2 thoughts on “Membangun Akal Raksasa dengan Kecerdasan Qur’ani

  1. subhanallah, bacaan ini sangat bagus. ayolah semua orang baca ini, bacaan ini sangat bermanfaat dan memotivasi saya..
    syukran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s