Sekali Lagi tentang Syi’ah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz (Penulis buku-buku Islam, tinggal di Jakarta)

Syi’ah bukan saja secara akidah berbeda dengan Islam sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mempunyai paradigma yang berbeda.

Pengikut Syi’ah memandang Imam itu ma’shum (orang suci). Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena yang ma’shum hanyalah Nabi. Mereka juga memandang bahwa menegakkan kepemimpinan, pemerintahan (imamah) adalah rukun agama. Kalangan Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait. Mereka juga tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Pengikut Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sudah diharamkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Penganut paham Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui. (Al-Kulaini, Al-Kafi fil Ushul, juz II hal 217).

Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah, yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Kiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.  (Biharul Anwar 8/ 363, dan al-I’tiqadaat lil-Majlisi halaman 100).

Aliran Syi’ah ini muncul sejak zaman Ali bin Abi Thalib ra, 37 H.

Lafal Syi’ah (golongan) dikaitkan pada golongan orang-orang yang memihak atau menyokong kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya, dan menetapkan bahwa para khalifah sebelumnya adalah tidak sah.  Ketiga sahabat Nabi yang terdahulu mereka kutuk sebagai perampas kekhalifahan Sayidina Ali, yang demikian itu bertentangan dengan faham Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, tentang Khulafaur Rasyidin.

Sejarah mencatat bahwa biang keladi dari timbulnya golongan Syi’ah seperti yang dikenal sekarang adalah: Abdullah bin Saba’, seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada 35 H.  (Drs. Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sientarama Jakarta, cetakan II, 1988, halaman 324).

Ibnu Taimiyah menjelaskan, pangkal perkataan Rafidah/ Syi’ah adalah:

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan Ali (mengangkatnya sebagai orang yang berhak menggantikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dengan ketentuan pasti, dan ia (Ali) adalah imam yang ma’shum (terjaga dari dosa).  Barangsiapa menyelisihinya maka kafir.  Orang-orang Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan ketentuan (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu dan kafir terhadap imam yang ma’shum itu, mengikuti hawa nafsu dan mengganti agama, mengubah syari’at, dhalim, melampaui batas, bahkan mereka (para sahabat itu) telah kafir kecuali sedikit orang, boleh jadi belasan atau lebih.  Kemudian orang Rafidhah/ Syi’ah berkata: Sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan semacamnya senantiasa munafik.

Kadang mereka (Syi’ah) berkata: Bahkan mereka (Abu Bakar dan lainnya) beriman lalu kafir.

Kebanyakan orang Syi’ah mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka, dan menamakan diri mereka sendiri mu’min, siapa yang menyelisihi mereka adalah kafir. (Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa, 3/356).

Padahal Allah SWT saja memuji para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang- orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah: 100)

Syekh Muhammad At-Tamimi menjelaskan: Syi’ah -yang benar adalah sebutan Rafidhah (yang ditolak, asli kata itu artinya yang menolak, tetapi maksudnya adalah yang ditolak, pen) karena pengelompokan mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah pengelompokan yang ekstrim keterlaluan, ditolak oleh Ali ra. Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Iqtidho’us shirothil mustaqiem mukholafafatu ash-haabil jahiim, halaman 391, berkata: Sesungguhnya Rafidhoh/ Syi’ah adalah kelompok paling dusta dari kalangan ahlil ahwa’ (pengikut hawa nafsu), paling besar kemusyrikannya, maka tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dibanding mereka, dan tidak ada yang lebih jauh dari Tauhid (melebihi mereka). [1]

Orang Syi’ah yang ghuluw/ ekstrim pimpinan Abdullah bin Saba’ (pendeta Yahudi yang masuk Islam 35 H) sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib, mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib ra. (lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 2, halaman 775).  Terdapat tiga sekte utama dalam Syi’ah:

  • Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) yaitu sekte Imam Dua belas, yang merupakan golongan terbesar dan dijumpai terutama di Irak dan Iran.
  • Syi’ah Sab’iyah, yaitu sekte Imam Tujuh, yang juga dikenal sebagai Isma’iliyah, karena menuntut Isma’il sebagai Imam ke-tujuh.
  • Syi’ah Zaidiyah, yaitu sekte Syi’ah kecil, yang lama kelamaan mendekati kaum Sunnah (sekarang hidup di Yaman). [2]

Kini Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) menyebar ke lain tempat, termasuk Indonesia.  Mereka mempercayai adanya 12 Imam keturunan Ali yang dianggap ma’shum (terjaga dari dosa).  Padahal yang ma’shum itu hanya Nabi.  Perkataan Imam dianggap sama dengan perkataan Nabi.  Syi’ah Imamiyah itu masuk ke Indonesia setelah revolusi Iran 1979. Sampai 1993 pun Jalaluddin Rakhmat di Bandung yang sudah sangat dikenal oleh ulama Syi’ah seperti Syaikh Taskhiri di Iran,namun Jalal masih mengaku Susi, Sunnah-Syi’ah.

Belakangan, tahun 2000 kala Gus Dur jadi presiden barulah didirikan apa yang mereka sebut Ijabi (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) dengan alasan mumpung presidennya Gus Dur.  Sedang penyiaran kesyi’ahannya dibungkus-bungkus lewat jalur tasawuf, baik lewat buku karangan, pendidikan, maupun pengajian. Di antaranya Jalaluddin merangkul anak bekas wakil Presiden di masa lalu untuk mengembangkan Syi’ah lewat tasawuf.

Orang-orang seperti Alwi Shihab, Quraish Shihab, Haidar Bagir dan semacamnya merupakan jalur yang sering orang sebut sebagai dekat dengan Syi’ah, hingga Quraish Shihab yang punya rubrik tanya jawab Agama Islam di koran Republika waktu lalu mengambil kesempatan untuk mengemukakan bahwa Sunni dengan Syi’ah hanya beda masalah politik.  Modal taqiyyah (menyembunyikan keyakinan yang asli) rupanya diamalkan pula, sambil mengeliminir masalah.

Di samping itu Syi’ah punya “modal” nikah mut’ah yang konon salah satu hal yang menarik bagi para pengumbar syahwat, di antara mereka kalangan muda dan mahasiswa.  Entah pula yang lainnya.  Karena sikap ghuluw (ekstrimnya) hingga menuhankan Imam mereka dan keekstriman-keekstriman lainnya, maka Imam Ibnu Taimiyyah menyebut orang Syi’ah atau Rafidhah itu sebagai pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) yang paling sesat, dan paling jauh dari Tauhid.

Gerakan Syi’ah di Indonesia sudah sedemikian pesat, bukan saja karena kegigihan para misionarisnya, tetapi juga karena ketidak-tegasan pemerintah dan MUI, serta masih banyaknya umat Islam awam yang tidak kritis serta mudah terpesona oleh tampilan luar para penjaja aliran sesat ini. Lembaga misionaris Syi’ah menggunakan berbagai macam nama antara lain Ahlul Bait, Muthahhari, Muntazar, Mulla Shadra, Madinatul Ilmi, Babul Ilmi, dan sebagainya. Belakangan ada kelompok IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), ABI (Ahlul Bait Indonesia), dan ada juga apa yang disebut Muhsin. IJABI dan Muhsin dikhabarkan mengedarkan undangan peringatan Maulid Nabi, Februari 2012 di Jakarta dengan yang tercantum sebagai pembicara adalah Said Aqil Siradj dan Din Sayamsuddin, masing-masing dikenal sebagai ketua umum NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah. Padahal di Indonesia sedang ramai dan memanas suasananya akibat peristiwa Syiah di Sampang yang menyebarkan 22 kesesatan hingga terjadi bentrok 29 Desember 2011. Kemudian MUI Sampang memfatwakan Syi’ah itu sesat. Demikian pula MUI Jawa Timur memfatwakan, syiah itu sesat. Dan kemudian mereka mendesak MUI Pusat dengan hadir ke kantor MUI Pusat untuk memfatwakan syiah itu sesat.

Paham Syi’ah yang paling ekstrem mengkafirkan para Sahabat (kecuali ‘Ali bin Abi Thalib ra). Ada juga yang dalam bentuk lain, cenderung kepada penganut Syi’ah yang lebih lunak, namun umumnya mereka mengkombinasikan ajarannya dengan tarekat atau tasawuf yang kalau dikaji banyak hal yang belum tentu sesuai dengan Islam.

Fakta di lapangan ditemukan, ada sejumlah yang berpaham Syi’ah ekstrem, tidak saja mengkafirkan Khulafa ur Rasyidin (minus ‘Ali ra), tetapi mengajarkan kepada muridnya untuk mengutuk Ummul Mukminin ‘Aisyah ra karena itu menurut kepercayaan sesat mereka merupakan ibadah.

Majalah Sabili memberitakan, aliran Syi’ah yang mengkafirkan sebagian sahabat Nabi ini terus bergeliat. Di Jawa Timur, gerakan Syi’ah cukup berkembang pesat. Mereka tergabung dalam IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). IJABI telah mendapatkan pengikut yang cukup banyak. Komunitas mereka tersebar di beberapa wilayah seperti Surabaya, Bangil, dan Malang.

Di Bangil, mereka memiliki pesantren sendiri yang diberi nama YAPI (Yayasan Pesantren Islam) al-Ma’hadul Islami. Pesantren YAPI memiliki dua kampus, untuk putra dan putri. Jenjang pendidikan SMP-SMA dengan metode boarding school atau pondokan. Segala macam ilmu Islam dipelajari di sini, terutama yang berhubungan dengan Syi’ah.

Di Surabaya, selain aktif menyelenggarakan kajian di rumah-rumah, dakwah IJABI juga merambah dunia perguruan tinggi. Seolah ingin melanjutkan kesuksesan lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah di Malang dan Bangil, mereka masuk ke kampus-kampus. Unair salah satunya.

Sekitar tahun 2000, IJABI mulai masuk Unair. Tidak sulit memang bagi Syi’ah masuk dunia perguruan tinggi, karena kebanyakan mereka dari kalangan akademisi dan intelektual. Di Unair pula IJABI mendirikan IIC (IJABI Intelektual Community), yang diketuai oleh Hery Abdillah. (Sabili, 3 Muharram 1429 H, halaman 24).

Di Medan didirikan markas Syi’ah pula beberapa tahun lalu, diketuai mahasiswa dari IAIN Medan. Peresmian markas aliran sesat itu, menurut seorang anggota MUI Medan, dengan menghadirkan petinggi Syi’ah dari Iran.

Geliat aliran sesat Syi’ah juga merebak di Samarinda. Setelah mereka tampak sukses menghadirkan Quraish Shihab dari Jakarta maka acara di hotel diselenggarakan pada periode berikutnya dengan menghadirkan tokoh Syi’ah dari luar negeri. Ketika seorang ustadz mengkhutbahkan bahwa Syi’ah itu sesat, sebagian umat Islam masih belum faham. Padahal Syi’ah itu sampai berkeyakinan bada’, yaitu Allah dianggap punya sifat tidak tahu apa yang akan terjadi. Itu jelas sesat. Berbagai kesesatan ada pada Syi’ah, sehingga aliran itu sangat banyak jumlahnya, sebagian benar-benar sudah keluar dari Islam, bahkan dihukum bakar oleh Khalifah Ali ra karena menganggap dalam diri Ali  ada ketuhanannya. Makanya Imam Ibnu Taimiyah menyebut, Syi’ah itu aliran yang sangat jauh sesatnya, sangat jauh dari Tauhid. Hingga Imam Ibnu Taimiyah menulis kitab 8 jilid, Minhajus Sunnah, untuk membeberkan betapa jauhnya kesesatan Syi’ah.

Catatan Kaki:

1. (Muhammad At-Tamimi, Fatawa Muhimmah, juz 1 halaman 145).

2. (H. Endang Saifuddin Anshari, MA, Wawasan Islam, Rajawali, Jakarta, cetakan I, 1986, halaman 80).

[Sumber]

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

One thought on “Sekali Lagi tentang Syi’ah

  1. mengapa org2 terkemuka ,berlilmu sep ahmadinejad presiden iran bersikukuh dg syiah dan ajarannya…?apakah dia tdk tahu sebenarnya apa ,siapa dan bgmn syiah…? kayanya ironis skali……wallahu a,lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s