Jejak Kejahatan AS di Indonesia

Indonesia memang tidak pernah di jajah secara langsung oleh Amerika Serikat (AS) sebagaimana Irak atau Afghanistan. Tapi tahukan anda , Amerika Serikat sebenarnya telah banyak melakukan tindakan kejahatan kepada bangsa ini?

Semua itu tentu tidak dilakukan secara langsung. Amerika menggunakan pengaruhnya melalui lembaga intelijennya yakni CIA. Intervensi AS ke Indonesia melalui CIA terlihat nyata ketika Belanda kembali menyerang Indonesia setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Dukungan terhadap Belanda itu tidak lepas dari  niat AS untuk mematahkan penyebaran komunis di dunia. Keluarlah Truman Doctrine pada 1945, untuk mengepung komunis dan di susul Marshall Plan tahun berikutnya guna membangun kembali Eropa dari puing-puing akibat PD II. Dari sinilah AS memberikan bantuan kepada Belanda sehingga Belanda mampu kembali ke Indonesia. Washington juga secara rahasia membantu militer Belanda. “Ketika tentara kerajaan Belanda kembali datang ke tanah Jawa dan Sumatra pada musim semi 1946, banyak serdadu Belanda menggunakan seragam marinir AS dan mengendarai jeep Angkatan darat AS.” (Gauda   &    Zaalbreg:Indonesia merdeka karena Amerika ? Politik Luar Negri AS dan Nasionalisme Indonesia 1920-1949;2008). Bahkan AS diyakini turut membantu Belanda dalam serangan militer Belanda II atas Jogja pada 18 Desember 1948.

Setelah muncul perjanjian Renville 1948, cengkraman AS di Indonesia mulai nyata dengan hengkangnya Belanda. Hanya saja, Amerika tidak bisa turut secara lansung karena presiden Soekarno sangat anti terhadap neokolonialisme dan imperalisme. Soekarno tetap menolak menjadi boneka Amerika yang ingin membentuk panpacific. Ia justru menjalin kerjasama dengan Soviet yang dianggapnya lebih bisa di percaya.

Berbagai cara dilakukan. November 1957, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno yang dikenal dengan peristiwa Cikini. Bung Karno selamat namun 9 orang tewas dan 45 orang di sekelilingnya luka. Pemerintah kala itu menuding tindakan makar tersebut di dalangi oleh komplotan ekstrem kanan atas dukungan CIA. Tudingan itu terbukti 22 tahun  kemudian dalam dokumen CIA.

Dalam rangka  menjatuhkan pemerintah, Amerika membantu pemberontakan PRRI/PERMESTA. AS menurunkan kekuatan besar. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subik & Clark), Taiwan dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Dalam artikel berjudul “PRRI-PERMESTA, seperti dikutip eramuslim.com di paparkan jika pada malam hari, 7 Desember 1957, panglima operasi AL-AS laksamana Arleigh Burke memerintahkan panglima armada  pasukan, aneka jeep, pesawat tempur dan pembom, dan sebagainya. Bahkan sejumlah pesawat tempur AU-Filipina dan AU-Taiwan seperti pesawat F-51 Dmustang, pengebom B-26 Inveder , AT -11 Kansan, pesawat transport Beechcraft, pesawat amfibi PBY 5 Catalina di pinjamkan CIA kepada pemberontak. Sebab itulah pemberontak bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU Revolusioner). Beberapa pilot pesawat tempur tersebut bahkan di kendalikan sendiri oleh personil militer AS, Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina.

Awalnya Amerika membantah terlibat, namun sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS di tembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Setelah pesawat itu membombardir sebuah pasar  dan landasan udara Ambon yang mengakibatkan seorang rakyat sipil tewas. Pilot pesawat itu, Allan Lawrence Pope, berhasil di tangkap hidup-hidup. Ia  terbang atas perintah CIA. Akhirnya pemberontakan itu bisa di gagalkan.

Namun AS terus mencari jalan lain untuk menancapkan kukunya di Indonesia. Caranya dengan mengkooptasi sejumlah pimpinan militer  di angkatan darat. CIA juga menggarap satu proyek membangun kelompok elit birokrat baru yang pro-AS yang di kenal sebagai ‘Mafia Berkeley’. Sumitro Djojohadi Kusumo dan Soedjatmoko merupakan tokoh penting dalam kelompok ini. Bahkan di awal tahun 1960-an , tokoh-tokoh Mafia Berkeley ini bisa mengajar di Seskoad dan menjalin komunikasi intensif dengan sekelompok perwira angkatan darat yang memusuhi Soekarno.

Amerika menyelenggarakan pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Front Leavenworth, Fort Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang mendapat pendidikan ini menjadi  4000 orang. Para perwira dan Mafia Berkeley inilah yang  dipersiapkan duduk di kursi pemerintahan yang pro Amerika.

Puncaknya ketika Amerika berada di balik pemberontakan G 30 S/ PKI. Banyak dokumen dan literatur membongkar keterlibatan CIA di dalam peristiwa oktober 1965 tersebut. Atas pembersihan kaum komunis di negeri ini, CIA turut  menyumbang daftar nama kematian (The Dead List) yang berisi 5000 nama tokoh dan kader PKI di Indonesia kepada jendral Soekarno. Namun yang di bunuh bukannya 5000 orang , Kol. Sarwo Edhi, Komandan RPKAD saat itu memimpin operasi pembersihan ini, terutama di Jawa Tengah dan Timur, menyebut angka tiga juta orang berhasil dihabisi. Bukan PKI saja yang dibunuh namun orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa. Inilah tergedi kemanusiaan setelah era Hitler.

Amerika bergembira ketika Soeharto naik. Sampai-sampai presiden AS Richard M Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”. Sumber daya alam yang semula dinasionalisasi dari perusahaan asing oleh Soekarno, pada era Soeharto kekayaan alam Indonesia digadaikan kepada Amerika dalam pertemuan di Swiss, November 1967. Perusahaan yang multinasional yang di pimpin oleh Rockefeller kemudian mengkavling-kavling kekayaan Indonesia. Diantaranya Freeport yang memperoleh gunung emas di Papua.

Tidak berhenti di situ, melalui antek-anteknya di Indonesia, Amerika merancang dan menyusun strategi pembangunan nasional negeri ini yang di kenal sebagai Repelita lewat satu tim asistensi CIA dan sejumlah think-thank AS yang bekerja di belakang para teknokrat dan birokrat rezim Orde baru.

Tidak salah jika banyak pengamat dengan sinis menyatakan jika Indonesia pasca Soekarno sebenarnya merupakan negara bagian dari Amerika Serikat ke-51 setelah Hawaii. Di akui atau tidak hal ini terus berjalan sampai detik ini.

Setelah komunis runtuh, campur tangan AS ini tidak berakhir. Amerika membidik para aktivis Islam dalam operasi berkedok “War One Terrorism” suatu perang berskala global untuk menghalangi bangkitnya kekuatan Islam dalam bingkai negara. Sebelum aparat keamanan menghabisi Islam dalam berbagai peristiwa seperti Tanjung Priok, Talang Sari, Haur Koneng, Aceh, dsb. Sudah banyak darah yang tertumpah dan kekayaan yang dijarah.

[Sumber]

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s