Membangun Akal Raksasa dengan Kecerdasan Qur’ani

Oleh: Shalih Hasyim

DALAM episode sejarah kehidupannya, sekalipun Muhammad dipersiapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala selama empat puluh tahun lamanya untuk menjadi komunikator-Nya, terbukti belum cukup. Segudang pengalaman, meliputi pengalaman spiritual, psikologi, diplomasi, pekerja sosial, militer, parenting, pemimpin, figur publik, tidak memadai sebagai modal untuk dijadikan problem solving dalam menterapi patologi sosial yang menjangkiti bangsanya pada stadium akut.

وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” [QS. Adh Dhuha (93) : 7] Baca lebih lanjut

Iklan

Negara Itu Akan Hancur

Oleh Muhammad Mahdi Akif

SEGALA puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Dewasa ini dunia menyaksikan kezhaliman dan permusuhan. Sabotase, pembajakan, teror, pembantaian dan berbagai tindak biadab tercermin dari sepak terjang Amerika yang mengaku sebagai polisi dunia. Amerika justru menggiring peradaban moral manusia menuju kemunduran. Mundur ke belakang menuju peradaban hewan, yang kuat memakan yang lemah dan yang pintar mengelabui yang bodoh. Keadaan ini justru bertolak belakang dengan kemuliaan manusia yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an: Baca lebih lanjut

Mengapa Harus Seperti Lebah?

RASULULLAH saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya),” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar).

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan  manfaat bagi manusia lain.” Baca lebih lanjut

Ust Sudirman: Jenderal Yang Selalu Meneriakkan ‘Allahu Akbar’

SIAPA tidak kenal Jenderal Sudirman? Namanya tetap harum sampai kini. Ada banyak sisi lain dari Jenderal Sudirman. Ia adalah seorang ustad, ulama, dan pahlawan bangsa yang besar.

Di Bodas Karangjati, Purbalingga, bayi Sudirman pertama kalinya menangis tepatnya tanggal 24 Januari 1916. Sudah terlihat sekali jika sejak kecil Sudirman punya jiwa sosial yang tinggi. Semasa mudanya Sudirman aktif dalam organisasi pramuka dan terkenal sangat disiplin—satu sifat yang kelak akan menjadikannya sebagai jenderal yang besar. Baca lebih lanjut

Mereka bertanya tentang Usamah, Wahai Orang Amerika.. Inilah Usamah!

Syaikh Usamah bin Ladinrahimahullah, seorang Ulama dan Mujahid yang telah menorehkan tinta emas yang sangat indah di kitab sejarah kaum Muslimin. Sosoknya yang kharismatik dapat membuat musuhnya sekalipun menyukainya. Seorang wartawan Barat yang pernah memiliki kesempatan berbicara langsung dengan Syaikh Usamah mengatakan bahwa “bicaranya pelan, tidak marah-marah, tetapi menakutkan.”

Banyak orang Barat, terutama Amerika, yang sangat benci terhadap Syaikh Usamah akibat dari propaganda busuk yang disebarkan musuh untuk mendiskreditkan Syaikh Usamah. Ironisnya, banyak juga dari kalangan Muslim yang termakan konspirasi Barat. Berikut ini adalah sebuah penuturan tentang Syaikh Usamah untuk orang-orang yang masih meragukan kiprah sang ‘Singa Islam’ ini, terkhusus kepada orang Amerika, yang bertanya siapakah Syaikh Usamah dan mengapa ia begitu dicintai oleh kaum Muslimin? wahai orang Amerika.. Inilah Usamah: Baca lebih lanjut

Mengenang Kesesatan JIL dan ULIL

Untuk mengenang ‘jasa-jasa’ Ulil yang mengaduk-aduk dan mengutak-atik akidah umat Islam, berikut ini saya sarikan ‘bom waktu’ pemikiran-pemikiran jahat yang ia tinggalkan di negeri kita ini.

  1. Inilah pendapat paling nekat dari Ulil Abshar Abdalla (Kordinator Jaringan Islam Liberal) : “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Ulil Abshar-Abdalla, GATRA 21 Desember 2002).
  2. Ulil Abshar Abdalla tidak mengakui adanya hukum Tuhan, hingga syari’at mu’amalah (pergaulan antar manusia) dia kampanyekan agar tidak usah diikuti, seperti syari’at jilbab, qishosh, hudud, potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak usah diikuti. ” (Kompas, 18 November 2002) Baca lebih lanjut