Jangan Biarkan Anak Anda Disihir

Sesungguhnya dalam penjelasan (bayan) itu mengandung sihir, atau sesungguhnya sebagian bayan (penjelasan) itu mengandung sihir.” (HR. Bukhari No. 5325)

Sihir merupakan kekuatan oknum Dajjal. Kelak ia akan menyihir ummat manusia dengan “surga” dan “neraka”-nya yang bertentangan dengan Surga dan Neraka yang sebenarnya. Dajjal kelak akan muncul sebagai musuh kemanusiaan. Sebagaimana Nabi SAW mengatakan bahwa setiap Nabi dan Rasul diutus untuk memperingatkan ummat manusia akan Dajjal ini. Dan bahwa kelak ketika muncul Dajjal akan berkelana di atas bumi ini dan memasuki setiap kampung dan negeri untuk menyesatkan ummat manusia, kecuali dua negeri.

Dewasa ini sihir sudah menjadi komoditi. Bahkan sihir sudah menjadi konten tetap dalam film dan hiburan dewasa dan anak. Namun banyak yang tidak menyadari kadar bahayanya. Terutama para orangtua modern yang membesarkan anak-anaknya di depan layar monitor dan televisi. Baca lebih lanjut

Iklan

Pejabat Publik Di Akhir Zaman

Hidup di babak keempat era Akhir Zaman dewasa ini kita jumpai realita penuh dengan fitnah. Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa babak ini merupakan babak kepemimpinan Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak sekaligus mengabaikan Kehendak Allah dan RasulNya). Bisa dikatakan ini merupakan the darkest ages of the Islamic history (era paling kelam dalam sejarah Ummat Islam). Hidup di babak ini memerlukan kesabaran yang berlipat ganda. Mengapa? Karena di masa ini kita terpaksa menyaksikan begitu banyak kemungkaran dan kezaliman yang berlangsung di sekitar hidup kita. Sehingga dalam suatu kesempatan Nabi Muhammad saw memberikan sebuah peringatan yang dapat dibaca di dalam hadits berikut ini:

(ABUDAUD – 3780) : Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Amru bin Al Ash ia berkata, “Saat kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menyebutkan tentang fitnah. Beliau bersabda: “Jika kalian melihat manusia telah rusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka, sementara mereka begini -beliau menganyam antara jemarinya-,” Abdullah berkata, “Aku lantas bangkit ke arah beliau seraya bertanya, “(Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu) apa yang harus aku lakukan pada saat itu?” beliau menjawab: “Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambilah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu pungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak.” Baca lebih lanjut

AWAS! Dajjal Menyerang Rumah Anda!

Hidup di era kelam penuh fitnah ini sungguh tidak mudah. Dajjalnya sendiri belum kelihatan, namun jeratan sistemnya tetap tak dapat dianggap enteng. Setiap saat mesti waspada, setiap aspek kehidupan harus kita periksa ulang satu kali, dua kali bahkan berkali-kali untuk memastikan keamanannya dari jeratan sistem Dajjal.

Pernahkan anda berpikir bahwa kedatangan Dajjal sudah sedemikian dekat? Mungkin anda sudah berkali-kali mendengarkan ceramah yang memperingatkan fitnah Dajjal. Disebutkan dalam nash hadits tersebut:”….pagi hari seseorang masih beriman dan sore hari kafir.”. Begitulah ancaman nyata saat ini.

Jika memikirkan dengan seksama apa maksud hadits tersebut, kita layak khawatir bahwa fitnah yang datang menyerang merupakan fitnah yang besar, atau fitnah yang sangat berbahaya. Riddah, atau murtad/Surut /atau mundur / atau berpaling dari kebenaran, bukan ancaman kecil atau ringan. Riddah akan memutuskan hubungan kita dengan segala kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman di negeri Abadi. Baca lebih lanjut

Kognitif Disonan: Cara Illuminati Mengacaukan Otak Manusia

Kognitif Disonan dijelaskan oleh kamus sebagai: “Perasaan ketidaknyamanan sebagai akibat mengikuti dua ide yang kontradiktif pada saat yang bersamaan.”

Misalnya, dalam film “Chicago,” ketika seorang istri menangkap basah suaminya di tempat tidur bersama dengan dua orang wanita, suaminya bersikeras bahwa dia sendirian.

“Apa maksudmu?” katanya. “Saya melihat dua orang wanita!”

Dia menjawab: “Percayalah apa yang saya katakan, bukan apa yang kamu lihat!”

Tentu saja, wanita itu mengalami disonansi kognitif. Dengan pistolnya ia menyelesaikan kontradiksi tersebut dengan menembak suaminya.

“Chicago” merupakan sebuah pengungkapan metoda Illuminati. Mereka mengajari kita untuk mempercayai apa yang mereka beritahukan kepada kita, bukan apa yang mata, telinga dan akal sehat kita sendiri yang memberitahukan kepada kita. Baca lebih lanjut

Soekarno & Freemason

Setelah kegiatan Mason Bebas di mulai pada tahun 1764 di tandai dengan berdirinya “La Choisie” atas prakarsa J.C.M Radermacher di Batavia, hingga melewati Perang Dunia I Freemason di Indonesia tidak mengalami masalah yang berarti di karenakan dengan mendompleng VOC mereka dengan lugas dapat menguasai sendi-sendi perpolitikan Indonesia. Berbekal merekrut orang-orang yang mempunyai “kemampuan” lebih serta “strategis” di Volksraad dan Raad Van Indie, kaum Mason Bebas melebarkan banyak kepentingannya untuk bercokol serta eksis di Indonesia. Bahkan Boedi Oetomo tak lepas dari cengkraman Mason Bebas.

Masalah mulai datang ketika perang dunia kedua dimana Jepang berhasil menduduki Indonesia. Jepang seperti kita tahu berhasil menghancurkan pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour yang merupakan pemicu Perang Asia Timur Raya. Seperti Negara-negara lainnya, Jepang berhasil mengusir para Belanda dari lokasi-lokasi strategis dan menggantinya dengan infrastruktur dari Jepang. Tak urung segala bentuk Loji (rumah pemujaan Mason Bebas) dan ritual Freemason dibredel oleh Jepang karena mencerminkan “ke-Belandaan”. Beberapa Loji di sejumlah daerah seperti Loji Mataram, Loji Malang, serta Loji De Ster in het Oosten Batavia menjadi sasaran Jepang. Baca lebih lanjut

Menguak ‘Rekayasa Sejarah’ Majapahit

Oleh Pahrudin HM, MA

Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantara yang kini dikenal dengan Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropologis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama untuk menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Baca lebih lanjut

Sisingamangaraja, Korban Rekayasa Sejarah

Oleh Ahmad Mansur Suryanegara

Lazim diketahui oleh para ahli sejarah bahwa pola penulisan sejarah yang dewasa ini berkembang mengikuti klasifikasi tertentu. Ada penulisan sejarah berdasar agama, disebut religious historical, ada pula yang memandangnya dari sudut lain, nasionalisme misalnya.

Konsep nasionalisme sebagai suatu ideologi merupakan konsep yang baru. Menurut Islam konsep ini bertentangan dengan konsep kesatuan umat. Ia hanyalah sarana bagi musuh-musuh Islam untuk memecah dan melemahkan kekuatan Islam. Jadi konsep penulisan sejarah dengan bersandarkan pada nasionalisme juga merupakan pola penulisan yang baru.

Perjuangan Si Singamangaraja, Pattimura, P. Diponegoro dan yang lainnya secara substansial sulit dimasukkan dalam frame perjuangan berskala nasional. Apalagi dikaitkan dengan semangat nasionalisme. Data sejarah menunjukkan bahwa dasar perjuangan mereka dalam melawan penjajahan adalah Islam. P. Diponegoro bahu membahu dengan para ulama menyatukan rakyat untuk bertempur melawan para penjajah. Begitu pula dengan Cut Nya’ Dien, Pattimura, Si Singamangaraja dan lain lainnya. Baca lebih lanjut