Pluralisme Agama, Gagasan Orang Jahil Ilmu dan Dungu

Oleh  Abu Jundullah Muhammad Faisal, SPd. M.MPd

Segala Puja dan puji hanya milik Allah Ta’ala. kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kta berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Azza wa Jalla, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melainkan Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

Sebaik-baik petunjuk ialah Kitabullah (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasulullah yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka)“.

Gagasan pluralisme agama, yaitu paham yang menganggap semua agama itu sama karena berasal dari Allah, sebenarnya berasal dari faham rusak Ibnu Arabi yaitu Wihdatul Adyan (penyatuan semua agama), yang diikuti secara taklid oleh orang-orang semacam, Gus Dur, Ulil, Abdul Munir Mulkhan, Syafii Maarif dan sebagainya.

Agama Kristen (Katholik dan Protestan) – serta ratusan bahkan ribuan sekte yang berasal darinya– jelas bukan ajaran yang berasal dari Allah melalui Nabi Isa alaihissalam. Tetapi, ajaran agama yang antara lain dibawa oleh Paulus dengan cara merusak ajaran agama yang dibawa Nabi Isa alaihissalam. Begitu juga dengan agama Kong Hucu, Budha, Hindu, Shinto dan sebagainya, bukanlah ajaran agama yang berasal dari Allah.

Mengapa gagasan pluralisme agama disebut sebagai gagasan orang dungu? Cobalah simak kejadian berikut ini :

Seorang pemandu tamu Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panji gumilang di Indramayu Jawa Barat menjelaskan kondisi pesantren megah itu kepada pengunjung dalam mobil ketika mengelilingi pergedungan dan kawasan pesantren ini. Pemandu mengatakan : “Pesantren ini menerima juga santri-santri yang non muslim”. Lalu seorang bocah keturunan India dalam mobil ini bertanya : “Lho kok menerima santri non Muslim Pak, kan ini pesantren?”.

“Ya, kami menerima murid yang non muslim pula, karena semua agama itu sama, semuanya dari Tuhan juga. Jadi semua agama sama”, jawab pemandu.

Mobil pun tetap berjalan pelan-pelan. Pemandu masih sering menjelaskan ini dan itu kepada pengunjung sekitar 10-an orang dalam mobil itu. Lalu mobil lewat di depan deretan kandang yang isinya banyak sapi. Bocah keturunan India itu bertanya lagi : “Pak, itu banyak sapi, untuk apa pak, sapi-sapi itu?”.

“Untuk disembelih, dijadikan lauk bagi para santri”, jawab pemandu.

“Lho, sapi kok disembelih Pak. Tadi bapak bilang, semua agama sama. Lha kok sapi boleh disembelih pak?”. Tanya bocah keturunan India yang bagi agama dia sapi tak boleh disembelih itu.

Ditunggu bermenit-menit tidak ada jawaban dari pemandu. Adanya hanya diam. Padahal hanya menghadapi bocah yang dibawa oleh bapak dan ibunya dan belum dapat bepergian sendiri itu.

Baru menghadapi bocah saja, orang yang berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini sudah tidak mampu menjawab. Padahal masih di dunia. Apalagi di akhirat kelak.

Di dunia ini sudah ada tuntunannya, bahwa agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Yang lain tidak diridhai. Maka jelas tidak sama antara yang diridhai dan yang tidak. Yang bilang sama, itu hanya orang-orang yang tak menggunakan akalnya.

Islam Membantah Pluralisme Agama

Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhai-Nya, bukan pendapat manusia, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang mengatakannya.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali-‘Imran : 19)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”(QS. Ali-‘Imran : 85)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan secara gamblang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda : “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallAllahu ‘alaihi wassalam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallAllahu ‘alaihi wassalam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau)

Dalam penerapan agama itu maka tidak ada pilihan lain lagi, apabila Allah dan rasul-Nya telah menentukan sesuatu.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab : 36)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan : “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nuur : 51)

Gagasan pluralisme agama ini terutama disosialisasikan oleh tokoh-tokoh pengajar dari UIN (Universitas Islam Negeri), IAIN (Institut Agama Islam Negeri), STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta), bahkan orang liberal di berbagai lembaga. Seharusnya mereka dilarang mengajar apalagi sampai menjabat Rektor di UIN maupun IAIN, karena UIN dan IAIN adalah lembaga pendidikan tinggi agama Islam.

Seharusnya, mereka kalau memang gentle bikinlah UAAIN (Universitas Anti Agama Islam Negeri) dan IAAIN (Institut Anti Agama Islam Negeri). Tetapi ungkapan ini jangan dianggap sebagai suruhan, namun maksudnya adalah suatu peringatan keras, agar jangan sampai merusak Islam, apalagi lewat perguruan tinggi Islam.

Kenyataannya, ketika dirasa pembusukan aqidah lewat perguruan tinggi Islam dan sebagian organisasi Islam sudah dapat mereka lakukan, mereka kemudian membuat lembaga pendidikan tinggi dan pesantren yang mereka anggap akan lebih intensif dalam memusyrikkan lagi. Maka bertandanglah mereka, kerjasama antara UIN Jogjakarta, UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta, dan sebuah universitas Nasrani. Dibuatlah pendidikan tinggi antar agama di Jogjakarta. Sedangkan Gus Dur tak mau ketinggalan, maka dia membuat pula pesantren multi agama di Semarang bersama rekannya yang dulu memimpin gerombolan apa yang disebut pasukan berani mati.

Cuplikan beritanya sebagai berikut :

Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama (Forkhagama) mendirikan pesantren multiagama Bhinneka Tunggal Ika. Bertempat di Pondok Pesantren Soko Tunggal Jl. Sendangguwo Raya, Sabtu petang kemarin, pemancangan Prasasti Deklarasi Soko Tunggal ditandatangani Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tokoh-tokoh agama yang turut menandatangani prasasti berasal dari agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan Khonghucu. Menurut Ketua Forkhagama KH Nuril Arifin atau yang biasa disebut Gus Nuril, pesantren didirikan dengan tujuan menciptakan persatuan di Indonesia. Pesantren multiagama itu akan dibangun di atas tanah seluas 9.000 m2 di Kelurahan Purwosari, Mijen yang merupakan tanah wakaf Gus Nuril. (Suara Merdeka, Semarang, Senin, 19 Desember 2005).

Pluralisme Agama Beda dengan Pluralitas

Pluralisme agama itu beda dengan pluralitas. Pluralitas hanyalah mengakui adanya agama-agama, tidak mengakui sama ataupun benarnya. (Kalau pluralitas dalam satu agama, kami maksudkan dalam tulisan ini adalah kebalikan dari eksklusivitas. Misalnya orang Al-Irsyad, Persis dan lainnya boleh-boleh saja shalat di masjid orang Muhammadiyah, itu pluralitas. Sedang orang LDII hanya ada di masjid mereka dan masjid mereka hanya untuk mereka, itu eksklusif). Sedang pluralisme agama itu mengakui semua agama sama. Jadi pluralisme agama itu faham kemusyrikan, menyamakan semua agama, maka penyembah berhala disamakan dengan penyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengertian yang mudah difahami umat Islam adalah istilah musyrik. Ketika diganti dengan istilah baru, pluralisme agama, maka umat ini tidak faham. Padahal sebenarnya adalah kemusyrikan, dan termasuk upaya-upaya orang musyrik dalam meneguhkan kemusyrikannya.

Dalam riwayatnya, orang musyrikin Quraisy di Makkah pun meminta Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyembah berhala selama satu tahun, dan mereka akan menyembah Allah selama satu tahun juga. Kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun, dan di dalamnya Dia memerintahkan Rasul-Nya untuk melepaskan diri dari agama mereka secara keseluruhan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Kafirun ayat 1).

Kalau model kemusyrikan sekarang yang namanya pluralisme agama, bukan masalah penyembahannya yang dipentingkan, namun pemahamannya, dari aqidah tauhid ditarik-tarik ke kemusyrikan yang diganti nama dengan pluralisme agama.

Dari sini jelaslah bahwa pluralisme agama itu faham kemusyrikan, dan merupakan upaya-upaya orang musyrikin dalam propaganda kemusyrikannya. Itu semua telah dibantah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Kafirun.

Sebenarnya masalah pluralitas (mengakui adanya perbedaan, bukan mengakui semua agama sama seperti pluralisme) secara intern di kalangan Islam tidak masalah. Jamaah NU tidak ada hambatan apapun shalat di masjid orang-orang Muhammadiyah dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya.

Kalau toh ada eksklusivitas, itu biasanya terjadi di kalangan aliran sesat seperti LDII (Islam Jama’ah), Ahmadiyah Qadian dan Lahore dan sejenisnya. Mesjid mereka tertutup bagi kalangan di luar mereka. Pernikahan pun hanya terjadi di antara sesama mereka.

Yang juga eksklusif adalah agama Kristen. Orang Katholik tidak mau disamakan dengan orang Kristen Protestan, mereka beribadah di gereja masing-masing. Bahkan orang Katholik menyebut dirinya “Katholik” saja tanpa embel-embel Kristen, berbeda dengan “Kristen Protestan” yang masih menempelkan Kristen sebelum sekte Protestannya.

Orang Katholik tidak dibenarkan menikah dengan Kristen Protestan meski sama-sama bertuhankan Yesus. Apalagi dengan agama lain.

Di dalam Kristen terdapat ratusan bahkan ribuan sekte yang masing-masing punya gereja sendiri. Jemaat gereja Bethel tidak beribadah di gereja Nehemia, begitu seterusnya. Bahkan pernikahan pun demikian, sebisa mungkin terjadi di antara jemaat satu gereja.

Berbeda dengan Kristen yang eksklusif, agama-agama kebudayaan seperti Hindu, Budha, Kong Hucu, meski terkesan longgar namun tetap saja berpendirian tidak semua agama sama. Mereka memang tidak keberatan ritual keagamaannya dijadikan objek wisata. Bahkan penganut agama lain pun, bila ingin menikah dengan tata cara (ritual) agama mereka, boleh-boleh saja. Pernah terjadi, Mick Jagger dedengkot The Rolling Stone menikah di salah satu negara Asia dengan menggunakan tata cara (ritual) agama mayoritas di negeri tersebut. Padahal kedua mempelai bukanlah penganut agama tersebut.

Masih ingat ketika Megawati bersembahyang di Pura? Padahal ia bukan penganut Hindu. Pendeta dan masyarakat Hindu di Bali tidak marah, malahan mereka senang sekali. Sampai-sampai, ketika AM. Saefuddin meledek Megawati, orang-orang Hindu bukannya marah kepada Megawati tetapi justru kepada AM. Saefuddin. Padahal, seharusnya mereka berterimakasih bukannya malah marah kepada AM. Saefuddin.

Tahun 2006, penerbit Media Hindu pernah meluncurkan buku berjudul “Semua Agama Tidak Sama” yang berisi kumpulan tulisan sejumlah tokoh dan cendekiawan Hindu. Intinya, mereka mengkritisi Pluralisme Agama.

Ngakan Made Madrasuta, editor buku tersebut, dalam kata pengantarnya menyanggah paham pluralisme agama yang sering dijajakan kaum Hindu pluralis. Mereka, kaum Hindu pluralis itu, selama ini telah memelintir makna yang tersurat dari Bagawad Gita, yang antara lain berbunyi : “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”

Menurut Madrasuta, itu tidak bisa dijadikan dasar pembenaran atas pluralisme agama (Hindu). Karena, yang disebut “Jalan” adalah empat yoga : Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Kesemuanya itu hanya ada dalam agama Hindu. Tidak ada dalam agama lain.

Begitulah faktanya…

Anehnya, kaum liberal justru memaksakan gagasan pluralisme agama ini untuk diterapkan umat Islam, seolah-olah umat Islam begitu eksklusif dan tidak mengenal toleransi serta mengabaikan pluralitas. Padahal, Islam adalah perekat bangsa. Tanpa Islam, masyarakat di kawasan Nusantara ini, terkotak-kotak berdasarkan suku. Artinya, gagasan pluralisme agama yang diusung kaum sepilis bukan saja aneh tapi gagasan orang dungu.

Meniru Orang Kafir dan Tak Percaya Diri

Gagasan pluralisme agama sebagaimana diusung kalangan sepilis, sesungguhnya bukan hal baru. Gagasan sejenis sudah sejak lama diusung oleh pemeluk agama Baha’i –merupakan sempalan paham sesat Syi’ah Imamiah, yang pertama kali diperkenalkan oleh Mirza Ali Muhammad.

Berbeda dengan kaum sepilis yang berpendidikan dan berpenampilan intelek, penganut agama Baha’i ini umumnya berpenampilan ndeso sehingga tidak mampu meyakinkan masyarakat luas termasuk media massa seperti Kompas dan Jawapos untuk mengakomodasi kesesatannya.

Peganut agama Baha’i ini meski mengakui keberadaan Nabi Muhammad, namun bukan sebagai rasul terakhir. Karena Muhamad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah meninggal, maka nabi mereka adalah Bahaullah. Di titik ini ada kemiripan dengan paham sesat Ahmadiyah.

Menurut mereka, semua agama itu benar dan sama, tidak ada agama yang salah, karena yang salah cuma orangnya. Meski mengaku bertuhankan Allah, namun penganut agama Baha’i ini memiliki kitab suci sendiri yaitu Al-Aqdas.

Menurut Al-Aqdas, shalat bagi penganut agama Baha’i ini dibagi tiga: ringan, sedang, dan berat. Ibadah ringan hanya sebatas ingat shalat. Ibadah sedang, dengan berdiri beberapa saat. Ibadah berat, bisa berupa shalat sehari semalam. Pelaksanaan ibadah itu hanya satu kali sehari, menghadap kiblat Aka.

Meski ndeso, penganut agama Baha’i ini jauh lebih gentle karena dengan tegas mengatakan Baha’i adalah agama tersendiri, bukan Islam. Ungkapan ini bukan mengurangi nilai sesatnya, tetapi dari segi keterus-terangannya bahwa mereka bukan Islam itu satu kenyataan. Bandingkan dengan Ulil (Abshar Abdalla), Musdah Mulia, Gus Dur, Syafi’i Maarif, Syafi’i Anwar, Abdul Munir Mulkhan dan kawan-kawannya, atau Ahmadiyah, Syi’ah dan LDII yang selain tidak gentle juga tidak percaya diri dengan keyakinan sesatnya, sehingga masih terus menempelkan Islam di depan agama sesatnya itu.

Semoga kita Selalu dalam Lindungan Allah  ‘Azza wa Jalla dan Umat Islam yang haus akan kebenaran Islam yang murni, dan risalah ini semoga dapat bermanfaat bagi Umat Islam, walaupun banyak yang tidak mendukung tapi risalah ini Penulis persembahkan bagi orang islam yang haus akan kebenaran islam. Do’aku selalu menyertai kalian semua yang selalu mengemban dakwah tauhid dan jihad. Amien Ya Mujibas Saliem.

Salam Dakwah Tauhid dan Jihad, Bumi Allah ‘Azza wa Jalla…

Saudaramu Ikhwah fillah yang Dha’if…

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

8 thoughts on “Pluralisme Agama, Gagasan Orang Jahil Ilmu dan Dungu

  1. Marilah mencoba berfikir lebih luas dalam memandang sesuatu, menurut saya makna semua agama sama itu adalah seperti ini: semua agama memiliki tuhan/ dewa2 yg dianggap sebagai tuhan mereka untuk disembah, tiap agama juga mempunyai Kitab suci, mempunyai hukum/adat/ritual, dls. Jadi bukan dalam artian semua agama mempunyai tuhan yang sama ataupun aturan hukum/adat/kebiasaan yang sama. Demikian pendapat saya. Lalu dalam kasus agama Yahudi, Kristen dan Islam misalnya memiliki akar yang sama yaitu kitab2 yg diturunkan melalui nabi nabinya adalah dari ALLAH SWT, dan Al Quran adalah pelengkapnya. (terlepas dari kepercayaan sebagaian umat Islam yg menyangka bahwa kitab2 tersebut dirubah oleh Paus/Rabbi2 Yahudi). Marilah saling menghormati kepercayaan/agama org lain. Di jaman Nabi Muhamad SAW saja umat Yahudi, Nasrani, Majusi hidup rukun dan aman dibawah perlindungan Nabi yang penyayang dan tolerant. I love Muhammad SAW.

    • Berfikir lebih luas boleh2 saja asalkan tetap berpegang pada Al-Qur’an & As-Sunnah. Kalau tidak, bisa melenceng dari agama nantinya.. Saya ajak anda untuk melihat fakta sejarah, dlm kepemimpinan Rasulullah SAW kaum mana yg khianat terhadap syari’at islam lalu diusir oleh Rasulullah SAW? lalu kaum mana yg banyak membunuh para nabi? ya, BANI ISRAIL (ISRAEL). Perhatikan, berapa banyak ayat Al-Qur’an dan berapa banyak hadits yg mengabarkan/memperingatkan kpd umat muslim soal kaum yg satu ini? Dari dulu sampai sekarang kebanyakan dari mereka tidak rela kalau Hukum Allah yg tegak di muka bumi ini. Saat ini ideologi2 ciptaan mereka jumlahnya banyak dan halus sekali dalam menyerang dan meracuni pemikiran umat muslim agar jauh dari agamanya, apalagi di negeri ini yg sekarang punya label baru; NEGARA DEMOKRASI. Artikel di atas hanya bermaksud membuka fikiran umat muslim dengan memperhatikan Ayat2 Allah..

  2. makanya islam jadi musibah lil alamin…
    buka mata, buka telinga..lihat sekitar…
    islam vs budha di myanmar, thailand dan bangladesh
    islam vs hindu di india
    islam vs kristen, di mana-mana..
    islam vs islam, di timur tengah dsb, contoh mesjid sunni di iran di bom syiah, syiah sampang, madura dibantai non syiah, ahmadiyah di bantai non ahmadiyah…dsb..
    tak perlu pakai tafsir dalil agama seenak udel…
    musibah….

    alloh pun tak punya kuasa..
    masa ngaku-ngaku maha kuasa..
    ngaku-ngaku nurunin injil dan zabur…
    tapi tak bisa jaga kemurniannya.
    sampai harus turunkan revisi bernama al quran…

    di mana kemahakuasaanmu alloh? jaga kitab suci yang kau turunin saja kau tak mampu..

  3. fss: gunakan etika dalam berkomentar..
    kalau anda bukan orang islam, pantas saja anda berkomentar seperti itu.
    al qur’an adalah kitab terakhir, akhir zaman.
    injil, taurat, zabur ada masanya bagi kaum di massa itu.

    al quran lebih sempurna, dan memang benar2 untuk umat dunia saat ini.
    al quran terjaga kemurnianx, lain halx dg inil yang bnyak tulisan/ gubahan/tambahan dari beberapa oknum. qur’an terjaga keaslianx, bnyak ahli kitab penghafal qur’an. jadi tak mungkin dirubah2 atau direvisi lagi sejak jaman nabi muhammad.
    isi, makna, kandunganx tak terbantahkan lagi., bahkan relevan dg kehidupan saat ini.

    • Yahh dimana letak keindahan HAM saat apa itu arti hak asasi manusia dengan HAM wanita wanitanya bebas bertelanjang tanpa kejahatan akan semakin marak, maka hukum tertinggi itu hanyalah al-qur’an patut dicontoh, HAM sebuah proyek tanpa aturan kita di dunia ga boleh seenaknya karena hanya Allah lah yang boleh bertindak semaunya, sungguh sudah sangat kuat doktrin doktrin musuh musuh islam meracuni semua kalangan di dunia ini

      • berpikiran yg luas dan menyikapi setiap kejadian didunia ini hendaklah kita bisa memahaminya,,teman teman ku semua yg aku sayangi,,mungkin anda blm merasakan betapa sedihnya hidup gak tentram tertekan ,ancaman,kelaparan,perang,pembantaian yang sadis,dendan berkepanjangan,,itu semua gara gara perbedaan agama.saling membenarkan agamanya masing masing,,mungkin enak memberikan komentar seperti ini tanpa ada tekanan apapun,,, coba kalau anda mengalami hal yang saya utarakan di atas,,apa yang anda perbuat,,saling menyalakan,,!!!!!!!!!!!

  4. semua agama memang sama ,, sama” menyembah tuhan yang universal (umum) bukan berarti dalam aqidah suatu agama disamakan,, dan masing masing agama mempunyai tata cara peribadatannya yg berbeda,, ini yg tidak boleh disamakan,, islam ya menjalankan dengan peribadatannya bgitu juga yg non islam,, memang benar “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali-‘Imran : 19)” akan tetapi kata (ISLAM) bukan hnya secara dzhir (harfiah) saja melainkan harus memaknai-nya agar islam disini menjadi rahmatan lil alamin ini yang dinamakan “pluralisme”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s