Sang Terpilih (1)

Calon Raja Inggris, Pangeran Harry dalam sebuah acara inisiasi (pelantikan) salah satu organisasi rahasia.

Tulisan ini bukan hanya sebuah cerpen bersambung belaka. Tapi cerpen yang mudah-mudahan bisa menginspirasi  dan membuka mata kita semua tentang apa yang terjadi sebetulnya dalam percaturan politik di suatu negara bernama Am-Nesia. Dan bisa diimplementasikan di negeri kita tercinta, Indonesia yang kabarnya memiliki permasalahan yang sama, baik itu jalan cerita ataupun nama pejabat serta tokoh yang terlibat yang hampir sama.

Tokoh utama cerbung ini bernama Sugilo, yang dikenal sebagai Jenderal bintang empat, seorang lulusan Akademi Militer tahun 1973.

Suatu hari setelah pertemuan “komisi” di hotel mewah di Manhattan, New York, Jenderal Sugilo termenung ketika mendengar salah satu hasil keputusan pertemuan tersebut. George Soros, salah seorang senior di “komisi tinggi organisasi” tersebut merekomendasikan dan menjanjikan kursi kepemimpinan presiden Am-Nesia. Tentu saja karena Sugilo pernah dilantik sebagai anggota “organisasi” sejak 30 tahun lalu ketika menempuh pendidikan di institusi pelatihan militer terkenal di dunia, West Point, Virginia.

Namun tentu saja untuk terus menjaga rahasia yang lebih besar lagi, tampil lah Bill Gates dan Warren Buffet yang dinobatkan manusia terkaya di dunia oleh media-media yang tentu dikuasai oleh “organisasi”. Begitu juga Mukesh Ambani, milyuner asal India, yang dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di planet ini versi majalah Forbes membuat dia harus “unjuk gigi” dengan membangun rumah paling mahal di dunia setinggi 60 lantai senilai 1 milyar dollar di Mumbay (dulu Bombay). Padahal ironisnya, lebih dari setengah rakyat India tinggal di gubuk derita yang berada pemukiman-pemukiman kumuh dan padat penduduk serta di kolong-kolong jembatan.

Kembali ke Sugilo, tentu ketika dipersiapkan sebagai calon presiden Am-Nesia, dia harus menjalani “fit & proper test” sebagaimana pendahulunya juga harus mengikutinya sebelum menjadi presiden.

Adapun tesnya itu tidak terlalu sulit, hanya menjawab apakah bersedia melakukan “ini” dan “itu” setelah resmi dilantik menjadi presiden kelak. Namun tentunya “ini” dan “itu” disini menyangkut nasib seperempat miliar jiwa penduduk Am-Nesia. “ini” dan “itu” sebetulnya bisa membawa Am-Nesia menuju kesejahteraan, namun sayangnya, hal itu sama sekali tidak termasuk visi “organisasi”, dan akhirnya “ini” dan “itu” yang ditempuh adalah langkah yang semuanya hanya membawa kesengsaraan rakyat Am-Nesia.

Contoh jelas adalah kehendak “organisasi” untuk menghapus subsidi BBM di Am-Nesia. Hal ini bertujuan agar harga BBM di Am-Nesia bisa menyamai harga di tingkat internasional sehingga perusahaan-perusahaan asing yang tentunya dibawah kepemilikan anggota “organisasi” bisa semakin mengeruk keuntungannya di negeri tersebut. Padahal nyatanya di Am-Nesia tidak ada subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah untuk rakyatnya. Perusahaan asing tersebut mengambil gratis minyak bumi dari perut bumi, mengolahnya dengan asumsi biaya $10 per-barrel, kemudian menjualnya $50 per-barrel. Dengan total produksi 1 juta barrel perhari, perusahaan minyak dapat meraup keuntungan senilai $40 juta perhari, atau $14,5 miliar per tahun, bila dirupiahkan mencapai lebih dari 140 triliun. Dari hasil tersebut, negara hanya mendapat 10% nya sebagai pajak.

Tapi oleh “organisasi” keuntungan sebesar itu dirasakan masih kurang. Karenanya dengan alasan pemangkasan subsidi, harga minyak akan dinaikkan lagi. Padahal nyatanya tidak ada subsidi, subsidi disini hanyalah ilusi belaka. Harga minyak dibuat seolah-olah mencapai $70 per-barrel, otomatis dengan harga tersebut pemerintah harus menalangi $20 per-barrel yang dianggapnya sebagai subsidi, yaitu selisih harga minyak internasional dan minyak dalam negeri. Namun sesungguhnya pemerintah dan perusahaan minyak tetap menangkup keuntungan melimpah tidak peduli berapapun harga minyak di tingkat internasional. Rakyat pun adem-ayem saja menghadapi realita gila ini, tentunya berkat “mantra” media massa yang dihembuskan ke seantero negeri melalui mulut politisi, birokrat, pengamat politik dan wartawan senior. Karena Sugilo tahu, mereka semua adalah yuniornya dalam “organisasi’.

Apabila mengingat “organisasi”, pikiran Sugilo kembali ke 30 tahun lalu saat dia menjadi peserta pendidikan militer di West Point. Dia memiliki IQ tinggi namun sering gamang dalam mengambil keputusan, bahkan terkesan plin-plan dan sempat digambarkan sebagai kerbau lemot beberapa waktu lalu oleh sejumlah rakyat kecil di media. Sehubungan dia merupakan taruna terbaik lulusan Akademi Militer dalam negeri , dia dan 9 taruna terbaik lainnya berhak mengikuti pendidikan militer lanjutan di West Point, sebagaimana program ini dilaksanakan rutin setiap tahunnya, karena kedekatan kerjasama militer Am-Nesia dan Amerika.

Singkat cerita, Sugilo yang saat itu masih berpangkat Letnan, menghadiri pesta yang diadakan keluarga teman kuliahnya dari Amerika yang merupakan anak senator terkenal pada masa itu. Sejak dia datang ke Amerika, sebetulnya dia sudah mengalami “culture shock” yang luar biasa. Maklum, dia hanyalah seorang anak desa dari kabupaten Capitan, meski orang tuanya, Raden Nurkoco adalah seorang kiai terpandang di desanya, namun di pesta ini dia mengalami shock culture yang jauh lebih hebat.

(bersambung)

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s