Apa Jadinya, Jika Presiden INDONESIA Umar Bin Khattab ?

Sebagai seorang khalifah pengganti Abu bakar pada tahun 634 H kekuasaan islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Keberhasilan Umar bin Khattab dalam menaklukan imperium besar (Persia dan Romawi) tidak lepas dari sosoknya yang tegas, dan sangat bersahaja. Berikut kami kisahkan beberapa contoh teladan dari Umar bin khattab.

HURMUZAN dan UMAR BIN KHATTAB

Dengan ditemani Anas Bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya.Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung disabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar keseluruh dunia pasti tinggal di Istana yang sangat megah.

Sampai di Madinah mereka langsung menuju tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga bertemu Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak di Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal seorang diri. Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukan bahwa Umar adalah lelaki yang berpakaian seadanya yang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya, tetapi memang itulah kenyataannya.

Sambil berdecak kagum Hurmuzan mengatakan, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman”.

TUNJANGAN UNTUK UMAR BIN KHATTAB

Tatkala ‘Umar ibn al-Khaththâb r.a. diangkat menjadi Khalifah, ditetapkanlah baginya tunjangan sebagaimana yang pernah diberikan kepada Khalifah sebelumnya, yaitu Abû Bakar r.a. Pada suatu saat, harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik. Tokoh-tokoh Muhajirin seperti ‘Utsmân, ‘Alî, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati sesuatu. Di antara mereka ada yang berkata, “Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada ‘Umar agar tunjangan hidup untuk beliau dinaikkan.Jika ‘Umar menerima usulan ini, kami akan menaikkan tunjangan hidup beliau.”‘

Alî kemudian berkata, “Alangkah bagusnya jika usulan seperti ini diberikan pada waktu-waktu yang telah lalu.”Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah ‘Umar. Namun, Utsmân menyela seraya berkata, “Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada ‘Umar. Lebih baik kita memberi isyarat lebih dulu melalui puteri beliau, Hafshah. Sebab, saya khawatir, ‘Umar akan murka kepada kita.”Mereka lantas menyampaikan usulan tersebut kepada Hafshah seraya memintanya untuk bertanya kepada ‘Umar, yakni tentang bagaimana pendapatnya jika ada seseorang yang mengajukan usulan mengenai penambahan tunjangan bagi Khalifah ‘Umar.“Apabila beliau menyetujuinya, barulah kami akan menemuinya untuk menyampaikan usulan tersebut. Kami meminta kepadamu untuk tidak menyebutkan nama seorang pun di antara kami,” demikian kata mereka.Ketika Hafshah menanyakan hal itu kepada ‘Umar, beliau murka seraya berkata, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?”Hafshah menjawab, “Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan itu.

Umar kemudian berkata lagi, “Demi Allah, andaikata aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajah orang itu.”Setelah itu, ‘Umar balik bertanya kepada Hafshah, istri Nabi saw., “Demi Allah, ketika Rasulullah saw. masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau di rumahnya?”Hafshah menjawab, “Di rumahnya, beliau hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari.”‘Umar bertanya lagi, “Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?”Hafshah menjawab, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin.”‘Umar kembali bertanya, “Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?”Hafshah menjawab lagi, “Tidak, beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alastidur.”‘Umar kemudian melanjutkan perkataannya, “Hafshah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah saw.

selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku punakan mengikuti jejak beliau. Perumpamaanku dengan sahabatku—yaitu Rasulullah dan Abû Bakar—adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkanyang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yangterdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya, bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat.”(Sumber: Târîkh ath-Thabarî, jilid I, hlm. 164).

UMAR r.a DAN RAKYAT YANG KELAPARAN

Suatu malam, Sang Khalifah menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya nyaring terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat melihat ada seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.

Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang Ibu berkata, “Tunggulah! Sebentar lagi makanannya akan matang.”

Selagi Umar memerhatikan di luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan sebentar lagi akan matang.

Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, dia memasuki gubuk itu dan bertanya kepada sang ibu, “Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”

“Itu karena mereka sangat lapar,” jawab si ibu.

“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi itu?”

“Tidak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.

“Ya. Saya sudah tidak memiliki keluarga ataupun suami tempat saya bergantung. Saya sebatang kara,” jawab si ibu datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah? Sehingga beliau dapat menolong Ibu beserta anak-anak Ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” nasihat Umar.

“Khalifah telah berbuat zalim kepada saya,” jawab si ibu.

“Bagaimana Khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” sang Khalifah ingin tahu.

“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang senasib dengan saya.”

Umar berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar, Bu. Saya akan segera kembali!”

Pada malam yang telah larut itu, Umar segera bergegas ke Madinah, menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya membantu membawa minyak samin untuk memasak.

Maka, ketika Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada si ibu beserta anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tidak dikenal ini.

Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.
Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.
Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

MENGGALI PARIT SEORANG DIRI

Umar bin Khattab tidak saja di kenal sebagai khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya kepala pemerintahan. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.

Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Untuk itu Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya. Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga amirulmukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

“Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!” sahut khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar dimana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

“Wahai saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya.

“Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?” tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.

“Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” si penggali parit balik bertanya.” Umar bin Khattab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani,” kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum. “Tuan salah terka. Umar bin Khattab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya,” terang si penggali parit,”.

“Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang terkenal agung seantero negeri itu tak punya istana?” raja itu mengerutkan dahinya.

“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk. Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. “Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!”kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”

Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.

“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri.” Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

“Benarkah ini istana Umar?”tanyanya pada pelayan-pelayan.

“Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab,” jawab salah seorang pelayan.

“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu.

“Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar sang raja.

Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja.” Yang duduk di hadapan Tuan adalah Khalifah Umar bin Khattab” sahut pelayan itu.

“Hah?!” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.

“Jad…jadi, anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!” ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota.

Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

MAKANAN ENAK UNTUK KHALIFAH

Kisah Umar bin Khattab bisa menjadi cermin bagi kita. Ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan, di masa pemerintahan Umar bin Khattab disuguhi makanan oleh rakyatnya. Kebiasaan yang lazim kala itu. Dengan senang hati gubernur menerimanya seraya bertanya “Apa nama makanan ini?”. “Namanya Habish, terbuat dari minyak samin dan kurma”, jawab salah seorang dari mereka.

Sang Gubernur segera mencicipi makanan itu. Sejenak kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. “Subhanallah” Betapa manis dan enak makanan ini. Tentu kalau makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab di Madinah dia akan senang, ujar Utbah.

Kemudian ia memerintahkan rakyatnya untuk membuat makanan dengan kadar yang diupayakan lebih enak. Setelah makanan tersedia, sang gubenur memerintahkan anak buahnya untuk berangkat ke madinah dan membawa habish untuk Khaliofah Umar bin Khattab. Sang khalifahsegera membuka dan mencicipinya. “Makanan Apan ini?” tanya Umar.

“Makanan ini namanya Habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab salah seorang utusan.

“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bia menikmati makanan ini?’, tanya Umar lagi.

“Tidak. tidak semua bisa menikmatinya”, jawab utusan itu gugup

Wajah Khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memrintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negrinya. Kepada Gubernurnya ia menulis surat “………makanan semanis dan seselezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu”

UMAR r.a DIMATA PEMIMPIN NASRANI

Berita kedatangan bala bantuan kepada pasukan Muslim yang tengah mengepung kota membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi yang berdiam di dalam kota menjadi ciut. Mengingat kedudukan Yerusalem sebagai kota suci, sebenarnya pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Sementara kaum Kristen yang mempertahankan kota itu juga sadar mereka tidak akan mampu menahan kekuatan pasukan Muslim. Menyadari memperpanjang perlawanan hanya akan menambah penderitaan yang sia-sia bagi penduduk Yerusalem, maka Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius mengajukan perjanjian damai. Permintaan itu disambut baik Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut dengan damai tanpa pertumpahan darah setetespun.

Walaupun demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suci itu hanya akan diserahkan ke tangan seorang tokoh yang terbaik di antara kaum Muslimin, yakni Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Sophronius menghendaki agar Amirul Mukminin tersebut datang ke Yerusalem secara pribadi untuk menerima penyerahan kunci kota suci tersebuit. Biasanya, hal ini akan segera ditolak oleh pasukan yang menang. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh pasukan Muslim. Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya di mana pasukan Persia itu melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Walau orang-orang Kristen telah mendengar bahwa perilaku pasukan kaum Muslimin ini sungguh-sungguh berbeda, namun kecemasan akan kejadian dua dasawarsa dahulu masih membekas dengan kuat. Sebab itu mereka ingin jaminan yang lebih kuat dari Amirul Mukminin.

Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis penduduk Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar r.a. yang berada di Madinah. Khalifah Umar segera menggelar rapat Majelis Syuro untuk mendapatkan nasehatnya. Utsman bin Affan menyatakan bahwa Khalifah tidak perlu memenuhi permintaan itu karena pasukan Romawi Timur yang sudah kalah itu tentu akhirnya juga akan menyerahkan diri. Namun Ali bin Abi Thalib berpandangan lain. Menurut Ali, Yerusalem adalah kota yang sama sucinya bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi, dan sehubungan dengan itu, maka akan sangat baik bila penyerahan kota itu diterima sendiri oleh Amirul Mukminin. Kota suci itu adalah kiblat pertama kaum Muslimin, tempat persinggahan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam pada malam hari ketika beliau ber-isra’ dan dari kota itu pula Rasulullah ber-mi’raj. Kota itu menyaksikan hadirnya para anbiya, seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Isa. Umar akhirnya menerima pandangan Ali dan segera berangkat ke Yerusalem. Sebelum berangkat, Umar menugaskan Ali untuk menjalankan fungsi dan tugasnya di Madinah selama dirinya tidak ada.

Kepergian Khalifah Umar hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta yang ditungganginya bergantian. Ketika mendekati Desa Jabiah di mana panglima dan para komandan pasukan Muslim telah menantikannya, kebetulan tiba giliran pelayan untuk menunggang unta tersebut. Pelayan itu menolak dan memohon agar khalifah mau menunggang hewan tersebut. Tapi Umar menolak dan mengatakan bahwa saat itu adalah giliran Umar yang harus berjalan kaki. Begitu sampai di Jabiah, masyarakat menyaksikan suatu pemandangan yang amat ganjilyang belum pernah terjadi, ada pelayan duduk di atas unta sedangkan tuannya berjalan kaki menuntun hewan tunggangannya itu dengan mengenakan pakaian dari bahan kasar yang sangat sederhana. Lusuh dan berdebu, karena telah menempuh perjalanan yang amat jauh.

Di Jabiah, Abu Ubaidah menemui Khalifah Umar. Abu Ubaidah sangat bersahaya, mengenakan pakaian dari bahan yang kasar. Khalifah Umar amat suka bertemu dengannya. Namun ketika bertemu dengan Yazid bin Abu Sofyan, Khalid bin Walid, dan para panglima lainnya yang berpakaian dari bahan yang halus dan bagus, Umar tampak kurang senang karena kemewahan amat mudah menggelincirkan orang ke dalam kecintaan pada dunia.

Kepada Umar, Abu Ubaidah melaporkan kondisi Suriah yang telah dibebaskannya itu dari tangan Romawi Timur. Setelah itu, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat itulah Perjanjian Aelia (istilah lain Yerusalem) dirumuskan dan akhirnya setelah mencapai kata sepakat ditandatangani. Berdasarkan perjanjian Aelia itulah Khalifah Umar r.a. menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim. Barang siapa yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi kota Muslim.

Perjanjian Aeliasecara garis besar berbunyi: “Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Setelah itu, Umar melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Lagi-lagi ia berjalan seperti layaknya seorang musafir biasa. Tidak ada pengawal. Ia menunggang seekor kuda yang biasa, dan menolak menukarnya dengan tunggangan yang lebih pantas.

Di pintu gerbang kota Yerusalem, Khalifah Umar disambut Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja, pemuka kota, dan para komandan pasukan Muslim. Para penyambut tamu agung itu berpakaian berkilau-kilauan, sedang Umar hanya mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan murah. Sebelumnya, seorang sahabat telah menyarankannya untuk mengganti dengan pakaian yang pantas, namun Umar berkata bahwa dirinya mendapatkan kekuatan dan statusnya berkat iman Islam, bukan dari pakaian yang dikenakannya. Saat Sophronius melihat kesederhanaan Umar, dia menjadi malu dan mengatakan, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama manapun.”

Di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus), Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifa Umar r.a. Setelah itu Umar menyatakan ingin diantar ke suatu tempat untuk menunaikan shalat. Oleh Sophronius, Umar diantar ke dalam gereja tersebut. Umar menolak kehormatan itu sembari mengatakan bahwa dirinya takut hal itu akan menjadi preseden bagi kaum Muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Umar lalu dibawa ke tempat di mana Nabi Daud Alaihissalam konon dipercaya shalat dan Umar pun shalat di sana dan diikuti oleh umat Muslim. Ketika orang-orang Romawi Bizantium menyaksikan hal tersebut, mereka dengan kagum berkata, kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa. “Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada ummat yang lebih baik …,” ujar Sophronius.

Umar tinggal beberapa hari di Yerusalem. Ia berkesempatan memberi petunjuk dalam menyusun administrasi pemerintahan dan yang lainnya. Umar juga mendirikan sebuah masjid pada suatu bukit di kota suci itu. Masjid ini sekarang disebut sebagai Masjid Umar. Pada upacara pembangunan masjid itu, Bilal r.a. – bekas budak berkulit hitam yang sangat dihormati Khalifah Umar melebihi dirinya – diminta mengumandangkan adzan pertama di bakal tempat masjid yang akan didirikan, sebagaimana adzan yang biasa dilakukannya ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah saw wafat, Bilal memang tidak mau lagi mengumandangkan adzan. Atas permintaan Umar, Bilal pun melantunkan adzan untuk menandai dimulainya pembangunan Masjid Umar. Saat Bilal mengumandangkan adzan dengan suara yang mendayu-dayu, Umar dan kaum Muslimin meneteskan air mata, teringat saat-saat di mana Rasulullah masih bersama mereka. Ketika suara adzan menyapu bukit dan lembah di Yerusalem, penduduk terpana dan menyadari bahwa suatu era baru telah menyingsing di kota suci tersebut.

Wallahu a`lam.
(Dari Berbagai Sumber)

About these ads

84 gagasan untuk “Apa Jadinya, Jika Presiden INDONESIA Umar Bin Khattab ?

  1. jika itu memeng terjadi… maka kesejahteraan rakyat yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat akan tercapai tanpa diragukan lagi.. Amin…. mudah2an Allah memberi hidayahnya dan membukakan Mata dan mata hati para Pemimpin kita, baik Pusat maupun Daerah tanpa terkecuali. Amin…

  2. Jika itu terjadi maka…..Hancurlah Indonesia.
    1. Kemana-mana selalu membawa pecut!
    2. Pengetahuan tentang islam dan keadilan minim
    3. Penakut terhadap musuh, buktikan kalau Umar bin Khatab RA Jago, sebutkan 1 orang musuh yg pernah dibunuhnya.
    4. ingkar Sunah (tidak perlu sunah Nabi Muhammad SAW) karena dia yg mengatakan “cukup bagi kami al-qur’an) lihat bukhari muslim.
    5. pencetus Bid’ah Pertama. tentang shalat terawih (yg tidak pernah diajarkan Rasulullah).lihat bukhari.
    6. Agak ragu terhadap kerasulan Rasulullah SAW (ketika perjanjian hudaybiah, ia mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW ” apakah anda benar Rasulullah?”) lihat bukhari.
    7. indonesia di jadikan sarang “TERORIS”.

      • ane bukan syiah, ane bukan sunah dan ane bukan wahabi. ane ikut nabi karena nabi tidak pake mazhab, yg buat mazhab itu guru ente2 sekalian (emang agama ini ngak jelas dan ngak sempurna sehingga guru2 ente terlibat buat hukum syariat atau syariat nabi belum sempurna sehingga guru2 ente bersekutu dengan tuhan buat hukum !). ane sudah suruh ente2 baca buku bukhari dan sejarah, melek men, melek. jangan mengataskan namakan sahabat berapa banyak sahabat nabi yg lari dari perang uhud?

    • Ingat bro….. Ini lagi ramadhan…. Umar bin khattab termasuk salah seorang sahabat yg dijamin masuk sorga oleh Rasulullah sendiri….. Kita tidak pantas mencercanya bro….

      • bro, 10 orang yg dijamin masuk surga coba ente lihat sanad hadistnya “lihat perawinya?” ente kaji bro.

      • ane tidak mau terkungkung dengan mazhab. ane di kasih tuhan akal dan panca indra ane pelajari agama bukan utk fanatik buta. ane bicara dengan dasar bukan dengan “katanya”

      • hanya anjinglah yg mengonggong. Rukun Iman yg mane ane langgar? Ente tau rukun iman ngak? dari tk sampe S-2 ane belajar tidak ada rukun iman untuk beriman KEPADA SAHABAT. jgn buat bid’ah, menambah2 rukun iman. ente yg kafir nanti.

      • nama aja ilham.. tapi pikiran dangkal.. rasulullah bersabda.. “seandainya ada nabi setelah aku,dialah umar bin khattab” betapa mulia nya beliau.. u pasti syiah..

    • Alhamdulillah islam tersebar lewat tangan2 mereka,tak sepantasnya menghujat apalagi mencela para sahabat, so kebenaran datanya dari Allah swt dan kesalahan sedkitpun itu berasal dari diri mereka pribadi ” karena manusia tidak ada yang sempurna kecuali rasulullah saw.trims

      • seperti yg nt bilang hanya rasul yg sempurna, bagaimana dgn sahabat yg nt bilang dapat berbuat kesalahan (krn banyak sahabat awalnya penyembah berhala, majusi, yahudi, nasrani setelah hidayah datang baru masuk islam) namun ada juga dari mereka memang memacu diri mereka utk bertaqwa dan rela, patuh serta cinta dengan rasulullah dgn sebenar-benarnya, sebaliknya juga ada yg masih membawa tradisi dan pemikiran jahiliah atau agama sebelumnya ataupun juga masuk islam karena rasa takut (lihat saat penaklukan mekkah). pertanyaannya gie kira2 sahabat mana yg ente pilih kalaulah ia membawa suatu sunah rasulullah SAW yg menurut ente terpercaya?……ane yakin antum orang berakal !!!

    • mas…yg mulai men-statemen-kan “teroris” pihak yahudi dan antek2nya atau umat muslim?
      mas..anda kenal umar bin khoththob ndak? sudah menelaah sejarah beliau belum? beliau singa padang pasir..
      besok imam mahdi datang lanjut bagaimana isi komen anda tsb di atas?
      mas…saya juga ndak bermahdzab..
      mas..tentang sholat tarowih…monggo
      http://muslim.or.id/manhaj/umar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html#_ftn4
      mmg situs tsb dr sodara kita para salafy..

    • innaddiina indallohil islam, bumi ini milik allah allah memberikan bumi ini untuk orang islam, haram hukumnya orang non muslim menempati bumi ini kalau ente mau tahu tentang umar bacalah biografinya sebutan untuk umar adalah al-farouq

  3. “seandainya ada nabi setelah aku,dialah umar bin khattab” hadis mana lagi ini coy? jgn asal kopi paste (riwayat and perawi mana) nt liat perawinya coy dan tanggapan para ahli hadist terhadap para perawi hadist ini. ANA SYIAH RASULULLAH, ANA SUNNAH RASULLULLAH. ————— ente syiah sahabat, ente sunah sahabat……
    ente yg cinta sama sahabat mengapa ulama ente2 rusak makam sahabat di baqi ?!!!!
    ente yg cinta sahabat liat tu perang jamal ! liat tu Perang Sifin ! mereka gontok-gontokan. kayak preman berebut lahan parkir.

      • terima kasih atas do’anya.
        kata “Para Sahabat” (generalisasi) dan “Sahabat yang Adil” (tertentu dan terseleksi). ente pake “Para Sahabat” dan ana pake “Sahabat yang Adil”.

      • @ilham

        boleh saya tahu siapa “sahabat yg adil” yg anda maksud? lalu siapa “sahabat yg tidak adil” menurut pemikiran batil anda? apakah anda merasa diperlakukan tdk adil oleh “sahabat yg tdk adil”? darimana anda bs menghujat para sahabat sedangkan rasulullah saw memuliakan sahabat2nya tsb?? walaupun anda mengaku bukan syi’ah akan tetapi setahu saya hanya kaum syi’ah saja yg membenci para sahabat selain ali bin abi thalib ra. dan anda sangat mirip dgn mereka..

  4. Kalo pemimpinnya Umar saya setuju skaliii, emang ada orang Islam di Indonesia kaya Umar ????????????????????????????????gak Kyai, Ustadz, udah pade keduniawian semua,…..bullshit!!!!!!!!!

  5. BAGIAN 1
    @ me, Myself n i (sebenarnya saya tidak tertarik utk menjawab pertanyaan anda ini, namun karena hak ilmu utk harus di sampaikan, maka kewajiban ini saya lakukan)
    Saya akan menguraikan permasalahan ini secara konstruktif (semoga fikiran anda juga konstruktif).

    1. Kedudukan Rasulullah kewajiban ketaatan kepadanya Dalam Al-Qur’an

    Untuk lebih memudahkan bagi saya dalam menguraikannya, maka harus ada tolak ukur sebagai hakim dalam permasalahan ini. Hakim yang suci adalah Al-Quran sebagai rujukan bagi semua kaum muslim di seluruh dunia. Sebagai pengadil yang pasti adil adalah Al-Quran, untuk itu beberapa ayat suci Al-Quran yang jelas (muhkam) kami kutip dan menjadi acuan pertama tentang kedudukan Rasulullah SAW dan ketaatan kepadanya menjadi kewajiban bagi seluruh kaum mu’min tanpa ada syarat.
    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
    وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا
    “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan”
    “Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” [Surah Al-Ahzab : 45 dan 46]
    وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
    “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [Surah al-Qalam : 4]
    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. [Surah al-Anbiyaa’ : 107]
    مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. [Surah An-Nisa’: 80]
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ…
    “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu” [An-Nisa: 59"]
    فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا
    “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau, dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” [An-Nisa’: 65]
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا
    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Surah Al-Ahzab : 36]
    وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    “Barang siapa yang menentang Rasul, sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam. Itulah sejahat-jahat tempat kembali”. [Al-Nisa‘ : 115]
    مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى ﴿٢﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤﴾ عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى
    “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” [An-Najm : 2 ]
    “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” [An-Najm : 3]
    “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm : 4]

    2.Kedudukan Sahabat Di Sisi Rasullullah SAWW.

    Tidaklah dapat dijadikan sandaran dan hujjah bahwa semua sahabat Rasulullah SAWW adalah mulia di dalam Islam walaupun sahabat-sahabat itu dekat dengan Rasulullah SAWW baik kedekatan dari hubungan karena perkawinan maupun dari sering berjumpanya dengan Rasulullah SAWW ataupun hidup sejaman dengan Beliau SAWW SAWW. Tetapi kemuliaan kedudukan para sahabat akan dinilai mulia di dalam Islam bila mereka memuliakan Allah Swt dan Rasulullah SAWW serta Allah Swt dan Rasul-Nya memuliakan mereka.
    Kesepakatan para ahli agama (ijma’) untuk mengatakan bahwa semua sahabat Rasulullah SAWW adalah orang-orang yang adil, terpercaya dan baik serta tidak pernah berbuat salah adalah hal kemustahilan, karena kesepakatan yang sangat dipaksakan dalam syariat Islam ini telah membantah perkataan dari Rasulullah SAWW. Rasulullah SAWW juga telah memberikan gambaran setelah Beliau SAWW SAWW wafat bagaimana perilaku sejumlah sahabat yang berbalik (murtad) sepeninggalnya. Di bawah ini akan dinukil beberapa sabda Beliau SAWW. Dari Abi Wa’il, bahwa Abdullah berkata, Rasulullah SAWW bersabda :
    “Aku akan mendahuluimu sampai di telaga Haudh dan akan banyak dihadapkan kepadaku banyak orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, “Wahai Tuhanku, bukankah mereka sahabat-sahabatku? Dia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. (Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, Juz 9. Hal 58, dan Juz 8, Hal 148, Bukhari juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 1, hal 439 dan 455.)
    1. Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘aku mendengar Rasulullah SAWW. bersabda :
    “Aku akan mendahuluimu datang di Haudh, siapa yang mendatanginya ia pasti akan meminum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tidak akan haus selamanya. Dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku” (Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, Juz 9. Hal 58-59, dan Juz 8, hal 150. Shahih Muslim, Juz 7, hal 96. Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 5, hal 33 dan Juz 3, hal 28.).
    Abu Hazim berkata,”Ketika aku menyampaikan ini dihadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku,”Apakah demikian yang engkau dengar dari Sahl? Aku menjawab,”Ya, benar.’ Ia berkata,’Aku bersaksi aku mendengar dari Abu Said al Khudri menyampaikan tambahan: ………Mereka adalah sahabatku.” Maka dijawab, Engkau tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu. Lalu Aku (Nabi SAWW) berkata “Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”
    2. Dari Ibnu Umar, ia mendengar Rasulullah SAWW. bersabda :
    “Janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kalian menebas leher sebagian yang lain.”(Shahih Bukhari Juz 9, hal 63-64. Shahih Muslim Juz 1, hal 58.)
    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi SAWW.
    3. Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mendengar Rasulullah SAWW. bersabda :
    “Aku akan mendahuluimu sampai di telaga (Haudh), dan aku menarik beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku berseru, ‘Ya Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku, Dia menjawab ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 1, hal 384,402,406,407,425, dan 453. Shahih Muslim, Juz 7 hal 68. Riwayat serupa hal 393. Shahih Bukhari Juz 8, hal 148-149.)
    4. Dari Hudzaifah, ia mendengar Rasulullah SAWW. bersabda :
    “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku berseru, ‘Ya Tuhanku, sahabaat-sahabatku (selamatkanlah mereka)!’ Kemudian dijawab,”Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. ( Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 5, hal 388, (hal. 393). Sahih Bukhari riwayat serupa pada Juz 8, hal 148-149.).
    5. Dari Ibnu Abbas, ia mendengar bahwa Rasulullah SAWW. telah bersabda:
    “Kelak ada sekelompok sahabatku akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri, ‘Ya Tuhanku!, mereka adalah sahabat-sahabatku (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukan mereka ke golongan kiri)?, Allah menjawab,”Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.” Lalu aku berkata seperti yan diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa As), ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Shahih bukhari, juz 4, hal 168,204, juz 6 hal 69, 70, 122, juz 8 hal 136. Sahih muslim, juz 8 hal 157. Musnad ahmad bin hanbal, juz 1, hal 235 dan 253.)
    6. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAWW. telah bersabda:
    “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang diantara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo kemari’. Aku bertanya ; Kemana?, Ia menjawab “Ke neraka”. Lalu aku bertanya lagi, “mengapa nasib mereka sampai demikian?, Kemudian dijawab, “Sesungguhnya mereka telah Murtad sejak engkau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya, ‘Ayo kemari,’. Aku bertanya, Kemana?, Ia menjawab “Ke neraka”. Lalu aku bertanya lagi, “mengapa mereka? Dijawab “Sesungguhnya mereka telah Murtad sepeninggalmu dan berbalik ke belakang.’ Kulihat tidak adalagi yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti unta yang terpisah dari rombongannya. (Shahih bukhari Juz 8, hal 150. Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi Saw.)
    7. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAWW. telah bersabda:
    “Akan datang di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tetapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku.’ Lalu dikatakan,”Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).” (Shahih Bukhari, Juz 8, hal 150.)
    8. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAWW. telah bersabda:
    “Akan datang menjumpaiku di Telaga (Haudh), orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru,’Ya Tuhanku, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ”Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 5, hal 48 dan 50.)
    9. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda kepada orang-orang Ansar:
    “Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.” (Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.13)

    Dari beberapa gambaran perlakuan penyimpangan sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAWW yang telah disabdakan oleh Nabi Mulia SAWW, bahwa mau tidak mau kejujuran akal dan fikiran kita harus meninjau kembali kedudukan mereka dengan melihat perilaku individu-individu sahabat, baik semasa Nabi Mulia SAWW masih bersama dengan mereka dan setelah Beliau SAWW Mulia SAWW wafat.
    Ada baiknya dari hadist-hadist Nabi Mulia SAWW ini dibuktikan dengan melihat beberapa catatan sejarah tentang perilaku beberapa sahabat saat dan setelah Rasulullah SAWW wafat. Untuk itu sebaiknya dan terbaik lagi bagi para pencari kebenaran dapat merujuk pada Kitab-Kitab Sirah yang lengkap, Kitab Hadist, dan Kitab-Kitab Syarah dikalangan saudara muslim.

    (BERsambung……)

    • BAGIAN 2
      (semoga anda tidak lelah……)

      PENGKATAGORIAN SAHABAT
      Ada beberapa pendapat dikalangan ulama tentang defenisi dari sahabat Nabi SAWW, antara lain :
      Definisi yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya, mengatakan “Siapapun yang bersahabat dengan Nabi SAWW atau melihatnya dari orang-orang Islam, maka ia adalah (tergolong) daripada sahabat-sahabatnya.” (Al-Bukhari, al-Sahih, V, hlm.1)
      Sementara gurunya al-Bukhari Ali bin al-Madini mengatakan: “Siapa saja yang bersahabat dengan Nabi SAWW atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya.” Pendapat ini didukung oleh al-Syafi’i di dalam Kitab al-Umm. (Al-Shafi’i, al-Umm, Cairo, 1961, IV, hlm. 215-216)
      Ada pendapat lain tentang sahabat yaitu yang dikemukakan al-Zain al-Iraqi bahwa yang dimaksud dengan sahabat adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.”
      Sedangkan pendapat dari Said bin Musayyab “Sahabat adalah siapa saja yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
      Pendapat ini tidak dapat diterima karena pendapat ini mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi SAWW dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya. Ibn Hajar berkata:”Definisi tersebut tidak dapat diterima.” (Ibn Hajar, Fath Bari, VIII, hlm.1-2; al-Mawahib Syarh al-Zarqani, hlm. 8-26)
      Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya(Syarh al-Fiqh al-Iraqi, hlm. 4-33). Ada juga berpendapat yang mengatakan bahwa “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi SAWW dalam masa yang pendek.
      Dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa dari setiap pengertian dan pendapat tentang sahabat oleh para ulama bahwa mereka yang berjumpa dengan Nabi SAWW baik pada masa yang lama atau sesaat dapat dikatakan sudah memenuhi unsur persahabatan dengan Nabi SAWW.
      Sebagian besar pendapat-pendapat ini mengatakan bahwa semua sahabat Nabi SAWW adalah Adil dan semuannya bersih dari dosa, dan pandangan ini hanya menitik beratkan pada perjumpaan dengan Nabi SAWW namun tidak memberikan tekanan pada prilaku mereka (orang-orang tersebut).

      BEBERAPA CONTOH PRILAKU SAHABAT

      1. Perjanjian Hudaibiyah
      Untuk mengakhiri pertikaian antara kaum muslimin di bawah Pimpinan Nabi Mulia SAWW dengan kaum Quraisy maka tercetuslah sebuah Perjanjian antara keduanya, Kaum Muslim yang berjumlah sekitar 1.400 orang dipimpin langsung oleh Nabi dan Quraisy yang diwakilkan oleh Suhail bin Amr bin Abdu Wud al-‘Amiri. Perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada tahun Keenam Hijriah memberikan keuntungan yang sangat besar kepada kaum muslim dikemudian hari dalam perkembangan Islam, Allah berfirman:
      وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
      “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” [Surah Al-Fath : 22]
      Sebagian sahabat tidak senang (keberatan) atas tindakan Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah, baik pada saat perjanjian itu dibuat maupun setelah pulang di Madinah. Setelah selesai Perjanjian Hudaibiyah disepakati, Nabi berkata kepada para sahabat-sahabatnya: “Hendaklah kalian menyembelih binatang-binatang qurban yang kalian bawa itu dan cukurlah rambut kalian.” Tidak satu dari sahabatpun yang berdiri untuk melaksanakan perintah dan mematuhi seruan Beliau SAWW, sampai Beliau SAWW yang mulia menyerukan Tiga kali kemudian Beliau SAWW masuk ke dalam kemahnya dan kembali tanpa berbicara dengan siapapun. Kemudian guna mengakhiri keadaan Ihram, Nabi menyembelih unta qurban dan Nabi memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut Beliau SAWW, dan diikuti juga para sahabat akhirnya.
      Ketidaksenangan salah satu sahabat yaitu Umar bin Khattab ditujukan kepada Nabi SAWW dengan sikap protesnya pada saat itu.
      Umar bin Khattab datang dan berkata kepada Rasulullah SAWW : “Apakah benar bahwa engkau seorang Nabi Allah yang sesungguhnya?”
      Nabi SAWW menjawab, “ya”
      Umar bin Khattab berkata, “bukankah kita dalam kebenaran (hak) dan musuh kita dalam kebathilan?”
      Nabi SAWW menjawab, “ya”
      “Lalu mengapa kita menghinakan agama kita?” desak Umar bin Khattab
      “Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar Perintah Allah dan Dialah Penolongku”, Jawab Rasulullah SAWW.
      Lalu Umar berkata lagi “Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah Allah (Baitullah)?”
      Nabi SAWW menjawab, “ya, tetapi apakah aku katakan kepadamu pada tahun ini juga?”
      “Tidak”, Jawab Umar.
      “Engkau akan datang kesana dan tawaf di sekitarnya”. Kata Nabi mengakhiri.
      Kemudian umar belum puas dan mendatangi Abu Bakar dan bertanya hal serupa dan dijawab oleh Abu Bakar dengan jawaban yang sama. Abu Bakar berkata kepada Umar “Wahai saudara, Beliau SAWW adalah Rasulullah yang sesungguhnya, Beliau SAWW tidak melanggar perintah Allah dan Dialah Penolongnya.”
      Kemudian hari Umar bin Khattab berkata : “Aku tidak meragui kenabian Muhammad seperti keraguanku pada hari Hudaibiyah” (maa syakaktu fi nubuwwati Muhammad mithla syakki yauma al-hudaibiyah)-(Shahih Bukhari ii, Hal.111, cetakan Beirut, 1337H. Shahih Muslim,iv, Hal. 12, 14, Cetakan Cairo, 1967.)

      Peristiwa perjanjian Hudaibiyah ini direkam dalam kitab-kitab sejarah dan Sirah seperti Tarikh Thabari, Ibnu Atsir serta Ibnu Sa’ad serta lain-lainnya. Sekiranya lebih adil bila anda2 sekalian dan khususnya pencari kebenaran untuk membuka kembali rujukan-rujukan yang saya berikan.

      2. Khutbah Nabi Pada Hari Jum’at

      “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik- baik Pemberi rezki. (Al-Qur’an, Surah al- Jumu’ah ayat 11)

      Sebab turunnya surah al- jumu’ah ayat 11
      ketika rasulullah sedang khutbah pada hari Jum’at datanglah pedagang dan permainan dari syam, para sahabat yg sedang mendengarkan khotbah jum’at Nabi SAWW keluar semua untuk menemui para pedagang dan mainan yg mana hanya tersisa 12 orang saja. Pada saat itu Nabi saww bersabda:” sekiranya tidak ada mereka ini , yakni mereka yang tinggal di mesjid bersama Nabi saw, pasti akan turun kepada mereka batu dari langit (versi lain “maka lembah madinah ini akan dibanjiri oleh api”).
      Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590), dari Jabir bin Abdillah al Ansari.

      3. Perang UHUD
      “Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)”. (QS. Al Anfal [8]:15)
      “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (QS. Al Anfal [8]:16)

      Perang Uhud ini terjadi pada 3 Hijriah
      (terlalu panjang utk menceritakan namun ringkasnya) bahwa setelah kemenangan beberapa saat, kaum muslimin berebut harta rampasan perang termasuk para pemanah yg bertugas diatas bukit mereka turun takut tidak dapat bagian, yg mana para pemanah ini diperintah Nabi SAWW utk tetap berjaga. kemudian Musuh menyerang balik, maka kocar kacirlah pasukan muslim. Banyak mereka lari pontang panting utk menyelamatkan diri, sehingga ada seruan bahwa “Muhammad telah tewas”, maka mereka lari meninggalkan peperangan, yg tersisa di pasukan Nabi SAWW hanya beberapa orang sahabat saja yg dengan penuh keyakinan dan keimanan tetap berada pada sisi Nabi SAWW, salah satu yg Gugur adalah Singa Islam Sayidina Hamzah yg perutnya dibelah oleh Hindun (istri Abu Sufyan, Ibu dari Muawiyah) utk dimakan hatinya.

      Kisah ini juga dicatat Sirah Ibnu Hisyam (4/56-59), Ibnu Katsir dalam Tarikh Ibnu Katsir (3/618), Thabari dalam Tarikh ath-Thabari (3/74), Ahmad dalam Musnad Ahmad (3/376) dan Baihaqi dalam Dalal`il an-Nubuwwah (5/120 dan 126).

      BERsambung……

      • BAGIAN 3
        (semoga anda tidak Jemu)

        Sarriyah Mu’tah Panglima Usama

        Sariyyah adalah expedisi atau pasukan perang yang Rasulullah SAWW tidak ikut serta di dalamnya. Delapan Puluh hari setelah pulang dari Haji Wada’ atau sekitar Dua hari sebelum wafatnya, Rasulullah SAWW menyiapkan pasukan dibawah komando Usamah bin Zaid yang pada waktu itu Usamah berumur sekitar Delapan Belas tahun untuk memerangi pasukan Romawi di Mu’tah wilayah Suriah dimana disitu telah terbunuh Ja’far bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah. Rasulullah SAWW memanggil Usamah bin Zaid dan berkata,”Pergilah ke tempat terbunuhnya ayahmu dan perangilah mereka dan aku mengangkat engkau sebagai pemimpin pasukan”. Pada hari Rabu Rasulullah SAWW mengalami sakit demam dan sakit kepala. Keesokan harinya pada pagi hari Rasulullah SAWW keluar dengan tangannya sendiri Rasulullah SAWW menyerahkan panji-panji kepada Usamah bin Zaid.
        Dengan dipimpin oleh Usamah bin Zaid pasukan ini bergerak dan berkemah di Jurf (terletak Tujuh Kilometer sebelah Barat Laut Kota Madinah dan disebelah barat Bukit Uhud. Daerah padang datar yang terdapat sumber air sehingga menjadikan tempat ini sebagai tempat perkemahan para kafilah baik yang datang menuju Madinah maupun yang akan berangkat dari Madinah). Dalam pasukan ini seluruh kaum Muhajirin yang awal dan kaum Anshar semuanya ikut dalam pasukan Usamah, diantaranya Abu Bakar, Umar bin Khatab, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid dan para Muhajirin awal serta kaum Anshar lainnya.
        Sebagian dari mereka memprotes sikap Rasulullah SAWW yang mengangkat Usamah sebagai pemimpin mereka yang dianggap tidak layak karena usia Usamah terlalu muda sedangkan di dalam pasukan itu terdapat para Muhajirin awal yang dianggap lebih layak dan pantas. Melihat sikap tidak senangnya mereka, Rasulullah SAWW dengan kepala yang diikat dengan sorban dikarenakan sakit Beliau SAWW yang semakin parah. Beliau SAWW marah dan berkata,”Telah sampai kepadaku bahwa sebagian dari kalian telah mencela pengangkatan Usamah sebagai pemimpin pasukan!. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya, sungguh dahulu kamu juga mengecam (mencela) ketika aku mengangkat ayahnya menjadi pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak (pantas) memegang pimpinan sebagaimana ayahnya yang juga pantas memegang pimpinan”. Kemudian Beliau SAWW turun dari mimbar dan kaum muslim yang ikut dalam pasukan kembali ke Jurf. Sakit Rasulullah SAWW bertambah parah Beliau SAWW bersabda,”Percepat pasukan Usamah, semoga Allah melaknati mereka yang meninggalkannya”. Termasuk para penentang dalam pasukan Usamah di sini adalah Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatab dan yang lainnya.
        Mereka enggan untuk berangkat memenuhi perintah Rasulullah SAWW dan akhirnya pasukan ini tidak jadi untuk berangkat karena pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 Hijriah Rasulullah SAWW wafat.

        Untuk lebih jelas kiranya dapat anda merujuk pada kitab-kitab antara lain: Ibnu Sa’ad dalam Kitabnya Thabaqat Al-Kubra, Syahrastani dalam Kitabnya Al-Milal wan Nihal, Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul Ummal, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Tahdzib As-Syam, Ibnu Atsir dalam kitabnya Tarikh Al-Kamil.

        PERISTIWA HARI KAMIS

        Tiga hari menjelang wafat Rasulullah SAWW, Beliau SAWW SAWW meminta kepada yang hadir untuk membawakan kertas dan pena. Ibnu Abbas meriwayatkan, Beliau SAWW berkata “Ambilkan kertas dan pena untuk kutuliskan wasiat agar kalian kelak tidak akan tersesat”. Umar yang waktu itu hadir mengatakan, “Nabi sedang meracau (yahjur), cukuplah bagi kita Kitabullah (hasbunna kitabullah)”. Dan terjadilah pertengkaran di sisi Nabi, diantaranya ada yang tidak setuju dengan perkataan Umar namun sebagian lain mengikuti perkataannya, dan terjadilah keriuhan sehingga Nabi SAWW tidak senang dan mengatakan dengan nada keras “pergilah kalian dari sisiku”. Ibnu Abbas sangat menyesali kejadian ini dan berkata “peristiwa yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan dan pertengkaran mereka dihadapan Nabi yang ingin menulis wasiat untuk mereka”.(Shahih Bukhari Jilid 2 dan 5, Hal 75. Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, Hal 355, Jilid 5, Hal 116, Tarikh Al-Umam wal Muluk, Thabari, Jilid 3,hal 193. Tarikh AL-Kamil, Ibnu Atsir, Jilid 2 Hal.320.)
        Dalam shahih Muslim dari Ibnu Abbas, Nabi SAWW berkata “Bawakan kepadaku tulang belikat (yang biasa digunakan sebagai kertas waktu itu) dan tinta, aku akan menuliskan bagimu surat agar kamu tidak akan pernah tersesat sesudahku untuk selama-lamanya!” dan mereka menjawab “Rasulullah Saw sedang mengigau (hajara/yahjuru)!”(Shahih Muslim, pada akhir Kitab Al-Washiyah.)
        Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul Ummal meriwayatkan dari Ibnu Sa’ad dengan sanad yang berasal dari Umar yang berkata “Kami berada di rumah Nabi dan diantara kami dan kaum wanita terdapat hijab. Maka Rasulullah (SAWW) bersabda, “Basuhi diriku dengan Tujuh kantung air (qirab adalah kantung yang terbuat dari kulit) dan ambilkan lembaran dan tinta agar aku menuliskan untuk kamu surat supaya kamu tidak akan tersesat sesudahnya untuk selama-lamanya!”. Dan kaum wanita berkata,”Penuhi keinginan Rasul Allah!”, dan aku berkata,”Diam kamu! Bila ia sakit kamu menangis, tapi bila ia sehat kamu pegang tengkuknya!” maka Rasulullah Saw bersabda,”Mereka lebih baik dari kamu!”. (Kanzul Ummal, Jilid 4, Hal. 52. lihat Bab 15 Sub Bab “Umar berani tolak permintaan Rasul Saw.)
        Dalam riwayat-riwayat lain untuk memperhalus perkataan Umar redaksinya diubah dengan mengatakan Nabi sudah terlalu sakit menggantikan Nabi sedang meracau (yahjur) dan Al-Quran ada disisi kalian (‘indakum Al-Quran) menggantikan cukup bagi kami Kitabullah (hasbunna kitabullah). Sebagian ulama Ahlu Sunnah mengatakan bahwa tindakan sahabat Umar adalah karena dia merasa penderitaan Nabi dalam sakitnya dan tidak ingin Nabi terbebani.
        Dalam peristiwa ini akan masih adakah alasan-alasan pema’af sehingga tindakan yang diambil oleh Umar menjadi sebuah pembenaran? Seandainya ucapan dan tindakan Umar adalah untuk meringankan penderitaan Rasulullah SAWW ketika Beliau SAWW sakit, tapi mengapa Rasulullah SAWW tidak senang dan marah atas sikap mereka sehingga mereka diusir keluar oleh Rasulullah SAWW?, Bukankah Rasulullah SAWW lebih mengetahui umatnya dibanding dengan yang lain (Umar)? Siapakah yang lebih mengerti tentang Al-Quran, apakah Rasulullah SAWW atau yang lain (Umar)? Dan siapakah yang lebih mengetahui agama ini Rasulullah SAWW atau yang lain (Umar)?. Kalau ada masih ulama-ulama dari Islam menjawab bahwa yang lain lebih mengerti, mengetahui dan memahami Islam melebihi Rasulullah SAWW maka sesungguhnya ia sungguh telah sangat tersesat!.
        Jika mereka mengatakan cukuplah Al-Quran disisi kami, bukankah mereka telah mengetahui dalam Al-Quran bahwa Allah telah berfirman: “Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(Al-Quran, Surah Ali-‘Imran, 31,32)
        Tidak akan pernah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menyedihkan ini jika mereka benar-benar memahami Kitabullah dan mereka tahu kedudukan mulia Rasulullah SAWW di sisi Allah Swt.
        Kalaulah mengatakan bahwa tindakan yang diambil oleh Umar bin Khatab merupakan sebuah Ijhtihad maka jawabannya adalah kaum muslim setelah wafat Beliau SAWW maka tidaklah diperlukan lagi Sunnah Rasulullah SAWW dalam agama Islam, karena cukup dengan Al-Quran kita dapat menjalani syari’at-syariat Islam. Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Nikah, Perceraian dan syari’at-syariat Islam lainnya cukup dengan bimbingan Al-Qur’an saja, apakah hal ini mungkin? Ataukah Allah tidak perlu Rasul-Nya, sehingga Al-Qur’an cukup Allah perintahkan Malaikat Jibril untuk menjatuhkan dari langit dan para manusia harus paham maksud dan kehendak Allah?. (akan kita lihat berbagai perubahan Syari’at Islam setelah Rasulullah SAWW wafat).
        Alasan lainnya yang dapat dikemukakan bahwa kondisi Nabi SAWW yang sangat berat sakitnya sehingga Ijhtihad dilakukan oleh sahabat Umar agar Rasulullah SAWW tidak terbebani. Akan timbul pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan alasan yang dikemukakan yaitu : Siapa yang tahu kondisi sakitnya seseorang apakah Sisakit atau orang yang melihatnya?. Jawabannya ada dua kemungkinan, yang pertama pastilah Sisakit yang lebih tahu kondisinya sendiri, karena ia dapat merasakan kondisi tubuhnya secara menyeluruh. Yang kedua adalah orang yang melihatnya dengan batasan bahwa Sisakit dalam kondisi gila atau dalam kondisi tidak waras. Berkenaan dengan ini maka tidak akan pernah mungkin bahwa seluruh Nabi Allah dalam kondisi yang kedua yaitu kondisi gila atau tidak waras meskipun itu dikatakan meracau (hajara/yahjuru), dan para Nabi Allah terlepas dari kondisi-kondisi ini. Pasti semua yang sadar akan menjawab pada jawaban pertama dan kalaulah mereka menuduh pada Nabi Allah SAWW pada kondisi kedua maka hanya orang yang tidak tahu Al-Quran (agama islam) atau orang yang ingin menghina Nabinya untuk maksud dan tujuan tertentu.
        Maha Suci Allah yang telah menurunkan sebaik-baiknya mahkluk yang tiada tara diantara seluruh ciptaan-Nya baik yang ada di langit dan di bumi sebagai seorang Nabi yang agung diantara para utusan-Nya dan penutup dari seluruh Nabi. Dialah Muhammad Rasulullah SAWW Al-Amin yang pembawa risalah kebenaran dari Yang Maha Agung untuk seluruh umat manusia. Kepatuhan kepadanya adalah suatu kewajiban yang telah ditetapkan dalam Al-Quran Al-Karim dan tiadalah yang membencinya melainkan mereka telah memusuhi Allah Azza wa Jalla dan tiadalah yang tidak taat kepadanya kecuali orang-orang telah merugi dan pasti tersesat.

        ….. dan kejadian-kejadian berlanjut setelah Rasulullah SAWW, darah dan air mata dan kekelaman setiap peristiwa terjadi, Perang antara Sahabat dengan Sahabat, yg mengaku Muslim dengan Muslim.

        ………

  6. @……… Itulah sekilas dan beberapa contoh, masih banyak lagi peristiwa2 sebagai bahan acuan untuk memilih siapa-siapa yg berhak mendapat Label Sahabat Nabi SAWW…..dengan merujuk pada kitab sejarah yg ada di kaum muslimin ini.

    Kalau saya akan memilih sahabat-sahabat dengan Standar Al-Qur’an yg Suci (seperti beberapa surah Al-Qur’an diatas).
    sekarang tergantung anda dan anda sekalian……. Standar apa yg anda Pakai ????
    - pernyataan Guru atau Dogma ulama anda ????
    …. terkecuali hati dan pikiran anda telah teracuni kefanatikan buta sehingga menilai sesuatu permasalahan dengan emosi dan kesombongan (kebanggaan) berfikir yg mana hal ini telah membuat Jatuhnya mahluk langit paling taat kepada Allah ke lembah kehinaan paling dalam yaitu “Iblis Sang Penyesat” dan manusia paling kaya “Qarun Sang Pengingkar”.

    oke ….. coy and bro tugas ana udah ane jalanin.

    sekarang kalau Umar bin Khatab Jago mana-mana musuh yg terkena tajamnya pedang “al-faruq” ?????? sebutkan satu saja namanya…..dengan peristiwanya? jgn asal sebut men, coy and bro……
    wasallam….

    • Semoga ulasan yg sangat sedikit (walaupun ‘capek’ mencet keyboard huruf perhuruf) ini kiranya dapat menjadi bahan renungan dan membuka ruang pemikiran anda dan saya bahwa “ada bercak hitam dalam lukisan sejarah islam” yang mana “bercak hitam ini” tidak dapat dicuci dan terlunturkan dari lukisan sejarah islam. Bahwa ia tetap ada dan selalu dalam sebuah bingkai lukisan agama ini.

      • udah cukup kamu pegang pendapat kamu sendiri pokoknya dia adalah 4 sahabat nabi yang harus kita junjjung tinggi atau kita sebut sebagai khulafaur rasyidin

    • @sarto Jr.
      Kalau ngomong jangan seperti bebek yg tidak lain kwek-kwek-kwek.
      dimana Allah Swt menyebut Umar Singa Padang Pasir ? al-Qur’an Surah apa ayat Berapa? atau ente menambah-nambah Al-Qur’an! atau aliran ente ada al-Qur’an yang berbunyi “Sesungguhnya Umar bin Khatab adalah Singa Padang Pasir”.
      bagusnya ente banyak2 belajar tentang islam, agar ente faham tentang agama ini jangan seperti orang Jahiliyah yang berkata “ini adalah agama nenek moyang kami”

    • Permasalah khalifah adalah permasalahan agama bukan permasalahan politik saja, karena itu bahwa pengangkatan khalifah adalah hak Allah bukan hak siapa-siapa. khalifah islam bukan dipilih oleh segelitir orang atau dengan penunjukkan langsung atau bai’atnya ramai-ramai masyarakat kepada salah satu khalifah.
      Otoritas penunjukkan ini hanyalah milik Allah, Dialah yg memilih khalifah pengganti melalui lisan Nabi Suci-Nya.
      “Tidaklah mungkin” bahwa setelah turunnya Wahyu dan terbentuknya syariat Islam agama ini dibiarkan tanpa “penjaganya” setelah wafatnya Nabi Suci SAWW.
      Pilihan Allah swt tentu adalah orang yg berkualitas Akhlak dan Berilmu karena dialah sebagai penjaga, penjelas dan pengurai ilmu-ilmu Rasulillah SAWW kepada umat, maka ia menjadi “Pewaris Rasulullah”.
      “Pewaris Rasulullah” tentulah manusia yang keilmuannya tiada sanding setelah rasulullah, akhlaknya adalah ahklak Sang Rasulullah serta keturunan mulia di masyarakat dan wajahnya tidak pernah sekalipun tunduk pada Berhala.
      menurut anda adakah sahabat yg mempunyai kriteria ini? Siapa?

      • Jadi mengapa anda mnyudutkn umar klo bgtu, berikut kutipan anda

        “Pilihan Allah swt tentu adalah orang yg berkualitas Akhlak dan Berilmu karena dialah sebagai penjaga, penjelas dan pengurai ilmu-ilmu Rasulillah SAWW kepada umat, maka ia menjadi “Pewaris Rasulullah”.”

        Saya jga mngutip statement anda,
        ” Jika itu terjadi maka…..Hancurlah Indonesia.”

        Tp kenapa tdk terjdi dngan umat islam saat itu saat umar menjdi khalifah, sehrusnya jika sesuai pndangan anda hrusnya hncur donkkk

        Katanya anda tidak mngikuti mazhab tertentu, tp knp anda mnulis SAWW

        Thanks

      • jangan kaget bray di malang jawa timur udah ada universitas jurusan pengkafiran…mahasiswanya beragama kristen dan yahudi, tapi pelajarannya AL-QUR’AN dan HADIST udah jelas itu, mereka itu untuk menyebarkan kesesatannya….untuk menyesatkan org muslim dan tuk mengadu domba org muslim…mungkin juga si ILHAM ini termasuk mahasiswa universitas tersebut
        dan mengenai siapa yg telah ditebas oleh pedang umar bin khattab sudah tentu banyak namanya juga perang, toh g mungkin sebelum membunuh musuh di tanyakan dulu namanya…gak lucu dong….dan andaikan ILHAM ini hidup di jaman itu sudah tentu SI ILHAM ini yg merasakan tajamnya pedang umar bin khatab

      • sahabat yang terKasih, sy baru kenal islam nih dari kejahiliyahan saya yg dulu…jd harus ada firman Allah SWT tambahan gitu ya yang memuat nama, bin, keluarga mana, asal, untuk memilih khalifah pengganti Muhammad?
        kalo Allah engga nurunin gimana? bolee ga ya kalo khilafah ditunjuk dr hasil musyawarah se dunia?? tengkyu bro maap ni gw banyak tanya

    • oh de..ar Sarto.
      Bukan maksud Saya merendahkan UMAR BIN KHATAB namun sejarah mencatat bagaimana perilaku sahabat ini dan ini “Bukan Kata Saya”. Masih ada Sahabat yg Mulia untuk kita beri apresiasi dan menjadi contoh bagaimana dia mencintai dan berkorban demi Rasulullah dan Risalah Rasulullah, yang jejak kakinya adalah jejak kaki Nabi Ummi SAWW.

    • @sarto Jr.III
      Mana Surah AL-Qur’an yg menyatakan Umar Bin Khatab bin Nofail al Adi sebagai SInga Padang Pasir? mungkin anda terinspirasi film “Lion on the Desert” yang diperankan oleh Anthony Quinn film perjuangan Omar Mukhtar dari Libya melawan penjajahan Italia..

    • menurut Imam Syafi’i (bagi pengikut imam syafi’i) “tidak sah shalat seseorang tanpa menyertakan keluarga Nabi yaitu wa ‘ala alihi wassalam”

  7. @Ismail :
    1. ketika saya bertanya kepada anda ……..adakah sahabat yg mempunyai kriteria ini? Siapa?
    jawaban anda adalah “Jadi mengapa anda mnyudutkn umar klo bgtu” maka kalau saya berkesimpulan dr jawaban anda bahwa Umar bin khatab tidak memiliki kriteria yg kita sebutkan.
    2. Saya jga mngutip statement anda,
    ” Jika itu terjadi maka…..Hancurlah Indonesia.”
    Tp kenapa tdk terjdi dngan umat islam saat itu saat umar menjdi khalifah, sehrusnya jika sesuai pndangan anda hrusnya hncur donkkk.!!!!
    – “bahwa pada suatu hari khalifah Umar memberi perintah kepada orang ramai; ia berkata: ‘Jika ada seorang menikah dan menentukan maharnya dengan melebihi dari 400 dirham untuk diberikan kepada isterinya, saya akan kenakan hukuman tertentu padanya dan akan memasukkan jumlah selebihnya ke dalam baitul-mal.’
    Seorang wanita diantara hadirin berteriak, ‘Umar! Apakah yang engkau katakan itu yang lebih pantas diikuti atau perintah Allah? Tidakkah Allah maha besar telah berkata: “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil daripadanya barang sedikitpun” [QS 4:20]
    Setelah mendengar ayat tersebut dan bantahan dari wanita tersebut, Umar berkata: ‘Kamu mempunyai pengetahuan yang lebih, dalam hal fiqh dan pemasalahan dari Umar, kesemua kamu, bahkan termasuk hukum wanita memakai purdah yang tinggal dirumah.’
    Kemudian Umar sekali lagi naik ke mimbar dan berkata: ‘Walaupun saya telah melarang kamu memberi lebih dari 400 dirham sebagai mahar kepada isteri kamu, saya sekarang membenarkan kamu memberi seberapa banyak yang kamu suka.Tidak ada kesalahan padanya.’
    (daftar riwayat “Jalaluddin Suyuti di dalam Tafsir al Durru’l-Mansur, Ibnu Kathir di dalam Ulasan, ; Jarullah Zamakhshari di dalam Tafsir al Kashshaf,; Fazil Nishapuri di dalam Tafsir-Gharibu’l Qur’an,, dengan berkaitan Surah an-Nisa (wanita) dari al-Quran; Qartabi di dalam Tafsir,; Ibn Maja’ Qazwini di dalam Sunan, ; Asadi di dalam Sunan, jilid I, ms 583; Baihaqi di dalam Sunan, Qastalani di dalam Sharah Sahih Bukhari, jilid VIII, ms 57; Muttaqi Hindi di dalam Kanzul Ummal, Hakim Nishapuri di dalam Mustadrak.
    Hadith ini menunjukkan bahwa khalifah Umar tidak begitu mahir di dalam al-Quran dan perundangannya. Jika tidak, dia tidak akan mengatakan sesuatu yang telah jelas salahnya sehingga dengan gampangnya dibantah oleh seorang wanita yang bukan ahli fiqih.
    — semasa pemerintahan Umar, lima orang telah ditangkap atas tuduhan zina dan dibawa kepada Umar. Telah dibuktikan bahwa lima orang telah melakukan zina dengan wanita tertentu. Umar serta merta memerintahkan supaya mereka dirajam hingga mati. Namun mendapat sanggahan dari seorang sahabat Nabi SAWW yg saat itu masuk di dlm masjid. Sahabat tersebut berkata “Disini kamu telah memerintahkan yang bertentangan dengan perintah Allah”, Umar berkata, ‘Kesemua zina telah dibuktikan. Mati dengan dirajam telah ditulis sebagai hukuman terhadap kesalahan itu.’ sahabat itu berkata berkata, ‘Di dalam perkara zina, terdapat beberapa perbedaan kaedah tergantung pada kasusnya. Begitu juga dalam kasus sekarang ini, perbedaan hukuman harus dijatuhkan.
    Sahabat itu memerintahkan kelima-lima orang itu dibawa kepadanya. Dia memerintahkan orang yang pertama dipenggalkan kepalanya. Dia memerintahkan orang yang keduanya dirajam hingga mati. Dia memerintahkan orang yang ketiga diberikan 100 pukulan, yang keempat 50 pukulan dan yang kelima 25 pukulan. Umar heran dan bingung, berkata, bagaimana kamu memberikan keputusan ini dengan lima Sahabat itu berkata, ‘Orang yang pertama adalah orang kafir yang dibawah perlindungan islam. Dia melakukan zina dengan wanita islam. Oleh karena dia telah kehilangan perlindungan islam; maka dia telah diberikan hukuman bunuh. Orang kedua mempunyai isteri, maka dia dirajam hingga mati. Yang ketiga dia belum beristeri, maka dia diperintahkan dengan hukuman 100 pukulan. Keempat seorang hamba yang hanya layak didenda dengan setengah orang merdeka maka dihukum 50 pukulan. Dan yang kelima adalah seorang yang kurang akalnya, maka diberikan hukuman yang ringan yaitu 25 pukulan.’
    Kemudian Umar berkata, ‘Jika Dia (sahabat) tidak ada disana, Umar pasti akan binasa,! Saya harap saya sudah tidak ada lagi apabila kamu tidak ada diantara kami.’

    – Seorang wanita mengandung telah dibawa kepada Umar bin khattab. Setelah disoal, dia mengaku bahwa dia telah bersalah melakukan zina, dan khalifahh memerintahkan dia dirajam sehingga mati. Kemudian seorang sahabat berkata, ‘Perintah kamu boleh dilaksanakan kepada wanita ini, tetapi kamu tidak punya kuasa terhadap anaknya.’
    Umar membebaskan wanita itu. (Imam Ahmad Ibn Hanbal di dalam Musnad, Bukhari di dalam Sahih, Sheikh Sulayman al Qundusi al hanafi di dalam Yanabi al Mawadda, Imam Fakhruddin Razi di dalam Arba’in.
    — Banyak lagi riwayat yg menyatakan berapa kali khalifah umar bin khatab salah dalam menghukum., dapat dibaca pada kitab-kitab sejarah, syarah dll…

    ….Pertanyaan anda mengapa tidak terjadi saat itu?
    dikarenakan masih ada sahabat rasulullah yang cemerlang di belakang umar.

    3. Katanya anda tidak mngikuti mazhab tertentu, tp knp anda mnulis SAWW.
    apakah dengan menggunakan dengan menambah WA ALIHI wassalam saya harus dikatakan mengikuti mazhab tertentu, saya mengutip kata-kata imam syafi’i:
    “wahai keluarga Nabi SAWW kecintaan kepada kalian adalah kewajiban di dalam Alqur’an, tidak sah shalat seseorang tanpa bershalawat kepada kalian”.

    • Klo msalah sahabat mana yg masuk kriteria, mhon maaf saya tdk mnjwab yg mna yg pntas tp ALLAH SWT telah mnetapkn takdir dngan memilih para pmimpin umat setelah nabi. Anda sendiri yg mngatakn

      “Tidaklah mungkin” bahwa setelah turunnya Wahyu dan terbentuknya syariat Islam agama ini dibiarkan tanpa “penjaganya” setelah wafatnya Nabi Suci SAWW.

      Terlpas bgaimnapn ksalahan yg telah dilakukn oleh umar,,beliau ttaplh slah satu pmimpin yg prnh mmimpim umat islam maka sepntasnyalh kta tdk mnghina beliau, jngan krna kslahan sdikit mnghlngkn banyak kbaikn.

      Saya sngat mnyayangkn statment anda tersebut, anda sbgai orng yg berilmu tdk spatutnya mngeluarkn statment itu.

      Apakh akn lbih baik jika saat itu yg mnjdi khalifah bukan umar?
      Jawabannya belum tentu, bisa jd tdk lbih baik.

      Ingat khalifah bukan nabi

      Thanks

      • @:ismail
        - kalau anda menyediakan waktu utk membuka kembali lembar-lembar sejarah islam dan meneliti keberadaan para sahabat rasulullah SAWW dengan penilaian standarnya aq-Qur’an dan hadist nabi SAWW, bersifat adil dan objektif maka anda akan melihat ada sahabat yg memiliki kriteria tersebut.
        - sedikit mengenai taqdir.
        Putih, hitam, dan kuning kulit kita adalah taqdir dari Allah SWt, kita tidak dapat memilih siapa ibu dan ayah kita karena ini sudah taqdir dan ketetapan Allah. Namun kita diberi hak oleh Allah swt untk dapat memilih jalan kebaikkan atau kesesatan setelah diberi petunjuk dari Allah swt. Tidaklah kita katakan bahwa anak kita yg tdk dapt membaca adalah taqdir dari Allah sedang kita tidak berusaha memberi pendidikan kepadanya atau seorang pencuri yg tertangkap kemudian kita lepaskan dengan mengatakan bahwa engkau sudah ditaqdirkan oleh Allah swt untk menjadi pencuri.
        Bahwa saya tidak ada mengatakan “ALLAH SWT telah mnetapkn takdir dngan memilih para pmimpin umat setelah nabi.”
        Allah telah menggambarkan kepemimpinan setelah Nabi SAWW melalui Lisan Nabi, siapa yg mau mengikuti lebih baik baginya dan siapa yg memilih selain itu maka ketentuan Allah berlaku. seperti Kewajiban Shalat bahwa Allah telah mewajibkan Shalat dan siapa yg meninggalkannya ada sanksi, namun kita dapat memilih mau shalat atau tidak.
        Proses terjadinya pengangkatan Khalifah saja terjadi berbagai cara:
        a. Musyawarah (kaum anshar dan 3 orang muhajirin) khalifah I
        b, PL (Penunjukan Langsung dari Abu Bakar kepada Umar) Khalifah II
        c. Team Formatur (syura yg berjumlah 6 orang sahabat,) Usman Khalfah III
        d. Bai’at kaum Muslimin kepada Ali, Khalifah ke IV.
        – setiap ketentuan syariat yg Allah tetapkan pasti hanya kebaikkan darinya, masalah “Apakh akn lbih baik jika saat itu yg mnjdi khalifah bukan umar?
        Jawabannya belum tentu, bisa jd tdk lbih baik” itu adalah kata “pemaaf yg berlebihan”.

        tanks ismail atas tanggapannya.

  8. Dear Ilham
    Sama2, smoga dngan diskusi kecil ini dpat merubah pndangan anda trhdap umar,
    Amiennn

    Thanks atas share ilmunya jga yahhh

    • @Ismail: apapun yg saya sampaikan harus anda teliti lagi keabsahannya, baik riwayat-riwayat ataupun catatan2, jgan anda terima mentah2 sebagai suatu kebenaran mutlak, tanpa anda kaji lebih dalam lagi.
      Setiap berita yg sampai kepada kita harus di uji kebenarannya.
      apa yang saya sampaikan “bahwa ada dunia lain dan pandangan lain” di luar kepala kita yang harus kita ketahui selain dari dogma yg selama ini telah menjadi keyakinan kita.

      terima kasih atas apresiasi dan do’a anda.
      Semoga kita menjadi pengikut setia Muhammad Rasulullah SAWW yg setia, yg tidak terusir dari telaga Beliau SAWW kelak di akhirat, amien ya Rabbi ya Maula.

  9. “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)”. [Hadits mutawatir, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya]
    “Jangan mencela sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud maka ia tetap tidak menandingi satu mud bahkan setengahnya yang diinfakkan oleh salah seorang dari mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

    • @pahlawan bertopeng:
      “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)”. [Hadits mutawatir, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya]
      koreksi:
      1. dijaman Rasulullah kalau sebaik2nya generasi mengapa:
      - ada yang mengaku sahabat lari dari perang Uhud?
      - ada yang mengaku sahabat yang keluar dari Masjid ketika Rasulullah lagi khutbah jum’at (lihat al-qur’an surah jum’ah ayat 11)
      - ada yang mengaku sahabat ketika perintah Rasulullah utk pergi berperang di bawah komando Usama mereka ramai2 menolak dan ogah2an (akhirnya berangkat pada masa Khalifah Abu Bakar)
      - ada yang mengaku sahabat ketika Rasulullah meminta kertas dan pena sebagian yg hadir menolak perintah Rasulullah.
      - ada yg ketika hijrah ke negeri habsya (afrika) keluar dari Islam dan memeluk kristen.
      - ada yang diusir oleh Rasulullah dari Mekah dan Madinnah (hakam bin Ash), setelah rasulullah wafat khalifah abu bakar dan umar masih melarang namun pada masa khalifah usman bin affan dipanggil ke Madinnah dan diberi harta, karena kerabat Khalifah Usman bin Affan.
      - Perang Jamal antara khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan Ummul mukminin Aisyah (20 ribu orang muslimin terbunuh)
      - Perang Shifin, khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan
      - Perang Khawarij
      - Perang Karbala, al-Husein cucu Rasulullah di bantai secara sadis dan tidak berperikemanusiaan oleh Yazid bin Muawiyah dan pengikutnya.
      -dll
      apakah ini dikatakan sebaik2nya generasi, Rasulullah masih hidup dan di depan hidung mereka saja perintah Rasulullah di langgar !!!!
      2. Generasi Tabi’in
      - sulit utuk menggambarkan (lihat dan baca buku sejarah) bagaimana perebutan kepemimpinan Islam (daulah Islamiyah) antara Bani Ummayah dan Abbasiah serta pembantaian besar-besaran keturunan Rasulullah dan para pencinta mereka, hitam dan berdarah…….!!!!
      sampai disini saya tidak akan melanjutkan…….
      sebaiknya ada baca catatan saya di atas yaitu (Kedudukan Rasulullah dan Kewajiban ketaatan kepadanya Dalam Al-Qur’an, Pengkatagorian Sahabat)
      bandingkan dengan hadist para sahatku di usir dihadapanku?

      • Kenapa anda harus mengkoreksi hadits yg sudah sahih itu?apa kurang yakin dgn kata2 Rasulullah?jgn2 anda jg suka mengkoreksi Al-quran jg ya?
        “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzab: 33]. Skalian mas dikoreksi hahahaha

  10. Ilham@ ana tau dr statemen anda, bhwa anda pengikut syi’ah yg d wajibkan melaknat sahabat Nabi yg 3. Dn kelihatan skali dr kriteria khalifah yg anda uraikan, anda pengagum fanatik Ali RA. Walau anda bertaqiyyah.
    All @ Hati2 wahai saudaraku, syi’ah slalu menggunakan hadist2 palsu, dan menafsirkan AlQUR’AN skehendak mereka. Sesungguhnya syi’ah menganggap Qur’an yg skrg tdk lg murni, menganggap Utsman membuang sbagian ayat dlm Alqur’an. Syi’ah mempunyai Qur’an fatimiyah yg menambahkan beberapa ayat versi ulama2 mereka. Dan syi’ah penggila Mut’ah yg jelas telah d larang oleh Nabi SAW.

    • @Made;
      anda terlalu cepat memvonis seseorang, dan tergesa-gesa dalam berargumen tanpa dalil dan alat bukti sekalipun, ini bukan ciri khas dari orang islam (tapi saya yakin anda orang islam).
      klaim anda dan orang selain anda tentang keberadaan al-Qur’an Syi’ah ini pernah menjadi bahan dialog saya dengan seorang Islam Syiah dan jawaban yang dikemukakan adalah (masih jelas dalam ingatan saya sekitar 21 tahun yg lalu). Dia mengatakan sebagai berikut:
      “Ilham, seandainya syiah mempunyai al-qur’an tersendiri yg berlainan dengan Al-Qur’an yg ada sudah pasti Al-qur’an itu telah beredar dan tersebar di seluruh pelosok dunia karena itu akan menjadi bukti yang nyata untuk mengatakan kesesatan syiah, apakah anda mempunyai Al-Qur’an tersebut?, tolong anda tunjukkan. di Iran yang mayoritas penduduknya adalah bermazhab Syiah namun yang bermazhab Sunnah yg tidak sedikit sudah pasti beredar Al-Qur’an yg berbeda pasti akan disebarkan oleh kaum Sunnah di Iran dan dikirim atau kata jeleknya diseludupkan ke negara2 muslim di dunia utk menjadi hujjah kesesatan syiah”.
      itulah jawaban dari orang syiah ini.
      dari jawaban ini mampu membatah tuduhan yg tidak berdasar saya pada waktu itu.
      dan utk pernyataan anda yg lain2 adalah anda terlalu tergesa2.
      terima kasih..

      • @made: maaf terlupakan masalah khalifah dengan kriteria yang saya uraikan sebelumnya, “Pewaris Rasulullah” tentulah manusia yang keilmuannya tiada sanding setelah rasulullah, akhlaknya adalah ahklak Sang Rasulullah serta keturunan mulia di masyarakat dan wajahnya tidak pernah sekalipun tunduk pada Berhala.”, adakah dalam kriteria ini yang mempunyai nilai kecacatan?
        1. Islam harus dibawah bimbingan Pemimpin yang berilmu luas, pengurai ilmu Rasulullah, yang mampu menjawab segala permasalahan umat baik dalam permasalahan Agama dan Sosial Politik masyarakat. Tentu anda tidak mau dipimpin oleh orang yg mempunyai kelemahan dalam bidang ini.
        2. Akhlaknya adalah akhlak yg mulia yang diwarisi akhlak sang Rasul, sehingga Tua, muda, miskin dan kaya mencintainya. Tentu anda tidak akan dipimpin oleh orang yg berperangai buruk dan menyeramkan, seolah-oleh bila ia lewat di depan wanita hamil bisa-bisa sang wanita itu keguguran.
        3. Wajahnya adalah Wajah Islam Murni, Ruhnya telah terdidik dari belia tentang Tauhid Makrifat Allah sehingga dengan dia Islam menjadi Cahaya agama tauhid. maka Pemimpin yg tidak pernah menyembah berhala dapat menghiasi kemurnian agama islam.
        jikalau anda sudah dapat meyimpulkan dan menunjuk yang mana “ada” sahabat yg memiliki kriteria di atas berarti anda telah memberikan pilihan padanya, dan menyisihkan sahabat yg lainnya berarti anda telah menyematkan sahabat yang satu dan menolak yg lain.
        sukran made……

      • Tp kenapa yaa Iran yg berbatasan langsung dgn Palestina tidak pernah menolong saudarany sesama islam dari gempuran dan serangan israel?trus khomeini terlalu diagung2kan pula di iran melebihi Rasulullah. Oiya saya pny bukti klo Imam Khomeini tidak benar lhoo hihihihi :
        Imam Khomeini berpendapat atas kebolehan melakukan mut’ah sekalipun dengan anak yang masih disusui. Dia berkata, “Tidak mengapa melakukan mut’ah dengan anak yang masih disusui dengan pelukan, humpitan paha –meletakkan kemaluannya di antara dua pahanya- dan ciuman. (lihat kitabnya berjudul Tahrir al-Wasilah, 1/241, nomor 12).

  11. @KOPLER;
    Mohon anda sebutkan Universitas apa dan alamat jelas yg dikelola oleh orang Nasrani dan Yahudi yang meiliki Jurusan Pengkafiran? Jangan-jangan Universitas ini “ilusi” anda sendiri yang ingin memfitnah dengan memutar balikkan fakta yg coba anda sebarkan utk “Memecah Belah Umat Islam”, karena Musuh Islam sering mengatakan “Tahi Hidung si Anu bau, tetapi ia tidak sadar bahwa Hidungnyalah yang Borok”. Tapi saya tidak yakin anda seperti itu Kopler, anda pasti dapat menunjukkan Universitas dan alamatnya.
    Kopler pernyataan anda “mengenai siapa yg telah ditebas oleh pedang umar bin khattab sudah tentu banyak namanya juga perang…..” para sejarahwan pasti mencatat dan berita itu sampai pada kita nama2 yg banyak ya minimal satu dua orang dari suku dan kafilah mana sebagai contoh keberanian Umar bin Khatab, karena waktu itu (termasuk awal2 Islam) musuh Islam masih dikenal karena masih satu suku, satu kabilah.
    jadi Kopler pernyataan anda tertolak mutlak tanpa bukti jelas.

  12. @pahlawanBertopeng:
    Anda terlalu bernafsu dan emosi sehingga akal dan pikiran anda telah terperangkap oleh Hawa Nafsu yg buas.
    - Bila ada hadist (perkataan Rasulullah) yg bertentangan dengan al-qur’an maka hadist itu bukanlah dari Rasulullah. pe”Lebel”an hadist Sahih di Kitab Bukhari masih perlu dikoreksi, karena banyak hadist yg dikeluarkan dalam Kitab Bukhari yang bertentangan dgn Al-Qur’an. beberapa contoh : Rasulullah lupa terhadap beberapa ayat Al-Qur’an, Rasulullah ketika akan mengimami sholat lupa mandi Junub, malaikat menampar Nabi Musa as, Nabi Musa terlanjang dan masih banyak lagi jika anda teliti !!!
    Sedangkan hadist yg ada tulis “sebaik-baiknya masa (zaman)…..” sangat bertentangan dgn fakta sejarah islam, maka hadist ini perlu dipertanyakan kembali. Saya tidak pernah dan akan meragukan “kata-kata” Rasulullah namun saya meragukan apakah “kata-kata” ini DARI Rasulullah.
    - Masyarakat Dunia tahu Negara Islam Iran perseteruannya dengan Israel, Amerika dan sekutunya, namun sayangnya anda ingin memutar balikkan Fakta. Iran tidak punya kepentingan kepada Palestina, penduduk palestina Mayoriti adalah Mazhab Sunnah namun mengapa Iran dgn sangat gigih membantu Pembebasan Palestina sehingga dicanangkan pada Jum’at terakhir Ramadhan sebagai hari pembebasan palestina (yaumul quds) yg diprakarsai oleh Imam Syi’ah Khomeni. coba anda bandingkan Arab Saudi yg membuka Pangkalan Militer Amerika dinegaranya yg jelas2 memusuhi Islam? tanyakan kepada diri anda!!!!

    +=+ untuk menjawab pernyataan anda ““Tidak mengapa melakukan mut’ah dengan anak yang masih disusui dengan pelukan, humpitan paha –meletakkan kemaluannya di antara dua pahanya- dan ciuman. (lihat kitabnya berjudul Tahrir al-Wasilah, 1/241, nomor 12).”, di sini teman seorang Syi’ah yg menjawabnya:

    - Pahlawan bertopeng, kalau anda ingin mengutip dan agar kelihatan “seolah-olah benar” hendaknya anda kutip dari cerita Sayyid Husain Al-Musawi dalam kitab “Lillahi Tsumma Lil Tarikh” atau diterjemahkan dalam di Indonesia “Kenapa Aku Meninggalkan Syi’ah”, dan halaman yg anda maksud bukan Tahrir al-Wasilah, 1/241, nomor 12), tetapi 2/241, nomor 12.
    Sayyid Husain Al-Musawi mengatakan: “ Ketika Imam Khomaini tinggal di Iraq, kami bolak-balik berkunjung kepadanya. Kami menuntut ilmu darinya sehingga hubungan antara kami dengannya menjadi erat sekali. Suatu waktu disepakati untuk menuju suatu kota dalam rangka memenuhi undangan, yaitu kota yang terletak di sebelah barat Mosul, yang ditempuh kurang lebih satu setengah jam dengan perjalanan mobil. Imam Khomaini memintaku untuk pergi bersamanya, maka saya pergi bersamanya. Kami disambut dan dimuliakan dengan pemuliaan yang sangat luar biasa selama kami tinggal di salah satu keluarga Syiah yang tinggal di sana. Dia telah menyatakan janji setia untuk menyebarkan faham Syiah di wilayah tersebut.Ketika berakhir masa perjalanan, kami kembali. Di jalan saat kami pulang, kami melewati Baghdad dan Imam hendak beristirahat dari keletihan perjalanan. Maka dia memerintahkan untuk menuju daerah peristirahatan, di mana di sana tinggal seorang laki-laki asal Iran yang bernama Sayyid Shahib. Antara dia dan Imam terjalin hubungan persahabatan yang cukup kental.Sayyid Shahib merasa bahagia dengan kedatangan kami. Kami sampai ke rumahnya waktu dzuhur, maka dia membuatkan makan siang bagi kami dengan hidangan yang sangat luar biasa. Dia menghubungi beberapa kerabatnya dan mereka pun datang. Rumah menjadi ramai dalam rangka menyambut kedatangan kami. Sayyid Shahib meminta kami untuk menginap di rumahnya pada malam itu, maka imam pun menyetujuinya. Ketika datang waktu Isya dihidangkan kepada kami makan malam. Orang-orang yang hadir mencium tangan Imam dan menanyakan beberapa masalah dan Imam pun menjawabnya. Ketika tiba saatnya untuk tidur dan orang-orang yang hadir sudah pada pulang, kecuali tuan rumah, Imam Khomaini melihat anak perempuan yang masih kecil, umurnya sekitar empat atau lima tahun, tetapi dia sangat cantik. Imam meminta kepada bapaknya, yaitu Sayyid Shahib untuk menghadirkan anak itu kepadanya agar dia melakukan mut’ah dengannya. Maka si bapak menyetujuinya dan dia merasa sangat senang. Lalu Imam Khomaini tidur dan anak perempuan ada dalam pelukannya, sedangkan kami mendengar tangisan dan teriakannya..Yang penting, berlalulah malam itu. Ketika tiba waktu pagi kami duduk untuk menyantap makan pagi. Sang Imam melihat kepadaku dan di wajahku terlihat terlihat tanda-tanda ketidak sukaan dan pengingkaran yang sangat jelas, karena bagaimana dia melakukan mut’ah dengan anak yang masih kecil, padahal di dalam rumah terdapat gadis-gadis yang sudah baligh, yang mungkin baginya untuk melakukan mut’ah dengan salah satu diantara mereka, tetapi mengapa dia melakukan hal itu dengan anak kecil?Dia berkata kepadaku : “Sayyid Husain, apa pendapatmu tentang mut’ah dengan anak kecil?Saya berkata kepadanya : “Ucapan yang paling tinggi adalah ucapanmu, yang benar adalah perbuatanmu dan engkau adalah seorang Imam Mujtahid. Tidak mungkin bagiku untuk berpendapat atau mengatakan kecuali sesuai dengan pandapat dan perkataanmu. Perlu difahami bahwa tidak mungkin bagi saya untuk menentang fatwamu.”Dia berkata : “Sayyid Husain, sesungguhnya mut’ah dengan anak kecil itu hukumnya boleh, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman dan himpitan paha. Adapun jima, maka sesungguhnya dia belum kuat untuk melakukanya.Imam Khomaini berpendapat atas kebolehan melakukan mut’ah sekalipun dengan anak yang masih disusui. Dia berkata : “Tidak mengapa melakukan mut’ah dengan anak yang masih disusui dengan pelukan, himpitan paha dan ciuman.” (Lihat kitabnya yang berjudul Tahrir Al-Wasilah, 2/241 nomor 12).

    1. Anda tidak memiliki Kitab “Lillahi Tsumma Lil Tarikh” atau diterjemahkan di Indonesia “Kenapa Aku Meninggalkan Syi’ah”, karya Sayyid Husain Al-Musawi, baik versi arab maupun versi Indonesia
    2. Kitab Tahrir Wasilah oleh Imam Khomeini ditulis dalam bahasa Arab, sayangnya sampai saat ini belum ada terjemahan lengkap buku ini ke dalam bahasa Indonesia.
    (Sudah pasti anda tidak memilikinya).

    siapa Sayyid Husain Al-Musawi atau Dr Husain Al-Musawi, yang pengakuannya dalam bukunya adalah satu level dan satu generasi dgn Imam Khomeni.
    - Dia tidak dikenal oleh para Ulama Syi’ah baik di Qum dan Najaf atau di karbala tempat khauzah atau madrasah syi’ah.
    - terkadang dia mengaku satu Level ke ilmuan dgn Imam Khomeni, terkadang ia mengaku sebagai murid (ketidak jelasan status).
    - Dia hidup dan berhubungan langsung dgn Khomeni juga hidup dimasa Sayid Syarafudddin al musawi.
    - Dia menyebut gurunya berkali-kali dengan Imam Sayyid Muhammad Al Husain Kasyif Al Ghita padahal Muhammad Al Husain Kasyif Al Ghita seluruh ulama sunnah dan syiah di najaf tahu bahwa Muhammad Al Husain Kasyif Al Ghita bukan keturunan Nabi Muhammad jadi tidak dapat di panggil dengan kata “Sayyid” seharusnya dipanggil sebutan Syaikh atau Al Imam Kasyif Al Ghita.
    - Dalam buku cetakkan versi indonesia “Kenapa Aku Meninggalkan Syi’ah” ditulis nama pengarang Syaikh al-allamah Dr. Husein Al musawi. al musawi adalah salah satu klan dari keturunan Rasulullah “Sayyid” tapi penggunaan di dalam buku menggunakan “Syaikh”, kata sandang “Al” untuk allamah Dr. tidak dikenal dalam berbagai gelar keilmuan agama cukup allamah saja atau Doktor (Dr.) saja.

    kesimpulannya bahwa:
    1. anda tidak mempunyai ilmu utk membahas masalah ini, karena anda hanya tukang Copy Paste atau Corong Fitnah!
    2. Bahwa buku yg menjadi sumber Rujukkan anda (walaupun anda tidak memiliki) adalah isinya Fitnah dari kaum Wahabi yg ingin memprovokasi.
    3. Sayyid Husain Al-Musawi atau Syaikh al-allamah Dr. Husein Al musawi adalah sesosok Manusia Rekayasa yang diciptakan Kalangan Wahabi utk menyebar Fitnah seperti anda dengan menggunakan nama “PAHLAWAN BERTOPENG”.

    DEMIKIANLAH jawaban dari seorang teman Mazhab Syi’ah.

    • Saya tau koq arab saudi seperti yg anda blng,dan lebih parahnya lg mereka ingin menghilangkan jejak dan peninggalan Rasulullah di arab saudi. Saya cuma nanya mas dan tidak menggunakan napsu jg tp knp anda begitu sinis menanggapinya?biasa ajaa donk mas ilham ktnya islam cinta damai,hahahaha :D
      Eh anda malah menuduh saya tukang fitnah,saya tau ilmu anda lebih tinggi mas ilham tp saya kan cuma nanya kpd anda klo emank itu salah ya tolong diperbaiki lah mas,tidak usah menuduh saya seperti itu.kan Islam mengajarkan sperti itu klo salah harus ditegur dan diperbaiki apa anda tidak diajarkan di syiah seperti itu ;D?
      Apa anda yakin klo wahabi itu sesat?apa wahabi itu cuma sebutan saja kpd sheikh muhammad bin abdul wahab yg telah memurnikan tauhid,menyuruh menjauhi syirik, bid’ah dll?

      • @;pahlawan bertopeng.
        saya kutip pernyataan anda “khomeini terlalu diagung2kan pula di iran melebihi Rasulullah”. kira2 kata apa yg pantas utk kalimat ini? Fitnah atau Tuduhan tidak berdasar? setali tiga uang kan !!!
        - Kalau anda memang pernah ke Iran atau setidaknya berkawan dgn seorang Syi’ah adakah dua kaliamat syahadat yg anda dengar dari mereka bahwa “Khomeni Rasulullah” menggantikan “Muhammad Rasulullah”? kalau ini memang anda pernah dengar maka tuduhan anda berdasar, tapi kalau hal ini tidak ada maka kata yang tepat untuknya adalah tidak lain “FITNAH”. -Mengapa anda boleh menuduh orang (di depan umum) sedangkan ketika tuduhan anda itu tidak terbukti anda tidak terima pernyataan ini dibalikkan kepada anda! apakah ini ciri khas Wahabi yang selalu men-Takfir- selain sektenya?
        DEMIKIANLAH jawaban dari seorang teman Mazhab Syi’ah.

        - Kalau masalah sekte Wahabi yg dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab bahwa akal fikiran saya menolak baik dari Tauhid kepada Allah Swt dan Muammalah mereka, namun saya tidak mengatakan SESAT tapi mendekati itu.

      • saya mengatakan apa yg saya liat koq mas dan itu fakta,hari sabtu tanggal 3 Juni 1989 di kota tehran dengan beringasnya jasad khomeini diusik,kain kafanya ditarik dan ambil oleh jutaan manusia yg bgtu memujanya hingga memperlihatkan auratnya yg selama ini selalu dijaga khomeini.mereka beranggapan kain kapan khomeini bs memberi keberkatan kepada kehidupan mereka. apakah itu tidak berlebihan mas?tau kah anda doa Sanamai al-quraisyin?pst tauu donk ,hehehehe…:D

  13. oh…. itu maksud ente pahlawan bertopeng.
    1. ana tidak lihat ente di kota TEhran pada tanggal yg ente sebutkan, ente pasti nonton di Youtube ya “Allah menghinakan Khomeni seewaktu KEmatian” yang di film itu dipotong utk menunjukkan kebodohan orang Syiah pengrusakan terhadap jasad Imam Khomeni yg durasinya kurang leaabih 2 menit termasuk komentar dlm bahasa inggris.
    2. Peng (lebih singkat dan enak manggil ente), saya sarankan ente cari versi lengkap video meninggalnya Imam Khomeni yg durasinya kurang lebih 60 menit biar ente tidak tidak “asal komen”/ apalah namanya.
    3. Kalau ente sudah lihat versi full video tersebut ente pasti bingung mungkin tidak ulama sekte wahabi kalau wafatnya di hadiri jutaan ribu pelayat yg memenuhi kota tehran, dan ini menjadi sejarah di era modern orang berkabung terbesar dalam meninggalnya seseorang.
    4. Peng, itu bukti bahwa pemimpin mereka dicintai dan mencintai rakyatnya, mengapa sampai demikian:
    – karena ketakwaan, kezuhudan, keilmuan, kewaraan, serta kepemimpinan yg adil mengapa demikian karena kecintaan beliau (Imam Khomeni) kepada Muhammad Rasulullah SAWW dan Keluarga Suci Nabi SAWW sebagai pedoman hidup beliau.
    5. Peng, yg ente lihat Mayat yg dikeranda itu boneka, imam Khomeni Jasadnya diterbangkan dengan Helikopter ke pemakaman. Apakah mereka tidak tahu itu boneka yg mereka rebutkan. mereka tahu bahwa itu sebuah duplikat palsu jasad Imam Khomeni maka mereka lakukan seperti itu sebagai apreasiasi atas kecintaan kepada sang Pemimpin.

    !!!! lain kali Peng, anda pelajari dulu berita apapun yang sampai pada ente dgn seksama kebenarannya, teliti dan teliti jangan karena kabencian dan hati yg hasut membutakan mata hati dan pikiran jernih ente. agar supaya ente tdk dibilang asal komen, tuduhan tidak berdasar atau fitnah.

    ayo Peng, semangat !!! mana lagi komen-komen ente ana tunggu tapi yg berbobot, yg mempunyai nilai keilmuan, tentang Ketuhanan atau Kenabian. oya Peng, dengar-dengar Tuhan Ente ada di atas langit, benar tu Peng, sedang apa Tuhan ente di atas langit, baca koran atau lagi Absen Malaikat?

    • Mknya saya blng kpd anda klo rakyat iran memuja khomeini melebihi Rasulullah,apakah apresiasi sperti itu yg diajarkan oleh khomeini kpd umatnya?
      Tuhan dan agama saya sama seperti anda tp ideologi yg membedakan,jika anda bertanya tuhan saya diatas langit saya cuma blng tuhan saya ada di mana2 setiap saya menapakan kaki disitu ada tuhan saya dan tuhan saya selalu ada di setiap aliran darah saya :).klo boleh tau tuhan anda seperti ya suka baca koran dan absenin malaikat?hahahaha:D

      • *sepertinya pemahaman ente belum sampe utk maslah ini.
        “setiap saya menapakan kaki disitu ada tuhan saya” maksud ente peng, jejak kaki ente itu tuhan atau tuhan meninggalkan bekas dijejak kaki ente atau tuhan mengikuti langkah ente, jadi kalau ente ke (ma’af) ke WC Tuhan ente juga Ikut? kalau ente berbuat salah Tuhan ente juga ikut?
        “tuhan saya selalu ada di setiap aliran darah saya” wah bahaya ini kalau ente luka tuhan ente juga terluka. kalau ente lagi bercumbu dengan istri ente tuhan ente juga ikut, gitu ya peng?
        sepertinya agama kita beda tu peng? Tuhan saya dengan tuhan ente lain peng, Tuhan saya kagak gitu peng. Maha Suci Tuhan dari persangkaan manusia.

  14. @penjahat bertopeng.
    akhirnya terbuka topeng anda, Serigala berbulu Domba. mengaku Pahlawan tapi memakai topeng ternyata topeng yg anda pakai adalah menutupi siapa anda sebenarnya. jangan2 anda Yahudi berkedok Islam. yang tujuan anda adalah mengeruhkan dan membuat porak poranda persatuan islam. Untung Allah swt membuka siapa anda sebenarnya, dengan kelemahan moral dan kesempitan cara berfikir serta minimnya pengetahuan nilai-nilai agama anda yang mencerminkan anda bukan seorang yg layak menyandang agama yg benar (Islam).
    Pengetahuan agama anda hanya sebatas TAKFIR !!!!!

    Perlu anda dan anda semua ketahui bahwa Agama Islam hanya dibagi dua mana yang asli tergantung anda dalam mengambil pelajaran darinya.
    1. Agama Islam yg dibawa Muhammad Rasulullah SAWW dengan diteruskan kepada keturunannya (keluarga Suci Nabi SAWW).
    a t a u
    2. Agama Islam yang dibawa oleh Muawiyah bin Abu Sufyan dan diteruskan oleh anaknya Yazid bin Muawiyah (keluarga Umayah).

    sekarang pilihan tergantung anda, Islam yang mana yang anda pilih. Tidak ada diantara keduanya, pasti pilihan akan condong kesalah satu pihak.
    ………………………………S e k i a n……………………………………………….

    • Tiada lain yg membenci dan memusuhi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah dari Syi’ah….mengaku mencintai ahlul bayt, tetapi justru merekalah musuh2 ahlul bayt….itulah turunan dari Abdullah bin Saba bin yahudi, bertgaqiyyah adalah kelakuan mereka…..heheheeh

    • @iLHAM
      Antum sudah menguraikan berbagai macam dalil untuk menghinakan sahabat terutama Umar r.a, bahkan antum mengambil dalil dari Kitab2 para Imam Ahli Sunnah

      Tapi menurut saya antum juga pasti tahu kan tentang hadist 2 shohih mengenai keutamaan para sahabat, keutamaan Umar, Abu Bakar dll. Itu banyak terdapat dalam Kitab2 Hadist Imam2 kami ahlul Sunnah. Saya tanyakan kepada antum, apakah antum berani mengambil hadist2 keutamaan sahabat tersebut ?

      Mungkin antum akan “ngeles” dengan perkataan, tidak semua hadist 2 (seperti dalam Kitab Bukhori, Muslim dll) yang dapat dipercaya berasal dari Rosululloh SAW. Antum akan berkata Hadist2 tersebut perlu diteliti lebih lanjut dan dibandingkan dulu dengan tolak ukur Al-Qur’an.

      Yah, dengan kata lain, antum mengatakan Imam2 hadist Ahlul Sunnah tidak berkompeten dan tidak memahami Al-Qur’an dengan segala persyaratannya untuk menjadi seorang mujtahid dan Mufasir. Tidak demikian dengan Imam2 siah, yang sudah pasti menurut antum harus diyakini dan ditaati.

      Tentu saja kitab2 dari imam2 syiah sangat antum yakini seperti kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih. Bahkan kalau saya tidak salah, Al Kafi adalah setingkat Shohih Bukhori bagi kami ahlul Sunnah.

      Kalau antum tidak berkeberatan, maukah antum membagi kami para ahlul sunnah kitab2 tersebut ? Jiaklau memang kitab2 tersebut sangat shohih dan mengandung ilmu yang sangat dalam, kenapa tidak disebarkan ? Bukankah menyembunyikan ilmu itu termasuk dosa ? Kalau antum bersedia membagi kami atau menunjukkan dimana kami bisa mendapatkan kitab2 tersebut, kami sangat berbesar hati. Hubungi saya di abdulloh114@gmail.com .

      Tapi kalau antum sendiri belum pernah membaca kitab2 shohih syiah tersebut, lebih baik antum janagn sok tahu dengan kitab2 kami ahlul sunnah.

      Oh ya satu lagi, saya juga minta mushaf Fatimah, kalau kitab itu bukan rahasia, tolong dibagi kepada kami.

  15. Sekedar untuk memudahkan pemahaman bagi saudara-saudara seiman, secara ringkas kami ingin menyampaikan sebagian dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban mengikuti sahabat dalam beragama.

    DALIL DARI AL QUR’AN
    Allah berfirman dalam Al Qur’an:

    فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah:137].

    Nadhir bin Sa’id Alu Mubarak berkata: “Allah Yang Maha Suci telah menjadikan keimanan, sebagaimana keimanan sahabat dari seluruh sisi, sebagai tempat bergantung petunjuk dan keselamatan dari maksiat dan memusuhi Allah. Maka, jika manusia beriman dengan sifat ini, dan mengikuti teladan jalan sahabat, berarti dia mendapatkan petunjuk menetapi kebenaran. Jika mereka berpaling dari jalan dan pemahaman sahabat, maka mereka berada di dalam perpecahan, permusuhan dan kemaksiatan kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah Maha mendengar terhadap pengakuan manusia, bahwa mereka beraqidah dan bermanhaj Salafi, Dia mengetahui hakikat urusan mereka. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui. [Diringkas dari kitab Al Mirqah Fii Nahjis Salaf Sabilin Najah, hlm. 35-36].

    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

    Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.. [Ali Imran:110].

    Syaikh Salim Al Hilali berkata: “Allah telah menetapkan keutamaan untuk para sahabat di atas seluruh umat. Ini berarti, mereka istiqomah (berada di atas jalan lurus) dalam segala keadaan; karena mereka tidak pernah menyimpang dari jalan yang terang. Allah telah menyaksikan telah menjadi saksi untuk mereka, bahwa mereka menyuruh kepada seluruh yang ma’ruf dan mencegah dari seluruh yang munkar. Hal itu mengharuskan menunjukkan bahwa pemahaman mereka merupakan argumen terhadap orang-orang setelah mereka”. [Limadza Ikhtartu Manhajas Salafi, hlm. 86].

    وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

    Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An Nisa’:115].

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” Lihat Majmu’ Fatawa (7/38)
    Pada saat ayat ini turun, belum ada umat Islam selain mereka, kecuali para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Merekalah orang-orang mu’min yang pertama-tama dimaksudkan ayat ini. Sehingga wajib bagi generasi setelah sahabat mengikuti jalan para sahabat Nabi.

    وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].

    Lihatlah, Allah menyediakan surga-surga bagi dua golongan. Pertama, golongan sahabat. Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah Salafush Shalih generasi sahabat. Kedua, orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik.

    Jika demikian, maka seluruh umat Islam, generasi setelah sahabat wajib mengikuti para sahabat dalam beragama, sehingga meraih janji Allah di atas. Jika orang-orang Islam yang datang setelah para sahabat enggan mengikuti jalan mereka, siapa yang akan mereka ikuti? Jika bukan para sahabat, tentunya yang mereka adalah Ahli Bid’ah!

    Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata: “Sisi penunjukan dalil (wajibnya mengikuti sahabat), karena sesungguhnya Allah Ta’ala memuji orang yang mengikuti mereka. Jika seseorang mengatakan satu perkataan, lalu ada yang mengikutinya sebelum mengetahui dalilnya, dia adalah orang yang mengikuti sahabat. Dia menjadi terpuji dengan itu, dan berhak mendapatkan ridha (Allah), walaupun dia mengikuti sahabat semata-mata dengan taqlid”. [2].

    DALIL DARI AS SUNNAH
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

    Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in). [Hadits mutawatir, riwayat Bukhari dan lainnya].

    Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi Beliau secara mutlak. Itu mengharuskan (untuk) mendahulukan mereka dalam seluruh masalah (berkaitan dengan) masalah-masalah kebaikan”. [3].

    Para sahabat adalah manusia terbaik, karena mereka merupakan murid-murid Rasulullah n . Dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya, mereka lebih memahami Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka menghadiri turunnya Al Qur’an, mengetahui sebab-sebab turunnya. Dan mereka, juga bertanya kepada Rasulullah n tentang ayat yang sulit mereka fahami.

    Al Qur’an juga turun untuk menjawab pertanyaan mereka, memberikan jalan keluar problem yang mereka hadapi, dan mengikuti kehidupan mereka yang umum maupun yang khusus. Mereka juga sebagai orang-orang yang paling mengetahui bahasa Al Qur’an, karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Dengan demikian, mengikuti pemahaman mereka merupakan hujjah terhadap generasi setelahnya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. [HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad, dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah].

    Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan sunnah (jalan, ajaran) para khalifah Beliau dengan Sunnahnya. Beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah, sebagaimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti Sunnahnya. Dalam memerintahkan hal itu, Beliau bersungguh-sungguh, sampai-sampai memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang para khalifah fatwakan dan mereka sunnahkan (tetapkan) bagi umat, walaupun tidak datang keterangan dari Nabi, namun hal itu dianggap sebagai sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dengan yang difatwakan oleh keseluruhan mereka atau mayoritas mereka, atau sebagian mereka. Karena Beliau mensyaratkan hal itu dengan yang menjadi ketetapan Al Khulafa’ur Rasyidun. Dan telah diketahui, bahwa mereka tidaklah mensunnahkannya ketika mereka menjadi kholifah pada waktu yang sama, dengan demikian diketahui bahwa apa yang disunnahkan tiap-tiap seorang dari mereka pada waktunya, maka itu termasuk sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin”. [4].

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

    Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.” [5].

    Ketika menjelaskan hubungan hadits ke-3 dengan hadits ke-2 ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,”Barangsiapa yang memperhatikan dua hadits itu, ia pasti mendapatkan keduanya membicarakan tentang satu masalah. Dan solusinya sama, yaitu jalan keselamatan, kekuatan kehidupan, ketika umat (Islam) menjadi jalan yang berbeda-beda, maka pemahaman yang haq adalah apa yang ada pada Nabi n dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum“[6]

    DIANTARA PERKATAAN SAHABAT DAN ULAMA ISLAM
    1. Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘anhu. Dia membantah orang-orang yang menanti shalat dengan membuat halaqah-halaqah (kumpulan orang-orang yang duduk melingkar) untuk berdzikir bersama-sama dengan menggunakan kerikil dan dipimpin satu orang dari mereka.

    Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

    وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

    Celaka kamu, wahai umat Muhammad. Alangkah cepatnya kebinasaan kamu! Mereka ini, para sahabat Rasulullah masih banyak, ini pakaian-pakaian Beliau belum usang, dan bejana-bejana Beliau belum pecah. Demi Allah Yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya kamu berada di atas suatu agama yang lebih benar daripada agama Muhammad, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan. [HR Darimi, dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Al Bid’ah Wa Atsaruha As Sayi’ Fil Ummah, hlm. 44].

    Syaikh Salim Al Hilali berkata: Abdullah bin Mas’ud telah berhujjah terhadap calon-calon Khawarij dengan adanya para sahabat Rasulullah diantara mereka. Dan sesungguhnya para sahabat tidak melakukan perbuatan mereka. Maka jika perbuatan mereka calon-calon Khawarij itu baik -sebagaimana anggapan mereka- pasti para sahabat Nabi n telah mendahului melakukannya. Maka, ketika para sahabat tidak melakukannya, berarti itu adalah kesesatan. Seandainya manhaj (jalan) sahabat bukanlah hujjah atas orang-orang setelah para sahabat, tentulah mereka (orang-orang yang berhalaqoh itu) mengatakan kepada Abdulloh bin Mas’ud: “Kamu laki-laki, kamipun laki-laki!” [Limadza, hal: 100]

    Abdullah bin Mas’ud juga pernah berkata: “Sesungguhnya kami meneladani, kami tidak memulai. Kami mengikuti (ittiba’), kami tidak membuat bid’ah. Kami tidak akan sesat selama berpegang kepada atsar (riwayat dari Nabi dan sahabatnya, Pen.)”. [7]

    2. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, berkata kepada orang-orang Khawarij:

    أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَ مِنْ عِنْدِ ابْنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ صِهْرِهِ وَعَلَيِهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ, فَهُمْ أَعْلَمُ بِتَأْوِيْلِهِ مِنْكُمْ, وَ لَيْسَ فِيْكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ

    Aku datang kepada kamu dari sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan dari anak paman Nabi dan menantu Beliau (yakni Ali bin Abi Thalib). Al Qur’an turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan diantara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi. [Riwayat Abdurrazaq di dalam Al Mushonnaf, no. 18678, dan lain-lain. Lihat Limadza, hlm. 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf, hlm. 95-100. Keduanya karya Syaikh Salim Al Hilali].

    3. Abul ‘Aliyah rahimahullah, ia berkata:

    تَعَلَّمُوْا اْلإِسْلاَمَ فَإِذَا تَعَلَّمْتُمُوْهُ فَلاَ تَرْغَبُوْا عَنْهُ وَ عَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَإِنَّهُ اْلإِسْلاَمُ وَلاَ تُحَرِّفُوْا اْلإِسْلاَمَ يَمِْينًا وَلاَ شِمَالاً وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ وَالَّذِيْ عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ. وَ إِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الْأَهْوَاءَ الَّتِيْ تُلْقِي بَيْنَ النَّاسِ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ

    Pelajarilah Islam! Jika engkau mempelajarinya, janganlah kamu membencinya. Hendaklah engkau meniti shirathal mustaqim (jalan yang lurus), yaitu Islam. Janganlah engkau belokkan Islam ke kanan atau ke kiri. Dan hendaklah engkau mengikuti Sunnah Nabimu dan yang dilakukan oleh para sahabatnya. Dan jauhilah hawa nafsu-hawa nafsu ini (yakni bid’ah-bid’ah) yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antar manusia. [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 34, no. 5].

    4. Muhammad bin Sirin rahimahullah, ia berkata:

    كَانُوْا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ عَلَى الطَّرِيْقِ مَا كَانُوْا عَلَى الْأَثَرِ

    Orang-orang dahulu mengatakan, sesungguhnya mereka (berada) di atas jalan (yang lurus) selama mereka meniti atsar (riwayat Salafush Shalih). [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 36].

    5. Al Auza’i rahimahullah, ia berkata:

    اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ , وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ , وَقُلْ بِمَا قَالُوْا وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوْا عَنْهُ , وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَالِحِ فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسَعَهُمْ

    Sabarkanlah dirimu (berada) di atas Sunnah. Berhentilah di tempat orang-orang itu (Ahlus Sunnah, Salafush Shalih) berhenti. Katakanlah apa yang mereka katakan. Diamlah apa yang mereka diam. Dan tempuhlah jalan Salaf (para pendahulu)mu yang shalih, karena sesungguhnya akan melonggarkanmu apa yang telah melonggarkan mereka. [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56; Al Ajuri di dalam Asy Syari’ah, hlm. 58; Limadza, hlm. 104].

    Dalam membantah bid’ah, Al Auza’i rahimahullah juga menyatakan: Seandainya bid’ah ini baik, pasti tidak dikhususkan kepada engkau tanpa (didahului) orang-orang sebelummu. Karena sesungguhnya, tidaklah ada kebaikan apapun yang disimpan untukmu karena keutamaan yang ada pada kamu tanpa (keutamaan) mereka (Salafus Shalih). Karena mereka adalah sahabat-sahabat NabiNya, yang Allah telah memilih mereka. Dia mengutus NabiNya di kalangan mereka. Dan Dia mensifati mereka dengan firmanNya.

    مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا

    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. [Al Fath: 29] [8].

    6. Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:

    آخُذُ بِكِتَابِ اللهِ, فَمَا لَمْ أَجِدْ فَسُّنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَإِنْ لَمْ أَجِدْ فِي كِتَابِ اللهِ وَلاَ سُّنَّةِ رَسُولِهِ آخُذُ بِقَوْلِ أَصْحَابِهِ, آخُذُ بِقَوْلِ مَنْ شِئْتُ مِنْهُمْ وَأَدَعُ قَوْلَ مَنْ شِئْتُ, وَلاَ أَخْرُجُ مِنْ قَوْلِهِمْ إِلَى قَوْلِ غَيْرِهِمْ

    Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki diantara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka. [Riwayat Ibnu Ma’in dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim].

    7. Imam Malik bin Anas rahimahullah.
    Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik t berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat. [9]

    8. Imam Syafi’i rahimahullah, berkata:

    مَا كَانَ الْكِتَابُ أَوِ السُّنَّةُ مَوْجُوْدَيْنِ , فَالْعُذْرُ عَلَى مَنْ سَمِعَهُمَا مَقْطُوْعٌ إِلاَّ بِاتِّبَاعِهِمَا, فَإِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ صِرْنَا إَلَى أَقَاوِيْلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَحِدٍ مِنْهُمْ

    Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka. [10].

    9. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ia berkata:

    عَلَى أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَّسُولِ اللهِ وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ , وَ تَرْكُ الْبِدَعِ, وَ كُلُّ بِدْعّةٍ ضَلاَلَةٍ…

    Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah n berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah. Dan seluruh bid’ah merupakan kesesatan … [Riwayat Al Lalikai; Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 57-58].

    Demikianlah penjelasan singkat mengenai kewajiban yang harus ditempuh oleh kaum Muslimin. Bahwa meniti jalan Salafush Shalih merupakan kebenaran. Sehingga jalan-jalan lainnya merupakan kesesatan. Bukankah selain kebenaran kecuali kesesatan?

    Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita di atas jalanNya yang lurus, mengikuti Al Kitab, As Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
    _______
    Footnote
    [1]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388-409), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422H/2002M
    [2]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388), Penerbit: Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H/2002M.
    [3]. I’lamul Muwaqqi’in (2/398), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002M.
    [4]. I’lamul Muwaqqi’in (2/400-401), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002M.
    [5]. Tirmidzi, no. 2565; Al Hakim, Ibnu Wadhdhah, dan lainnya; dari Abdullah bin’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali di dalam Nash-hul Ummah, hlm. 24.
    [6]. Limadza, hlm. 76.
    [7]. Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 35.
    [8]. Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56-57
    [9]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388), karya Ibnul Qoyyim
    [10]. Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36 dan Manhaj Imam Asy Syafi’i Fi Itsbatil Aqidah (1/129), karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil.

  16. Yaa Alloh yg maha maha tahu atas segala sesuatu haq serta bathil hamba berharap,hamba memohon petunjuk dan pertolonganmu agar hamba menjadi sebenar-benarnya mahkluq yang sesuai qodrat hamba sebagai mahkluq,jangan Engkau sesatkan dan jangan menyesatkan karena kebodohan hamba dalam agama Mu.Amiin

  17. @iLHAM
    Antum sudah menguraikan berbagai macam dalil untuk menghinakan sahabat terutama Umar r.a, bahkan antum mengambil dalil dari Kitab2 para Imam Ahli Sunnah

    Tapi menurut saya antum juga pasti tahu kan tentang hadist 2 shohih mengenai keutamaan para sahabat, keutamaan Umar, Abu Bakar dll. Itu banyak terdapat dalam Kitab2 Hadist Imam2 kami ahlul Sunnah. Saya tanyakan kepada antum, apakah antum berani mengambil hadist2 keutamaan sahabat tersebut ?

    Mungkin antum akan “ngeles” dengan perkataan, tidak semua hadist 2 (seperti dalam Kitab Bukhori, Muslim dll) yang dapat dipercaya berasal dari Rosululloh SAW. Antum akan berkata Hadist2 tersebut perlu diteliti lebih lanjut dan dibandingkan dulu dengan tolak ukur Al-Qur’an.

    Yah, dengan kata lain, antum mengatakan Imam2 hadist Ahlul Sunnah tidak berkompeten dan tidak memahami Al-Qur’an dengan segala persyaratannya untuk menjadi seorang mujtahid dan Mufasir. Tidak demikian dengan Imam2 siah, yang sudah pasti menurut antum harus diyakini dan ditaati.

    Tentu saja kitab2 dari imam2 syiah sangat antum yakini seperti kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih. Bahkan kalau saya tidak salah, Al Kafi adalah setingkat Shohih Bukhori bagi kami ahlul Sunnah.

    Kalau antum tidak berkeberatan, maukah antum membagi kami para ahlul sunnah kitab2 tersebut ? Jiaklau memang kitab2 tersebut sangat shohih dan mengandung ilmu yang sangat dalam, kenapa tidak disebarkan ? Bukankah menyembunyikan ilmu itu termasuk dosa ? Kalau antum bersedia membagi kami atau menunjukkan dimana kami bisa mendapatkan kitab2 tersebut, kami sangat berbesar hati. Hubungi saya di abdulloh114@gmail.com .

    Tapi kalau antum sendiri belum pernah membaca kitab2 shohih syiah tersebut, lebih baik antum janagn sok tahu dengan kitab2 kami ahlul sunnah.

    Oh ya satu lagi, saya juga minta mushaf Fatimah, kalau kitab itu bukan rahasia, tolong dibagi kepada kami.

  18. buat bro ilham : orang berilmu cerdas itu bisa ngejelasin cara membuat pesawat tempur kayak ngejelasin cara bikin omelet

    btw ilham bro ato sis neh (maksuda jantan ato betina ente ham) wkwk, dah comment panjang lebar seenggaknya cantumin identitas ==”

    Riezky Kautsar
    Pasca Sarjana Fakultas Peternakan
    Intistut Pertanian Bogor
    2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s