Syirik “Mengepung” Indonesia

Wisata Syirik, Dipelihara dan Dinikmati

Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT

Banyak kisah mencatat, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sangat murka dengan kaum yang memelihara praktek syirik. Kaum Nabi Nuh, misalnya, menolak untuk menyembah Allah SWT dan terus menerus menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala.

Hampir satu milenium lamanya Nabi Nuh berdakwah, namun tetap tak digubris. Allah SWT pun murka dan mengirimkan bencana banjir yang dahsyat kepada mereka. Demikian besar bencana itu, sehingga mereka yang berusaha menyelamatkan diri ke gunung pun tetap tersapu banjir.

Pun demikian dengan kaum Ad. Mereka terus menyekutukan Allah SWT dan menentang dakwah yang dilakukan Nabi Hud. Allah SWT kemudian menurunkan azab. Tiga tahun lamanya hujan tidak turun. Tanah-tanah mengering dan kebun merangas. Air pun langka.

Namun, kaum Ad tetap ingkar. Allah SWT menuntaskan azab-Nya dengan mengirimkan angin puyuh selama tujuh malam delapan hari. Porak porandalah kota itu. Tenggelam dalam lautan pasir sedalam 12 meter.

Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT. Dua kisah tadi menjadi bukti. Namun, tanpa disadari di Indonesia, negeri di mana kita bermukim, telah muncul bibit-bibit syirik. Celakanya, bibit-bibit ini malah “disiram” dan dipelihara. Akankah kita membiarkan saja bibit-bibit itu berkembang dan bermekaran hingga azab Allah akan turun kepada kita? Nau’zubillah summa nau’zubillah!

Ada Dukun di Balik Media

Media massa banyak memuat kemusyrikan, mulai dari film, sinetron, reality show hingga iklan

Seorang lelaki berpakaian batik menghampiri lelaki berpakaian hitam yang sedang bekerja di pinggir kolam. Dengan latar musik tradisional Jawa, lelaki berbatik itu bertanya, “Piye kabare?”

Laki-laki berpakai hitam menjawab, “Masih gini-gini aja mbah.”

Lalu, sang laki-laki yang disebut mbah tadi menimpali, “Kamu lahirnya kan Selasa Kliwon. Kamu tidak cocok kerja di air. Cocoknya kamu kerja jadi pedagang, biar lebih sukses. Ingin jelas, ketik … bla… bla… bla… Primbon saya bantu Anda.”

Iklan ramalan semacam itu belakangan marak di televisi. Seorang peramal berambut gondrong, misalnya, berkata di layar kaca, “Tuntunan saya akan membawa hidup Anda menjadi lebih sukses, percayalah!” Begitu juga peramal wanita, berkata, “Saya akan melihat bagaimana masa depan Anda dan memberitahukan Anda apa yang seharusnya Anda lakukan.”

Acara-acara seperti ini menambah panjang daftar praktek syirik di negeri ini. Sebelumnya, layar kaca banyak dihiasi film, sinetron, maupun reality show yang kental nuansa syiriknya. Untuk sinetron ada Jin dan Jun, Jiny Oh Jiny, Tuyul dan Mbak Yul, Di Sini Ada Setan, Gerhana, Dendam Nyi Pelet, dan Nyi Blorong.

Sementara untuk film ada Mega Misteri, Kismis, dan Misteri Kisah Nyata. Adapun reality show di antaranya Percaya Nggak Percaya, Ekspedisi Alam Gaib, Gentayangan (uka-uka), Dunia Lain, Penampakan, dan yang paling fenomenal tentu saja acara Pemburu Hantu.

Layar bioskop juga tak kalah ramainya dengan film-film beraroma syirik. Sebut, misalnya, Tali Pocong Perawan, Pocong 1 hingga 3, Kuntilanak 1 hingga 3, Terowongan Casablanca, Lawang Sewu, Dendam Kuntilanak, Hantu Jeruk Purut, Suster Ngesot, Bangku Kosong, Kereta Hantu Manggarai, Malam Jum’at Kliwon, Pulau Hantu, Hantu Ambulance, Legenda Sundel Bolong, 40 Hari Bangkitnya Pocong, dan Tiren: Mati Kemaren.

Film-film bernuansa syirik itu ternyata banyak disukai masyarakat. Berdasarkan data situs ruangfilm.com, dari 10 film dengan penonton terbanyak sepanjang 2008, lima di antaranya adalah film horor, yaitu Tiren dengan 1.310.000 penonton, Hantu Ambulance dengan 850.000 penonton, Tali Pocong Perawan dengan 830.000 penonton, Sumpah Pocong di Sekolah dengan 730.000 penonton. dan Kuntilanak 3 dengan 510.000.

Media cetak tak jauh beda. Pemuatan zodiak, yaitu ramalan berdasarkan tanggal lahir, adalah yang paling banyak. Hampir semua majalah dan tabloid remaja atau wanita memuatnya secara berkala.

Di beberapa koran dan majalah juga bertebaran iklan-iklan paranormal yang menjajakan jasa pelet, ramalan, susuk, atau jimat. Bahkan, ada satu majalah yang isinya 100 persen membahas masalah-masalah dengan aroma syirik yang sangat kental.

Tampilannya luks tapi menyeramkan karena banyak dihiasi foto seram. Isinya pun demikian. Masalah yang dibahas tak jauh dari soal hantu, klenik, mitos, dan kisah-kisah menyeramkan. Dan, dari sekitar 150 halaman majalah ini, hampir setengahnya diisi iklan yang kebanyakan menawarkan jasa paranormal dan dukun.

Internet lebih dahsyat lagi. Semua jenis kemusyrikan dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya ini. Salah satu website jenis ini menulis di halaman pengantarnya, “Gerbang dunia mistik alam gaib. Pertama dan satu²nya di internet, situs yang mengulas tuntas segala hal yang berkaitan dengan dunia mistik dan supranatural.”

Website ini menyediakan banyak sekali layanan. Ada ramalan jodoh, numerologi (mengetahui arti dari angka-angka), kesurupan, makhluk halus, ramalan nasib, pekerjaan yang cocok berdasarkan hari kelahiran, ramalan rezeki, ramalan penghidupan berdasarkan hari kelahiran ayah dan anak, zodiak, weton, makna dari waktu bersin, makna menstruasi, kayu bertuah, dan lain-lain.

Fenomena kemusyrikan hampir merata ada di semua jenis media massa. Kemusyrikan benar-benar telah mengepung kehidupan kita, masuk ke kamar pribadi keluarga kita.

Kotoran “Si Bule” Pun Diperebutkan

Ada yang menyerok kotoran kerbau dengan tangannya, ada pula yang membasuh mukanya dengan air kencing si kerbau

Satu Suro di Surakarta (Solo, Jawa Tengah) ada tontonan “menarik”. Beberapa kerbau bule keturunan kerbau Kiai Slamet diarak keliling kota Solo, Jawa Tengah.

Awalnya, rute arak-arakan itu hanya mengelilingi tembok keraton. Kini, rutenya diperpanjang, melewati jalan protokol kota Surakarta. Karuan saja, masyarakat pun banyak yang menonton, baik masyarakat Surakarta sendiri, maupun masyarakat daerah sekitarnya, seperti Purwodadi, Boyolali, Klaten, dan Sragen, yang jaraknya bisa lebih dari 60 km.

Mengapa mereka rela datang jauh-jauh untuk menonton arak-arakan ini? Rupanya mereka bukan sekadar menonton, tapi juga berharap kebagian “berkah” dari sang kerbau bule itu. Apa itu? Ya, kotoran “si Bule”

Sutami, contohnya, datang dari Grobogan, Purwodadi, yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Solo, hanya untuk memburu air kencing kerbau. Benar saja, saat sang kerbau kencing, wanita itu menadahkan kedua tangannya. Lalu, cairan kuning beraroma pesing itu langsung dibasuhkan ke wajahnya. “Biar awet muda dan cantik,” kata wanita berusia 47 tahun itu.

Lain lagi dengan Wartono, 50 tahun. Petani asal Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini langsung meloncat mendekati sang kerbau -seolah takut orang lain mendahului-manakala sang kerbau itu buang kotoran. Plukk! Gundukan beraroma memualkan perut itu diraup dengan pecinya.

“Ini akan saya taburkan ke sawah agar subur. Berkah Kraton ini semoga membuat hasil panen saya makin baik,” katanya dengan wajah berbinar-binar.

Sementara Anik (35), pedagang sayur di Desa Gedangan, Grogol, diam saja ketika kerbau itu menyantap sayur-mayur yang dijajakannya selepas perayaan itu. “Dia (kerbau itu) menyantap daun mbayung, bayem, dan daun singkong. Habis semua. Kata orang, (itu) bisa ngrejekeni (mendatangkan rezeki). Ya, saya biarkan saja,” ceritanya.

Bukan Budaya Kraton

Menurut Puger, Kepala Sasono Pustoko Kraton Kasunanan, Solo, semua kebiasaan itu -memperebutkan kotoran kerbau– bukanlah ajaran Kraton Solo. “(Kebiasaan seperti itu) tidak ada dalam buku di sini. Instruksi dari kraton tidak ada, apalagi itu digunakan untuk hal-hal yang tidak benar.”

Jika kotoran itu digunakan untuk pupuk tanaman, kata Puger lagi, masih masuk akal. Kotoran binatang ternak memang bagus dijadikan pupuk.

“Tapi kalau untuk yang lain-lain, saya sebagai Pangeran di sini tidak bertanggung jawab. Itu karena emosi rakyat saja,” kata putra Pakubuwono XII ini lagi.

Menurut Puger, tradisi memperebutkan kotoran kerbau sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Budaya itu timbul karena rakyat pada saat itu amat cinta kepada rajanya. Mereka berebut ingin menyentuh Sang Raja. Akan tetapi, karena tidak bisa, akhirnya hewan piaraannya yang disentuh, termasuk kotoran-kotorannya. Kebiasaan ini kemudian bergeser. Kerbau itu malah yang dihormati secara berlebih-lebihan.

Cuci Pusaka

Selain arak-arakan kerbau, di Karesidenan Surakarta, khususnya di wilayah Wonogiri, masih ada satu tontonan bernuansa syirik. Yaitu, acara jamasan (pencucian) benda-benda pusaka milik Kasunanan di waduk Gajah Mungkur. Acara ini juga dilangsungkan pada tanggal 1 Suro.

Anehnya, air sisa cucian itu kemudian diperebutkan banyak orang. Air ini dipercaya oleh mereka mengandung banyak khasiat, termasuk menyembuhkan sakit.

Yang lebih aneh lagi, kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintan daerah Wonogiri. Alasannya, apalagi kalau bukan untuk pemasukan kas daerah. Adanya kegiatan ini, PAD (Pendapatan Asli Daerah) meningkat.

Ini diakui oleh Budi (33), bukan nama sebenarnya, salah seorang staf Departemen Pariwisata Wonogiri, kepada Hidayatullah. “Jumlah penjualan tiket masuk ke obyek wisata meningkat menjadi 10 hingga 20 persen,” tutur laki-laki berkacamata ini.

Demi Wisman, Syirik Diabaikan

Indonesia pernah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata. Sayang, yang dipertontonkan justru tradisi yang dimurkai Allah

Optimis. Demikian raut wajah Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Republik Indonesia, sebelum menabuh beduk tanda diresmikannya Visit Indonesian Year (VIY) 2008 lalu.

Tak hanya itu, hari itu juga menjadi hari yang membanggakan bagi Jero. Pasalnya, sebagai menteri, baru pada masanya Indonesia kembali berhasil menggelar Tahun Kunjungan Wisata.

Menurut Jero, VIY 2008 bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan mengajak seluruh komponen masyarakat berpartisipasi mensukseskan program ini.

“Kita telah menyiapkan lebih dari 100 even di seluruh Indonesia untuk menyambut kedatangan wisman (wisatawan mancanegara),” katanya.

Target pun sudah dipasang. VIY 2008, kata Jero, diharap bisa mendatangkan 7 juta wisman. Tahun 2006, wisman yang ditargetkan 6 juta hanya tercapai 5,5 juta orang. Sedikit lagi mencapai target.

Jero juga mengaku, telah mendapat dana sebanyak US$ 15 juta untuk mempromosikan proyek besar ini ke seluruh dunia. Salah satunya, dengan beriklan di berbagai stasiun televisi ternama di seantero dunia.

Bagi Jero, menjadikan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata bukan berarti tanpa perhitungan. Indonesia sudah lama tidak menggelar program ini, setelah terakhir tahun 1991. Selain itu, “Kita juga mencari momen yang tepat. Tahun 2008 adalah 100 tahun kebangkitan nasional,” kata Jero lagi waktu itu.

Tantangan program ini, ancaman terorisme, bencana alam, dan keamanan, yang bisa mengkhawatirkan turis asing masuk ke Indonesia. Program ini diharapkan bisa mengembalikan nama baik Indonesia di mata dunia.

Sambutan daerah

Beberapa daerah kemudian mencanangkan dirinya sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Visit Indonesia Year. Mereka juga mentargetkan jumlah kedatangan wisman ke daerahnya. Propinsi Sumatera Barat (Sumbar), misalnya, memasang target 5 juta wisatawan.

Berbagai event bertaraf internasional mereka persiapkan, seperti World Climbing Festival di Kabupaten Limapuluh Kota, Festival Jam Gadang, dan Pedati Nusatara VIII 2008 di Bukittinggi, Pekan Budaya di Batusangkar, Hoyak Tabuik di Pariaman, Festival Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Paralayang Internasional, dan Festival Langkisau di Pesisir Selatan.

DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan, dan daerah lainnya, menggelar pula berbagai program yang beragam.

Kepala Kerbau

Namun, yang mengkhawatirkan, di antara sekian banyak program tersebut terselip tontonan bernuansa syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan terkesan mubazir.
Di Pelabuhan Ratu, ibu kota Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, misalnya. ada upacara adat Serah Taun, sebuah upacara memasukkan padi hasil panen ke dalam leuit (gudang). Menurut Nano Juhartono, Kepala Seksi Wisata Khusus Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, acara tersebut kental dengan unsur magis.

Bayangkan, sebelum prosesi dilakukan, para puun (dukun) membacakan mantra-mantra yang ditujukan kepada Dewi Padi, yang biasa dikenal dengan Nyi Sri. Menurut Nano, mantra-mantra itu juga mengandung makna ucapan terima kasih kepada Nyi Sri atas terselenggaranya panen dengan baik.

“Kegiatan usai panen ini juga menjadi program daya tarik wisata Visit Indonesia Year,” ujar Nano saat ditemui Hidayatullah di kantornya.

Tak cuma itu, Pelabuhan Ratu yang terletak di pesisir pantai selatan Pulau Jawa ini punya tradisi tahunan bernama Pesta Nelayan. Acara yang diselenggarakan setiap bulan April ini juga punya tujuan yang sama seperti Serah Taun. Hanya saja, pesta yang selalu ditandai dengan pelepasan sesajen berupa kepala kerbau dan nasi tumpeng ini dipersembahkan kepada Nyi Roro Kidul.

Uniknya, pelepasan sesajen itu dilakukan oleh seorang wanita yang didandani dan menggunakan kebaya warna hijau. Konon, Nyi Roro Kidul sangat menyukai warna hijau. Tak cuma itu, wanita itu pun harus cantik. Untuk mendapatkan yang cantik, biasanya panitia pesta nelayan menggelar kontes kecantikan tingkat SMU.

Belakangan, menurut Ali Murtadho, Ketua Panitia Pesta Nelayan di tahun itu, persembahan kepala kerbau sudah tak ada lagi. “Kepala kerbau, sejak beberapa tahun silam, sudah diganti dengan benur (benih ikan) dan kura-kura,” katanya. Namun, menurut pengakuan Ketua MUI Kecamatan Pelabuhan Ratu, KH Abdullah Mansyur, kepala kerbau itu masih tetap ada, tapi hanya sekadar saja.

“Kalau dulu hanya menyembelih satu kerbau, tapi sekarang tinggal beli di pasar,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Ratu.

Abdullah sudah berupaya untuk mengubah budaya ini dengan menyisipkan istighosah pada acara ini. Alasannya, istighosah juga bermakna bersyukur, cuma bukan kepada Nyi Sri, melainkan kepada Allah SWT.

Itu saja, menurut Abdullah, masih ada nelayan yang protes. Mereka mengaku hasil tangkapan menjadi berkurang. Walhasil, sekelompok kecil nelayan sempat ketahuan mengadakan sendiri acara lempar sesajen kepala kerbau atas dukungan dana dari seorang bandar ikan.

Lalu, berapa rupiah yang masuk ke kas daerah dari perayaan budaya ini? Sayang sekali Nano tak memiliki datanya. Yang jelas, kata Nano, setiap perayaan dua upacara itu selalu dihadiri turis-turis bule.

Dimodali APBD

Lain lagi di Sumatera Barat. Jika di Pelabuhan Ratu pemerintah daerah hanya bertindak sebagai promotor, sementara dana dijaring dari masyarakat, maka di Sumbar perayaan-perayaan justru didanai oleh APBD.

Kebudayaan Turun Pamonan atau penyucian berbagai benda pusaka, seperti keris, tombak, pedang, dan tongkat di Kabupaten Solok Selatan, misalnya, didukung penuh oleh Pemda. Padahal, tradisi ini sebenarnya sudah lama punah. Namun, “dibangkitkan” kembali oleh Pemda.
Dalam kepercayaan masyarakat, air bekas cucian Pamonan ini memiliki kekuatan gaib dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Masyarakat menggunakannya untuk tolak bala dan hama penyakit tanaman. Bahkan, sebagian warga ada yang mengambil air bekas cucian benda pusaka itu untuk ‘penjaga diri’. Caranya, di masukan ke dalam botol kecil bekas minyak wangi, lalu dibungkus dengan kain hitam, dan dibawa ke mana pergi.

Tradisi lainnya yang terus dikembangkan dan “dimodali’ pemerintah adalah Hoyak Tabuik (Tabot) atau pesta budaya Perayaan Tabuik di Pariaman. Perayaan ini sangat kental dengan tradisi kaum Syiah.

Perayaan Tabuik dimaksudkan untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni Hasan dan Husain, yang memimpin pasukan kaum Muslim saat bertempur melawan pasukan Dinasti Bani Umayah dalam perang Karbala.

Dalam pertempuran tersebut, Husain syahid secara mengenaskan. Sebagian kaum Muslim meyakini bahwa jenazah Husain dimasukkan ke dalam peti jenazah (Tabuik) dan dibawa ke langit menggunakan “Bouraq”.

Pembuatan Tabuik menelan dana Rp 250 juta. Modal awal pembuatan Tabuik sebesar Rp 70 juta bersumber dari APBD. Selebihnya merupakan sumbangan masyarakat dan pihak ketiga. Setiap tahun perayaan Tabuik digelar pada tanggal 1 sampai 10 Muharram.

Kendati perayaan Tabuik telah menelan dana ratusan juta rupiah, puncak dari tradisi kaum Syiah itu hanyalah kemubaziran, jika tidak dikatakan beraroma syirik. Sebab, Tabuik yang telah diusung-usung selama sepekan ini, akhirnya hanya dibuang ke laut dan menjadi sampah yang mencemari pantai Pariaman yang elok.

Masih banyak lagi daerah yang menjadikan tradisi bernuansa syirik sebagai pendulang rupiah bagi pendapatan anggaran daerah (PAD). Daerah-daerah seperti Yogyakarta, Tenggarong, dan lainnya pun melakukan hal yang sama.

Lalu, apa jadinya sebuah daerah yang membangun dari uang hasil menjual tradisi bernuansa syirik? Pantaslah jika Allah SWT berkali-kali mengingatkan kita dengan musibah bencana. Wallahu’alam.

Sumber : www.hidayatullah.com

Iklan

About me, myself n i

ingin orang lain mengetahui apa yang perlu diketahui..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s